Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

Posts Tagged ‘Film Laga’

BENNY G RAHARDJA & ELLY ERMAWATI DALAM FILM “DJAGO”

Posted by jejakandromeda on February 21, 2011

JUDUL FILM        : DJAGO

SUTRADARA       : ABDI WIYONO

PRODUSER          : HATOEK S

CERITA                  : EMIER ABAY

PRODUKSI           : PT. ELANG PERKASA  FILM

TAHUN PROD    : 1990

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : BENNY G RAHARDJA, AYU LESTARI, ELLY ERMAWATI, KIES SLAMET, ABDI WIYONO

SINOPSIS :

Djago (Benny G Rahardja) sedang mampir ke desa Karang Sari di sebuah warung milik Ki Jarot yang di jaga bersama putrinya Witri (Elly Ermawati). Ketika sedang menikmati makanan, tiba-tiba terjadi kekacauan yang dilakukan oleh orang-orang Bomasari (Kies Slamet). Perkelahianpun terjadi, Ki Jarot bersama Witri berhasil melumpuhkan orang-orang yang berbuat kekacauan. Djago pun meski sambil makan, akan tetapi membantu untuk mengusir pengacau. Setelah biang kekacauan pergi, maka Ki Jarot menghampiri Djago yang baru turun dari lereng gunung merapi.  Maka tahulah Djago apa yang terjadi di desa Karang Sari yang sedang terjadi kekacauan akibat pecahnya dua perusahaan arak yang berebut pasaran antara Singosastro dan Bomasari.

Malamnya, rumah Ki Jarot kembali di satroni oleh orang-orang Bomasari. Ki Jarot berhasil menangkap salah seorang pengacau, namun Ki Jarot juga mengejar para pengacau yangmasih bersembunyi. Akhirnya Ki Jarot terbunuh akibat kelicikan yang dilakukan oleh Bomasari.

Dalam upacara pemakaman yang dilakukan oleh Witri anak perempuan Ki Jarot, Ki Lurah dan Singosastro ikut datang untuk melayat.  Singosastro mengenalkan akannya Srini (Ayu lestari ) pada Djago yang langsung jatuh pada pandangan pertama.  Witri setelah ditinggal oleh ayahnya akhirnya meminta Djago untuk mengajari ilmu silat. Keduanya pun akhirnya sering berlatih dibawah air terjun. Sedang Srini dan Djago akhirnya saling jatuh hati.

*****

Bomasari bermaskud memperistri anak Singosastro, Srini. Hal ini tentu saja di tolak. Akhirnya untuk mewujudkannya Bomasari menyewa Dukun Sardullah yang terkenal Sakti mandraguna untuk melancarkan aksinya. Dengan di bantu oleh pengawal sekaligus anak angkatnya, Dukun Sardullah menyuruh Bardan untuk menyelidiki rumah Singosastro pada suatu malam. Dengan serbuk yang di bekali oleh Dukun Sardullah, Bardan berhasil menyelinap kerumah Singosastro. Ia berhasil mengetahui seluk beluk rumah Singosastro. Namun sayang meski pengawal singosastro telah tertidur pulas akibat serbuk yang dibawanya , Bardan akhirnya ketahuan juga setelah ia menjatuhkan benda ketika sedang terpana akan kemolekan tubuh Srini yang sedang tertidur pulas.

Bardan ditangkap. Anak buah Singosastro berusaha untuk mengorek siapa Bardan sebenarnya, namun sayang tidak berhasil, karena Bardan tetap membisu. Akhirnya Bardan berhasil lolos setelah serbuk yang dibawanya terjatuh setelah direbut oleh anak buah Singosastro, yang akhirnya tertidur. Bardan disambut marah oleh Bomasuro. Namun hal ini berhasil dilerai oleh Dukun Sardullah, karena Bomasari tidak berhak untuk memarahinya.

Akhirnya setelah mengetahui seluk beluk rumah Singosastro, maka Bomasari beserta Dukun Sardullah pergi ke rumah Singosastro untuk menggempurnya. Pertarungan yang tidak terdugapun terjadi, Singosastro terluka, Srini berhasil di bawa kabur oleh Bomasaru ke Jurangjero tempat Dukun Sardullah bersarang.

Mendengar rumah Singosastro diserang maka segera Djago pergi kerumah Singosastro dan berhasil menangkap anak buah Bomasari yang memberitahukan keberadaan Srini. Setelah bertarung dengan Bomasari, Djago tidak mampu melawannya dan terluka parah. Djago akhirnya dibuang kejurang oleh Bardan. Namun nyawa Djago berhasil diselamatkan oleh gurunya. Gagak Pamungkas guru Djago juga menceritakan siapa ayah Djago sebenarnya yang juga pengikut pangeran DIponegoro namun di Jebak oleh Bomasuro hingga tewas. Djago kembali berlatih  dan diajarkan ilmu kanuragan oleh gurunya.

*****

Pertarungan antara Bomasuro dan Singosastro tidak dapat di hindarkan. Kedua kubu akhirnya pun bertarung. Kubu Singosastro terdesak, namun disaat itu muncullah Witri dan Juga Djago yang membantu Singosastro. Sementara itu Bomasuro akhirnya terkecoh oleh Bardan yang membawa Srini sebagai tawanan justru menyerahkannya pada Djago bukan pada Bomasuro.

Djago akhirnya berhasil menuntut kematian kedua orangtuanya dengan dibantu oleh Witri.

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

YAN BASTIAN DALAM FILM ” SERULING NAGA SAKTI”

Posted by jejakandromeda on January 17, 2011

Seruling Naga Sakti

JUDUL FILM        :SERULING NAGA SAKTI

SUTRADARA       : DASRI YACOB

PRODUKSI           : PT  CANCER MAS FILM

CERITA                  : YURI SING

SKENARIO           : YURI SING

PRODUSER          : TIEN ALI

TAHUN PROD    : 1989

PEMAIN               : YAN BASTIAN, ESSIE LOUSIANA, CHAIRIL JM, JAMAL JENTAK, SYAIFUL NAZAR, TANAKA, JOHNY ANWAR, INTAN FULI

SINOPSIS :

Permadi dan Singo Gledek pada awalnya adalah dua orang sahabat dalam satu perguruan, namun akhirnya keduanya bermusuhan. Singo Gledek akhirnya mencari guru lain yang juga bermusuhan dengan guru Permadi.  Di dalam perguruan, Permadi harus berbagi cinta dengan Citro dan Santi. Tidak berapa lama datanglah Ling Ling Wei cucu dari Lie Bun Ho yang ingin berguru paa Tanjung Seto, guru Permadi. Kedatangan Ling Ling Wei membuat iri Citro dan Santi, apalagi kedekatan Ling Ling Wei dengan Permadi yang selalu menunjukkan kemesraan menyebabkan Citro Cemburu.

Ling Ling Wei adalah seorang calon istri dari tumenggung Trenggono (Yan Bastian), seorang Temenggung yang gila wanita. Dalam sebuah perjalanan, mampirlah Tumenggung Trengganu ke sebuah desa dan menyaksikan seorang wanita sedang di perkosa. Ia menolong wanita tersebut yang ternyata adalah adik iparnya Larasati yang merupakan istri dari adik kandungnya Seto Prasetyo. Namun dasar laki-laki yang gila wanita, meski Larasati adalah istri dari adiknya, namun Tumenggung Trengganu menggaulinya dan menyelingkuhinya.  Dalam perjalanan tersebut juga akhirnya Tumenggung Trengganu mengetahui kemana Ling Ling Wei pergi.  Ia bermaksud mengobrak abrik perguruan tanjung Seto.

Sementara itu Singo Gledek berhasil memperdaya Permadi setelah akhirnya ia membunuh Ling Ling Wei. Singo Gledek menghembuskan isu kalau Permadilah yang membunuh Ling Ling Wei setelah sebelumnya memperkosanya. Permadi marah, namun tidak dapat mengejar Singo Gledek yang segera menemui Tumenggung Trenggono yang sedang mencari kemana Ling Ling pergi. Singo Gledek menuduh kalau Permadilah yang telah membunuh Ling Ling. Trengganu marah dan menyuruh Singo Gledek untuk menangkap permadi dengan di bantu oleh beberapa anak buahnya. Di perguruan, Permadi pun akhirnya di usir oleh gurunya dengan dibantu oleh Citro dan Santi.  Permadi dapat di tangkap oleh Singo Gledek dan di hadapkan ada Trengganu.

Suatu malam, Trenggono mendengar seruling yang ditiup, yang ternyata adalah Seruling Naga Sakti, lambang kesempurnaan ilmu Silat yang banyak dicari orang. Ia menduka Seruling Naga Sakti di pegang oleh adiknya yang bongkok bernama Seto Mandrawa. Untuk merebut Seruling Naga Sakti, maka diadakanlah sayembara untuk mencari jagoan yang akan di tugaskan untuk mencari Seruling Naga Sakti dengan imbalan yang cukup tinggi.  Maka berdatanganlah jagoan-jagoan dari berbagai penjuru untuk mengikuti sayembara. Sayembara di mulai dengan diikuti oleh jago-jago yang memiliki kemampuan ilmu silat yang cukup tinggi.  Korban berjatuhan, dan yang tersisa adalah Singo Gledek yang menjadi pemenang.

Malam harinya untuk menambah kekuatan Trengganu, ia menyuruh untuk mengumpulkan darah-darah jagoan dan membakar mayatnya. Darah para jagoan diminum, sedangkan maytnya di bakar. Namun ketika upacara berlangsung, tipa-tiba Trengganu menyaksikan pemandangan yagn tidak diinginkan. Ia melihat kalau Singo Gledek sedang menggauli perempuan India bawaan Trenggono. Trenggono marah, keduanya bertarung.  Namun disaat sedang bertarung, guru Singo Gledek datang menolongnya. Sementara itu, setelah melihat Permadi yang diikat di tempat tersebut, Guru Singo Gledek menginginkan untuk menjajal kemampuannya. Namun sebelum keinginannya terwujud, ia sudah terbunuh terlebih dahulu oleh Trenggono.  Demikian juga dengan Singo Gledek.

Sementara itu ketika Permadi mau di bunuh oleh Trenggono, datanglah Santi, kekasihnya yang ingin menolongnya. Permadi di bakar hingga separuh wajahnya menjadi rusak. Namun sayang pertolongannya tidak ada artinya, ia ditangkap oleh Trenggono dan akan di jadikan istrinya.  Akhirnya ayah Santi yang juga guru Permadi, Tanjung Seto pun datang untuk membebaskan Santi. Namun sayang Sekali, Tanjung Seto pun akhirnya harus menemui ajalnya setelah dipaksa bertarung dengan Permadi, meski tidak secara langsung kalau Permadi yang membunuhnya.

Sedangkan Trenggono akhirnya tewas oleh Seruling Naga Sakti yang berubah menjadi naga setelah di pegang dan menggigitnya, bersamaan dengan kemunculan si Bongkok alias Seto Mandrawa adik dari Trenggono. Trenggono telah di hancurkan oleh nafsu.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

BARRY PRIMA DALAM FILM “TARZAN RAJA RIMBA”

Posted by jejakandromeda on December 31, 2010

JUDUL FILM        :TARZAN RAJA RIMBA

SUTRADARA       : ACKYL ANWARY

PRODUKSI           : PT KANTA INDAH  FILM

PRODUSER          : HANDI MULJONO

TAHUN PROD    : 1989

JENIS                     : FILM ACTION

PEMAIN               :  BARRY PRIMA, YOSEPH HUNGAN, YURIKE PRASTICA, ZIELA JALIL, JOHARI ZAIN

SINOPSIS :

Adegan dibuka dengan perjalanan seorang karyawan perusahaan penebangan kayu, Kamal dengan anak pemiliknya Karina (Ziela Jalil) ke hutan. Ia melaporkan tentang kecurangan yang terjad di perusahaan pada Karina. Tentang kecurangan yang dilakukan oleh Burhan (Johari Zain) dan Istrinya Gina (Yurike Prastica) diperusahaan. Burhan dan Gina merencanakan untuk selalu mengabarkan kalau perusahaan dalam keadaan rugi pada Karina. Di saat itu ia melihat anak buahnya yang baru pulang dengan berjingkat-jingkat membuat Gina curiga.

Sementara itu di hutan , Tobar (Yoseph Hungan) memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penebangan dengan mengambil lahan yang bukan haknya. Merasa terusik keadaanya, Shambo alias Tarzan terusik dan menyerang para pekerja. Mereka pun terlibat perkelahian. Namun sayang, Tarzan berhasil di usir dengan senapan.

******

Di perusahaan, Burhan dan Gina merencanakan untuk tidak lagi mengirim uang ke pada Karina di Jakarta dengan alasan menderita kerugian, namun disaat bersamaan pembicaraan Burhan dan Gina mengenai kerugian perusahaan yang direncanakannya di dengar oleh Karina. Karina marah pada pamannya, Burhan dan bermaksud mengambil alih perusahaan. Kedatangan Karina yang bersamaan dengan kedatangan Kamal membuat Gina dan Burhan curiga. Malam harinya, Kamal terbunuh atas suruhan Burhan. Namun ketika Karina berniat mengusut kematian Kamal, Burhan datang ke kamar Karina dan mengakui perbuatannya. Burhan juga menodongkan pistol pada Karina untuk menandatangani surat pelepasan hak kepemilikan perusahaannya pada Burhan.

Disaat yang bersamaan datanglah Tobar ke kamar Karina yang ingin menolong Karina yang dalam keadaan ditodong oleh Burhan yang juga merupakan kakak angkat Tobar. Namun Tobar pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Karina berhasil menggunakan taktik dan berhasil melarikan diri dari terkaman pistol Burhan. Karina melarikan diri ke hutan. Sementara itu Burhan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Karina. Namun belum lagi bisa menangkap Karina, anak buah Burhan akhirnya terbunuh oleh Tarzan, ketika Tarzan sedang menolong untuk menyelamatkan Karina.

Akhirnya Karina dan Tarzan bersahabat dan menyusun kekuatan untuk merebut kembali perusahaanya. Sedangkan Tobar dibuat kecewa ketika sedang mencari Karina ke hutan, dan mendapati Karina sedang bersama dengan Tarzan, ia pun cemburu.

Konflik di perusahaan penebangan kayu makin menjadi. Tobar dan Gina terlibat perselingkuhan yang akhirnya di ketahui oleh Burhan. Burhan marah besar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Gina justru lebih memilih Tobar. Sedangkan anak buah Burhan berhasil menangkap Karina di hutan. Ia membawa karina ke perusahaan, namun Tarzan selalu mengikutinya. Akhirnya Tobar dan Gina pun mati terbunuh, sedangkan Burhan sendiri tidak terbunuh.

Tarzan pun kembali ke hutan.

*****

Film Tarzan Raja Rimba menyisakan suatu pertanyaan, tentang bagaimana nasib Burhan sebenarnya, apakah ia meminta maaf pada karina atau tidak, Hanya endingnya yang kurang smooth..

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA DALAM FILM ” MANDALA DARI SUNGAI ULAR”

Posted by jejakandromeda on November 8, 2010

Barry Prima : Mandala Dari Sungai Ular

JUDUL FILM        : MANDALA DARI SUNGAI ULAR

SUTRADARA       : ACKYL ANWARY

PRODUKSI           : PT. KANTA INDAH  FILM

PRODUSER          : THOMAS SUSANTO

TAHUN PROD    : 1987

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : BARRY PRIMA, ANGEL D MEMAH, ATUT AGUSTINANTO, MUNI CADER, SYAEFUL ANWAR, EDDY GUNAWAN

 

SINOPSIS :

Mandala (Barry Prima) menolong Kupra (Syaeful Anwar) orang yang akan di gantung oleh penduduk karena di tuduh sebagai salah satu dari perampok. Setelah di tolong oleh Mandala, paginya Kupra sudah tidak berada di tempat. Ketika sedang berada di tepi sungai, Mandala ditangkap oleh penduduk setempat untuk di hadapkan pada ketua mereka Adijaya ketua perguruan  Mustika Angin Panas (Muni Cader), karena keadaan desa Pasir Hilir dalam kondisi gawat.

Namun setelah di hadapkan, Bapak Mustika kaget karena orang yang di tangkap adalah Mandala, pendekar rendah hati yang sudah di kenalnya. Mandala di kenalkan dengan penduduk-penduduk setempat termasuk dengan anaknya Wijaya, yang menyimpan rasa tidak sukanya pada Mandala. Ketua Perguruan Mustika Angin Panas menceritakan kejadian akan kedatangan Tiga Kepala Besi yang telah datang ke desa dan menguasainya setelah sebelumnya Adijaya di kalahkannya. Bahkan beberapa murid murtadnya turut bergabung dengan Tiga Kepala Besi. Sebenarnya tiga kepala besi datang untuk mencari Laot Si Tendangan Geledek, namun belum di temukan. Setelah menguasai desa tersebut, Tiga Kepala besi berbuat semena-mena bahkan menjadikan perempuan untuk pelampiasan nafsunya. Wijaya yang merasa tidak suka akan kedatangan Mandala menyuruh ayahnya untuk tidak bercerita padanya, karena dianggap takut. Namun Mandala lebih tertarik untuk mencari orang yang bernama Laot dibanding Tiga Tangan Besi.  Mandala mohon diri pada Adijaya, ketua perguruan Mustika Angin Panas, namun Wijaya merasa tidak suka dan membuntuti Mandala dengan mengatakan sebagai pendekar yang tidak punya nyali.

******

Perguruan Mustika Angin Panas mengutus Bongkeng dan Somad untuk mendatangi markas Tiga Kepala Besi untuk menantangnya. Namun keduanya harus menemui nasib tragis. Sementara itu akhirnya TIga Kepala Besi datang memenuhi tantangan Mustika Angin Panas. Namun sayang perguruan Mustika Angin Panas harus mengalami kekalahan dengan jatuhnya korban termasuk Adijaya. Ketika dalam kondisi terdesak, datanglah Mandala untuk membantunya. Namun sayang sekali Mandala juga tidak kuasa untuk menghadapi Tiga Kepala Besi, hingga akhirnya ia terluka. Sementara itu Wijaya, anak Ketua Perguruan Mustika Angin Panas bermain di air keruh. Meski ia menolong murid-murid yang terluka, ia yang punya ambisi untuk menguasai perguruan hanya berpura-pura menolong termasuk menolong Mandala. Namun sayang sekali, Wijaya justru hanya mengambil Pedang milik Mandala yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan meninggalkannya begitu saja.  Akhirnya Mandala di tolong oleh seorang perempuan bernama Nilasari. Ketika Nilasari  sedang mengambil air di sungai, tiba-tiba Mandala yang telah di tinggalkannya hilang.

Di tempat yang terpisah, Kupra menerima Kitab yang telah dititipkannya pada gurunya KI Abirawa untuk di pelajari. Ketika sedang menerima kitab dari gurunya, datanglah si putih, kuda milik Mandala yang membawa Mandala. Akhirnya Mandala di tolongnya untuk memulihkan kembali tenaganya.

Sementara itu Pedang milik Mandala berhasil di rebut dari tangan Wijaya oleh Maya Saputri (Angel D Memah) yang sedang mencari Mandala orang yang di cintainya. Dalam perjalanan melanjutkan pencarian di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nilasari yang ternyata kedua orang tersebut mencintai orang yang sama.

Di lain tempat, di sebuah puncak bukit, Kupra sedang menyelesaikan kitab peninggalan dari orangtuanya. Ketika telah selesai berlatih, datanglah Mandala. Akhirnya Kupra menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Ia adalah Laot, orang yang sedang di cari oleh Tiga Kepala Besi.

Akhirnya dengan saling membantu Laot dan Mandala menghadapi Tiga Kepala Besi. Pertarungan pun di mulai, Namun akhirnya Tiga Kepala Besi berhasil di lumpuhkan oleh Mandala dengan bantuan Ayu Puspita dan juga Laot.

 

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

WILLY DOZAN & SOPHIA LATJUBA DALAM FILM “RIO SANG JUARA”

Posted by jejakandromeda on September 15, 2010

Rio Sang Juara

JUDUL FILM        : RIO SANG JUARA

SUTRADARA       : MUKHLIS RAYA

PRODUKSI           : PT. GARUDA FILM

PRODUSER          : HENDRICK GOZALI

TAHUN PROD    : 1991

JENIS                     : FILM LAGA MODERN

PEMAIN               : WILLY DOZAN, SOPHIA LATJUBA, HENGKY TORNADO, AYU AZHARI, WD MOCHTAR, CHITRA DEWI, TANAKA, ZAINAL ABIDIN

SINOPSIS :

Film Rio Sang Juara dibintangi oleh Willy Dozan dengan diperkuat oleh Tanaka, Juara Tinju Korea. Film ini juga mendapat dukungan dari Menteri Pemuda dan Olahraga karena mengangkat tema Tinju yang merupakan salah satu cabang olahraga.

****

Rio (Willy Dozan) berkelahi dengan jagoan karena memperebutkan lahan parkir. Rio di keroyok tiga orang namun akhirnya dengan terpaksa Rio pergi dari tempat itu. Akhirnya seorang rekannya menawari Rio untuk menjadi sopir taksi cadangan. Selama menjadi Sopir Taksi, Rio mendapati beberapa pengalaman. Suatu malam ia membawa penumpang seorang perempuan bernama Jane Simon Margono (Sophia Latjuba) yang sedang berantem dengan pacarnya Tony (Hengky Tornado). Lia mengajak Rio untuk mengantarkannya ke pinggir pantai semalaman. Jane termangu di pinggir pantai yang disangkanya hendak bunuh diri, ketika Rio hendak menyelamatkannya justru malah Rio yang tercebur ke pantai. Akibatnya Rio pulang telat ke sopir taksi pertamanya. Ini adalah kesalahan Rio karena pulang tidak tepat pada waktunya. Kemudian Rio melakukan kesalahan kedua setelah taksinya hendak di rampok, namun Rio berhasil menyelamatkan taksi tersebut setelah berhasil melumpuhkan tiga perampot tersebut. Lagi-lagi Rio telat mengembalikan taksi, dan kesalahan kali ini tidak bisa di ampuni. Akhirnya Rio di pecat dari sopir taksi cadangan.

Rio akhirnya luntang lantung mencari pekerjaan yang cocok, hingga akhirnya ia terdampar pada sasana tinju milik Eddy (WD Mochtar). Meski awalnya di tolak, namun akhirnya Rio diterima juga untuk berlatih di sana. Suatu ketika Rio tanpa sengaja bertemu kembali dengan Jane di parkiran mobil. Jane menyapa Rio dan mengingatkannya bahwa ia pernah numpang taksi ke pantai malam-malam. Akhirnya Riopun ingat, keduanya akhirnya janjian untuk ketemu di tempat makan. Sementara itu Tony dan Jane yang sedang marahan tidak berhasil membujuk Jane untuk kembali lagi mesra seperti dahulu karena Jane menganggap Tony adalah penganut paham free sex yang di anutnya dari luar negeri. Sebaliknya Jane justru makin intim dengan Rio. Kedekatan Rio dengan jane akhirnya di ketahui oleh Tony yang menyewa bodyguardnya untuk memberi pelajaran pada Rio. Namun sayang sekali kali ini Rio tidak bisa di kalahkan.

Sementara itu di sasana tinju milik Eddy menjadi cemas karena sebentar lagi ada pertandingan tinju yang akan digelar, namun Rio dianggap mulai berulah setelah mengenal Jane. Eddy marah terhadap Rio yang mulai seenaknya, namun Rio tidak mau di salahkan dan merasa berhak untuk bersenang-senang dari hasil keringatnya untuk dinikmati. Meski Eddy tidak menyalahkan kalau Rio pun berhak bersenang-senang, namun Eddy meminta Rio untuk membuktikannya di atas Ring kalau ia mampu. Namun sayang sekali hasilnya Nol. Rio di pukul KO ketika pertandingan tinju.

Sedangkan nasib Jane berakhir tragis karena akibat keintimannya dengan Rio, akhirnya ia hamil namun sayang akibat perbuatannya untuk mengaborsi, ia harus kehilangan nyawanya. Rio pun dimintain keterangan oleh polisi.  Akhirnya Rio pulang ke Semarang dengan ditemani oleh Eddy.

Sesampai di Semarang, Rio kaget karena Nina (Ayu Azhari) pacarnya mengembalikan kalung yang dititipkan pada temannya sewaktu pulang ke Semarang dahulu. Nina memutuskan Rio setelah tahu kalau Rio ada hubungan dengan gadis di Jakarta yang diketahui dari Koran-koran. Ketika sedang di dalam masjid, Rio bersirobok muka dengan Nina. Rio dan Nina akhirnya berjumpa kembali di pantai ketika ada seorang anak tenggelam dan akhirnya di tolong oleh Rio. Nina akhirnya mau memakai kalung pemberian Rio.

Sementara itu datang dari Jakarta Andy yang membawa surat dari manager Rio yang isinya ada promotor yang akan mempertemukan Rio dengan petinju dari Korea untuk dipertandingkan. Dengan berlatih keras dibawah bimbingan Eddy dan dukungan dari masyarakat sekitar akhirnya Rio kembali ke Jakarta untuk bertanding.

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba. Rio dihadapkan dengan Petinju Korea (Tanaka) diatas Ring. Akhirnya Rio berhasil memukul KO lawannya. Akhirnya Rio menjadi Juara Tinju kelas Menengah.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA & ADVENT BANGUN DALAM FILM ” SI BUTA VS JAKA SEMBUNG”

Posted by jejakandromeda on February 18, 2010

Barry Pirma & Advent Bangun : Si Buta vs Jaka Sembung

JUDUL FILM        : SI BUTA VS JAKA SEMBUNG

SUTRADARA       : DASRI YAKOB

PRODUSER          : SABIRIN KASDANI

PRODUKSI           : RAPI FILM

TAHUN PROD    : 1983

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : BARRY PRIMA, ADVENT BANGUN, WD MOCHTAR, ZURMAINY, SRI GUNDY SINTARA, H SJAMSUDIN SAFEI, DJAIR WARNIPONAKANDA, VIVI RIO, GRACE SAHARA

SINOPSIS :

Kompeni Belanda mengobrak abrik rumah warga karena mencari Jaka Sembung (Barry Prima) yang kian meresahkan Kompeni karena sepak terjangnya. Merasa kewalahan untuk mencari Jaka Sembung, akhirnya Kompeni mengadakan sayembara bagi para jago-jago persilatan, dan siapapun pemenangnya mendapatkan hadiah 100 ringgit. Maka berdatanganlah jago-jago persilatan untuk menjadi pemenangnya, termasuk Soca Indrakusuma (Advent Bangun) alias Si Buta dari gunung Iblis.  Akhirnya Sibutalah pemenangnya. Seratus Ringgitpun diterima. Tugas utama yang harus dijalani oleh Si Buta adalah menangkap Jaka Sembung yang merupakan musuh Kompeni dengan upah 500 ringgit. Namun Si Buta menawar untuk menjadi 1000 ringgit jika berhasil menangkap Jaka Sembung, dan disetujui oleh kompeni.

Akhirnya dilakukanlah pencarian Jaka Sembung dengan dibantu oleh pasukan kompeni.  Di suatu persawahan Jaka Sembung yang ditantang oleh Si Buta akhirnya keluar dari persembunyian dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Si Buta yang dari mulai sayembara hingga saat berhadapan dengan Jaka Sembung selalu dibayangi oleh Dewi Manggi (Sri Gundy Sintara) yang selalu membantunya dengan memberikan bantuan melalui bisikan-bisikannya.

Akhirnya Si buta berhasil menangkap Jaka Sembung dan berhasil memenggal kepalanya untuk diserahkan pada Kompeni. Merasa yakin, kompeni akhirnya menyerahkan hadiah 1000 ringgit uang emas pada Si Buta. Namun setelah menyerahkan uang, Kompeni ingkar janji, ia menyerang Si buta hingga terluka parah. Si Buta berhasil menghabisi kompeni, namun malang ia tertembak dan terluka parah. Si Buta ditolong oleh Dewi Manggi yang selama ini menyimpan hati padanya. Ketika pingsan Dewi Manggi yang telah bernafsu akhirnya menciumi dan menggauli Si Buta dengan nafsu, namun ketika sadar Si Buta menolak dan marah karena cintanya sudah dikubur bersama kekasihnya yang telah meninggal. Manggi marah dan sebagai gantinya meminta uang hadiah dari kompeni untuk dirinya. Namun Si Buta menolak dan terjadilah saling baku hantam dengan kemarahan Manggi hingga membuat Si Buta tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat itulah muncul Jaka Sembung bersama teman-temannya menolong dan membawa Si Buta ke padepokan gurunya.  Setelah sembuh, akhirnya Si Buta pun menyerahkan uang 1000 ringgit tersebut untuk perjuangan, dan ia menceritakan bahwa yang dikalahkan dan dipenggal kepalanya bukanlah Jaka sembung yang sebenarnya, akan tetapi Kepala Kambing yang menyerupai muka Jaka Sembung dengan bantuan sihir Dewi Manggi. Si Buta akhirnya bergabung dengan padepokan Jaka Sembung. Sementara itu Manggi yang kecewa pada Si Buta akhirnya mendatangi markas kompeni dan memberi tahu kalau Jaka Sembung masih hidup. Kompeni marah karena ia telah di bohongi oleh Si Buta dengan memberikan Kepala Jaka Sembung hanya dengan kepala kambing. Akhirnya Manggi bekerjasama dengan kompeni untuk membunuh Si Buta dan Jaka Sembung. Manggi mengandalkan ilmu sihirnya.

Pada Suatu malam terjadilah pencurian kotak hadiah di padepokan Jaka Sembung, namun tidak terlihat siapa yang mencurinya. Si Buta yang awas penciuman dan penglihatannya akhirnya berhasil menghalanginya. Jaka Sembung yang sedang tidur pun kaget karena tidak bisa melihat siapa pencurinya karena tidak terlihat. Akhirnya melalui penciumannya Si Buta berhasil mengetahui kalau itu adalah perbuatan Dewi Manggi. Dewi Manggi berhasil ditangkap dan dilukai. Namun Ia dibiarkan menyelamatkan diri.  Manggi yang sedang terluka parah akhirnya berhasil mencari gurunya(WD Mochtar) dan berhasil menyembuhkan lukanya.

Setelah sembuh, Manggi meminta bantuan gurunya untuk menangkap Kinong adik dari Jaka Sembung, dengan demikian maka dua umpan sekaligus didapat. Tujuannya adalah untuk memancing Jaka Sembung dan Si Buta. Disarangnya, Dewi Manggi adalah seorang perempuan yang memimpin perguruan dengan seluruh anggotanya perempuan. Mereka semua dendam pada makhluk laki-laki dan sebelum dibunuh di sumur maut yang berisi ular, terlebih dahulu para laki-laki tersebut untuk memuaskan dirinya. Demikian juga Kinong. Kinong akhirnya di gantung di atas sumur maut.

Jaka yang datang seorang diri tidak bisa berbuat apa-apa ketika mengetahui Kinong berada diatas sumur maut. Namun kedatangan Si Buta dan gurunya berhasil membantu Jaka untuk menyelamatkan Kinong.  Dewi Manggi dan murid-muridnya kewalahan menghadapi Jaka Sembung dan lainnya, hingga ia meminta bantuan gurunya dan kompeni. Kedatangan guru Manggi ternyata mampu membuat kewalahan Jaka Sembung dan gurunya. Namun ia akhirnya mampu membunuhnya. Disaat yang bersamaan datanglah kompeni dan Manggi menembaki mereka. Saat itulah muncul Bajing Ireng (Zurmainy) yang membantu Jaka Sembung.  Kedatangan Bajing Ireng mampu membuat Kompeni kalang kabut. Namun Bajing Ireng berhaisl di tembak oleh kompeni. Sementara itu Manggi marah karena tempatnya telah di porak porandakan oleh Kompeni dengan sengaja. Manggi merasa telah ditipu oleh kompeni.  Manggi akhirnya tewas oleh meriam yang di sulut Kapiten. Sedangkan Si Buta, Jaka Sembung, Gurunya dan Bajing Ireng akhirnya selamat.

****

Film Serial Jaka Sembung dengan judul Jaka Sembung vs Si Buta sangat bagus dibanding film lainnya seperti Jaka Sembung vs Bajing Ireng .

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

ATIN MARTINO & SHERLY SARITA DALAM FILM “MISTERI LEMBAH NAGA”

Posted by jejakandromeda on February 5, 2010

Atin Martino - Misteri Lembah Naga

JUDUL FILM        : MISTERI LEMBAH NAGA

SUTRADARA       : TOMMY BURNAMA

PRODUSER          : TIEN ALI

PRODUKSI           : CANCER MAS FILM

TAHUN PROD    : 1989

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : ATIN MARTINO, SHERLY SARITA, SAIFUL NAZAR, MAT YATIM, RIA HESRIA PRIATNA, ALWI AS, BAMBANG PRIYAWAN,  RIO THAMRIN, MOCHA AHYAR

SINOPSIS :

Jaka Cindar (Atin Martino) adalah pemuda lugu yang ditinggal mati oleh orang tuanya karena mati oleh Siluman Ratu Ular (Sherly Sarita). Ketika baru selesai menguburkan orangtuanya tiba-tiba muncullah suara gaib yang berasal dari sebuah pedang yang mengajak Jaka Cindar untuk memegangnya. Namun Jaka Cindar ragu-ragu untuk mengikuti suara gaib tersebut. Saat itulah datang Jaka Kentut (Saiful Nazar) dan Setan Mabok (Mat Yatim) yang bertubuh cebol memperebutkan pedang yang ada ditangan Jaka CIndar yang merupakan pusaka yang sedang dicari-cari di dunia persilatan. Meski sempat di pegang oleh Jaka Kentut dan Setan Cebol, namun pusaka tersebut akhirnya kembali ke pemuda lugu tersebut.

Pusaka tersebut akhirnya membawa Jaka Cindar terbang ke sebuah tempat yang dihuni oleh seorang pertapa. Sebenarnya pertapa tersebut sudah lama mencari pewaris Ilmu lembah naga dan yang dipilih adalah Jaka Cindar yang tidak punya ilmu apa-apa. Pusaka tersebut juga menjadi rebutan bagi anak buah Siluman Ratu Ular. Namun karena gagal merebut dari tangan Jaka CIndar, akhirnya Siluman ular menyuruh anak buahnya untuk menangkap Istri pak Carik yang juga merupakan bibinya. Ia akan dijadikan tumbal oleh Siluman Ratu Ular.

Setelah Jaka Cindar bertemu pertapa tersebut kemudian diwariskan ilmu pusaka lembah naga, diwariskan ilmu silat. Setelah cukup bekal yang didapat, maka Jaka Cindar pun turun gunung . Dalam perjalanan Jaka bertemu dengan anak buah Siluman Ratu Ular yang ingin menangkap Cindy teman jaka main waktu kecil untuk dijadikan tumbal gadis-gadis dusun. Akhirnya Jaka Cindar berhasil menyelamatkan Cindy yang juga merupakan anak pak lurah. Setelah berunding dengan pak lurah akhirnya Jaka Cindar dan beberapa warga mencari tempat persembunyian Ratu Siluman Ular dimana istri pak Carik juga ditangkap disana.

Bersama Cindy, Pak Lurah dan Lainnya , Jaka Cindar mencari persembunyian Siluman Ratu Ular. Ketika sedang istirahat di hutan, Cindy diculik oleh anak buah Siluman Ratu Ular yang bersisik ular. Mahluk tersebut juga berhasil membunuh pak Carik.  Namun dengan pusaka lembah naganya, Jaka Cindar berhasil mengalahkan makhluk tersebut.

Sementara itu di tempat yang tidak begitu jauh, ada dua pasang mata yagn sedang memperhatikan gerak gerik Jaka Cindar. Mereka adalah Jaka Kentut dan Setan Cebol.  Ki Lurah dan Cindy akhirnya disuruh pulang duluan oleh Jaka Cindar, sementara Jaka sendiri meneruskan perjalanan untuk mencari Ratu Siluman Ular.

Dalam perjalanan kembali, Jaka Cindar bertemu dengan Jaka Kentut dan Setan Cebol yang sedang menghadapi anak buah Siluman Ratu Ular. Kedatangan Jaka disambut oleh Jaka Kentut dan Setan Cebol, namun ketika keduanya diminta memberantas kebatilan, Jaka Kentut menolak. Namun demikian Jaka CIndar akhirnya membantu Jaka Kentut dan Setan Cebol untuk melumpuhkan anak buah Siluman Ratu Ular. Anak buah Siluman Ratu Ular dapat ditumpas,namun Jaka Kentut dan Setan Cebol tidak mau membantu Jaka Cindar untuk menghadapi Siluman Ratu Ular karena ada tangan kanan Ratu Ular karena perjanjiannya. Akhirnya Jaka Cindar seorang diri menghadapi Siluman Ratu Ular dan anak buahnya dan bisa mengalahkannya.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

BOY TIRAYOH & ANNA TAIRAS DALAM FILM “TONGKAT SAKTI”

Posted by jejakandromeda on January 29, 2010

Boy Tirayoh & Anna Tairas - Tongkat Sakti

JUDUL FILM        : TONGKAT SAKTI

SUTRADARA       : WILLY WILYANTO

PRODUSER          : NY LEONITA SUTOPO

PRODUKSI           : PT INEM FILM

TAHUN PROD    : 1982

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : BOY TIRAYOH, ANNA TAIRAS, PONG HARYATMO, URIP ARPAN, RUSLAN BASRI, TRISNO WIDJAYA, FATIMA MARIA, SAMSUL GANDRJAYA, WILLY WILYANTO, HADISYAM TAHAX

SINOPSIS :

Marsan (Boy Tirayoh) adalah anak dari Sabur yang telah mati dibunuh oleh Kompeni. Sabur mati ketika membela istrinya untuk dilepaskan dari Kompeni karena sedang mencari Sabur yang mempunyai ilmu kebal. Namun Sabur akhirnya mati tertembak oleh Kompeni dan istrinya di bawa ke markas kompeni. Sementara Marsan akhirnya di ambil murid oleh seorang guru di pesisir pantai. Setelah ia berhasil menguasai ilmu yang telah diberikan, maka saatnya Marsan untuk turun mencari Ibunya dan membela kebenaran. Sebelum pergi, Marsan dibekali tongkat sakti oleh gurunya.

Marsan langsung menuju ke tempat dimana Ibunya di sekap. Namun tempat tersebut dijaga oleh begundal-begundal kompeni yang notabene adalah penduduk pribumi yang berkhianat. Namun usaha Marsan sia-sia karena penjagaannya yang begitu ketat. Akhirnya Marsan pergi kedesa ke tempat Pak Dadang (Hadisyam Tahax) tetangganya. Namun gerak gerik Marsan di ikuti oleh anak buah kompeni yang dipimpin oleh Somad (Samsul Gandrajaya) dan Safei (Urip Arphan). Namun atas saran Istri Dadang, Siti (Fatima Maria), Marsan disuruh pergi untuk meninggalkan desa tersebut karena takut keluarganya mendapat kesusahan dari kompeni. Namun Marsan untuk sementara waktu menolak pergi. Marsan pun akhirnya jatuh hati pada anak Pak Dadang, Yusniar (Anna Tairas) yang juga merupakan teman sepermainan waktu kecil.  Keduanya melangsungkan pernikahan. Namun disaat upacara pernikahan baru selesai dilaksanakan, Somad dan kawan-kawannya datang mengacaukannya. Tindakan tersebut berhasil dir edam oleh Marsan. Kompeni pun marah pada Somad  karena tidak berhasil menangkap Marsan yang dianggap pemberontak.

Kompeni akhirnya menyuruh anak buahnya untuk menangkap Dadang dan Keluarganya. Dadang berhasil ditangkap ketika Marsan sedang berada disawah, sedangkan Yusniar berhasil di perkosa oleh Somad dan Safei. Ketika mengetahui kalau istrinya Yusniar diperkosa dan menyusul ke sawah, akhirnya Marsanpun marah. Dengan Tongkat saktinya Marsan pun akhirnya berangkat untuk menuntut balas atas kehormatan istrinya yang telah dinodai.

Sementara itu Kompeni berhasil menangkap seorang pendekar bernama Jarus yang kemudian menjadi antek-antek kompeni untuk menangkap Marsan.  Marsan yang sedang dalam perjalanan untuk menuntut balas berhasil dihadang olehnya. Perkelahianpun terjadi.  Namun setelah mengeluarkan ilmu masing-masing ternyata keduanya adalah merupakan satu perguruan dengan Marsan. Akhirnya keduanya pun menghentikan perkelahian. Somad dan Safei yang mengetahui keadaan tersebut akhirnya lari terbirit-birit dan melaporkannya pada kompeni.

Marsan dan kakak seperguruan Jarus akhirnya berhasil masuk kesarang kompeni dan membebaskan ayah Yusniar . Somad dan Safei berhasil di bunuh oleh Marsan.  Dalam usaha keluar dari Sarang Kompeni, Marsan akhirnya mati tertembak, sementara kakak seperguruannya Jarus yang mengetahui rahasia keris dari tongkat sakti pun akhirnya tertembak.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

ZIELA JALIL DALAM FILM ” PENDEKAR MATA SATU LAWAN SABUK BADAK”

Posted by jejakandromeda on January 21, 2010

Pendekar Mata Satu dan Sabuk Badak

JUDUL FILM        : PENDEKAR MATA SATU LAWAN SABUK BADAK

SUTRADARA       : KARIM SA

PRODUSER          : HANDI MULJONO

PRODUKSI           : PT KANTA INDAH FILM

TAHUN PROD    : 1989

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : ZIELA JALIL, MOCHAMAD SY, MALEK NOOR, ZAITUN SULAIMAN, ANTON CHANIAGO, JOOKING ANTONI, MUSLIM

SINOPSIS :

Gulandra adalah anak Datuk Alang yang dibunuh oleh Pendekar Mata Satu atau Galak. Ia berguru pada seorang guru hingga menguasai beberapa ilmu silatnya. Ketika Gurunya sedang belajar Ilmu Saka Wesi yang membutuhkan waktu 120 hari sampai 200 hari, Gulandra yang sudah berniat jahat pada gurunya akhirnya mengatur siasat untuk dapat menguasai ilmu Saka Wesi. Untuk menguasai Ilmu Saka Wesi diperlukan pengorbanan. Jika Siang badan akan terasa menggigil dan jika malam badan serasa terbakar.  Maka itu untuk menguasainya Gurunya di ikat agar lebih mudah menguasainya. Namun Gulandra yang mempunyai niat jahat, akhirnya berhasil membunuh gurunya. Selanjutnya Gulandra sendiri yang belajar Ilmu Saka Wesi dengan dibantu oleh murid-murid yang lain.

Sementara itu di sebuah tempat Galak atau pendekar mata satu bersama istrinya Kenanga yang buta sedang menunggu kelahiran anak mereka. Ketika saatnya tiba Kenanga ditangani oleh Mak Naning seorang dukun yang bisa membantu kelahiran bayi. Namun ditunggu-tunggu Kenanga kesulitan untuk mengeluarkan bayinya. Maka disuruhlah Galak menjemput Paraji atau juga dukun beranak laki-laki yang biasa membantu kelahiran bayi.

Setelah Kenanga di tangani oleh Mak Naning dan Bang Paraji, keduanya tidak dapat mengeluarkan bayi Kenanga karena ada sesuatu didalam perutnya yang menghambat proses kelahiran. Didalam perutnya ada Conde Emas yang menjadi rebutan dunia persilatan. Akhirnya atas saran Paraji, Galak akhirnya disuruh mencari sebuah bunga bernama bunga Kahuripan yang tumbuh diatas bebatuan di sebuah bukit. Bunga kahuripan hanya akan mekar setiap satu purnama. Dengan bersusah payah akhirnya Galak berhasil mendapatkan bunga Kahuripan. Namun perjalanan Galak diketahui oleh orang-orang suruhan Paraji yang disuruh untuk merampas bunga kahuripan dari tangan galak.

Dibalik pertolongan yagn diberikan ternyata mak Naning dan Bang Parji memiliki niat jahat untuk dapat merebut Conde Emas. Akhirnya Bunga Kahuripan yang sudah didapat Galak dapat dirampas oleh kaki tangan Paraji.

Galak akhirnya mengendus ada yang tidak beres, apalagi setelah sampai dirumah tidak mendapati istrinya dan mak Naning. Kenanga dibawa oleh telaga air biru oleh Mak Naning untuk proses kelahirannya sedangkan Paraji menyusul kemudian.  Namun akhirnya Mak Naning dan Paraji dapat di bunuh oleh Galak karena telah berniat jahat terhadap istirnya untuk mendapatkan conde emas.

Sementara itu Gulandra telah berhasil menguasai ilmu Saka Wesi. Ia mencari Pendekar mata satu untuk bertarung, namun Gulandra yang telah memiliki ilmu kebal akhirnya berhasil di tumpas oleh Galak alias pendekar mata satu. Kenanga berhasil melahirkan bayinya namun ia meninggal.

***

Sebuah film laga Pendekar Mata Satu lawan Sabuk Badak, namun bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu yang sedikit asing ditelinga sebagian besar rakyat Indonesia, karena memang menggunakan bintang-bintang Malaysia.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

TONY HIDAYAT DALAM FILM “WIRO SABLENG – SENGATAN SATRIA BERACUN”

Posted by jejakandromeda on January 11, 2010

Wiro Sableng

JUDUL FILM        : SENGATAN SATRIA BERACUN (WIRO SABLENG)

SUTRADARA       : LILIEK SUDJIO

PRODUSER          : TIEN ALI

PRODUKSI           : CANCER MAS FILM

TAHUN PROD    : 1988

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : TONY HIDAYAT, PIET PAGAU, DEVI IVON, JOHAN SAIMIMA, TANKA GROUP, HERBI, ARTHUR TOBING, TANTI NURISTA, JAITUN, ROBERT SANTOSO

SINOPSIS :

Dewa Tuak (Piet Pagau) mengusir Pengging (Robert Santoso) muridnya karena Pengging berkhianat dan tidak mengikuti aturan gurunya akan tetapi berbuat sewenang-wenang dengan membunuh lawannya ketika taruhan sabung ayam. Sebelum pergi Pengging mengincar Buku Kitab Inti Ilmu Silat milik Dewa Tuak yang disimpan di pinggangnya. Di perjalanan Pengging berpapasan dengan Anggini (Devi Ivon) murid Dewa Tuak lainnya. Namun Anggini tidak menghiraukannnya.

Anggini heran karena berpapasan dengan Pengging di jalan dan mengira kalau Pengging telah selesai menuntut ilmu dengan Dewa Tuak. Namun setelah Dewa Tuak menjelaskan bahwa Pengging telah di usir dari perguruan, Anggini barulah tahu keadaan yang sebenarnya. Sebagai calon pewaris yang dipercaya dewa tuak, Anggini menjajal ilmunya, namun dikalahkan oleh Wiro Sableng (Tony Hidayat) yagn saat itu sedang mampir ke perguruannya.

Suatu hari Pengging datang ke perguruan setelah sebelumnya melumpuhkan gurunya agar tertidur pulas. Masuk melalui atap, akhirnya Pengging berhasil mencuri kitab inti ilmu silat milik Dewa Tuak. Namun perbuatan Pengging diketahui oleh murid-murid lainnya hingga mereka mengepung Pengging. Pengging yang mempunyai ilmu lebih tinggi dengan gampang meloloskan diri. Dewa Tuak akhirnya mengetahui bahwa pengging telah berkhianat padanya. Akhirnya Iapun menyuruh Anggini muridnya untuk merebut kembali buku inti ilmu silat miliknya yang sebenarnya mau di wariskan pada Anggini. Namun anggini dengan mudah di kalahkan karena memang ia belum sepadan untuk mencari kita tersebut. Anggini dan kawan-kawannya akhirnya ditawan oleh Pengging. Pengging akhirnya menjadi Adipati dengan dibantu oleh perampok-perampok yang bersekutu padanya.

Akhirnya Dewa Tuak menyadari kekeliruannya dengan menyuruh Anggini yang masih hijau ilmu silatnya untuk mencari Bukunya yang hilang. Akhirnya Dewa Tuak pun turun tangan sendiri. Ditengah perjalanan ia kembali bertemu Wiro Sableng.  Wiro akhirnya bersedia membantu Dewa Tuak untuk mencari Anggini dan Pengging.

****

Tujuan Pengging menawan Anggini adalah untuk dijadikan istrinya. Namun Anggini menolak ajakan tersebut karena Pengging adalah seorang pengkhianat. Kecewa dengan sikap Anggini akhirnya Pengging bermaksud untuk menggantung Anggini dengan menyuruh nenek Jamilah.

Sementara itu dalam perjalanan , Wiro Sableng bertemu dengan seorang pemuda Mahesa Kelud(Johan Saimima) yang dirampas kuda dan senjata mustikanya oleh Kebo Pengiring alias Pengging. Akhirnya keduanya pun bersepakat untuk mencari Kebo Pengiring.  Dalam perjalanan, akhirnya Wiro Sableng menemukan nenek Jamilah dan mengetahui dimana keberadaan Anggini berada.

Buku Inti Ilmu Silat yang Pengging curi ternyata dititipkan pada Setan Hitam yang juga merupakan guru Pengging. Ketika akan mengambil bukunya kembali, Pengging kaget karena ternyata yang ia panggil dan keluar adalah Dewa Tuak yang sebelumnya telah berhasil membunuh Setan Hitam. Akhirnya Pengging pun mati. Anggini pun berkumpul kembali dengan gurunya. Sementara Wiro Sableng pun berpamitan pada Dewa Tuak setelah tugasnya berhasil dilaksanakan. Namun janji Dewa Tuak untuk menjodohkan dengan Anggini akhirnya ditolak Wiro, dan Anggini akhirnya menjadi istri Mahesa Kelud.

***

Wiro Sableng diangkat dari Novel karya Bastian Tito, sesuai dengan novelnya, film ini juga menyebutkan bermacam-macam nama yang aneh, akan tetapi penulis hanya menuliskan yang inti-inti saja.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,145 other followers