Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

Posts Tagged ‘Film-Film 80an’

WARKOP DKI DALAM FILM “CHIPS”

Posted by jejakandromeda on August 4, 2009

Chips

JUDUL FILM        : CHIPS (WARKOP DKI)

SUTRADARA       : IKSAN LAHARDI

PRODUCER         : HARYADI SISWANTO, PANGGABEAN

PRODUKSI           : PPFN

TAHUN PROD    : 1982

JENIS                     : FILM KOMEDI

PEMAIN               : DONO, KASINO, INDRO, SHERLY MALINTON, TETTY LIZ INDRIATI, ALICIA JOHAR, CHINTAMI ATMANEGARA,

SINOPSIS :

Chips merupakan film Komedi yang memplesetkan film seri yang pernah sukses di Indonesai dengan bintang utama Eric Estrada.  Kekonyolan yang dilakukan oleh Dono, Kasino dan Indro sebagai tokoh sentral memang menjadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Adegan pembuka, Kasino yang merupakan anggota Chips (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial) dengan seragam yang gagah dan motor yang keren, menolong seorang anak yang bolanya jatuh kesungai. Alih-alih ingin menolong, justru Kasino yang jatuh ke sungai. Sedangkan Indro meski menjadi anggota Chips akan tetapi ia juga di kerjai oleh anak-anak dengan bola. Indro anggota ketiga warkop DKI yang paling sering sial dengan masalah wanita, kali ini juga dengan mengendarai mobil Chipsnya tergiur oleh wanita yang sedang menunggu bus kearah blok M. Akhirnya Dono mengajak bersama kearah Blok M. Tapi dasar Dono tentu saja kekonyolan pun dilakukan, ketika sedang asyik ngobrol dengan cewek seksi, ia tidak sadar menabrak mobil Derek, dan terbawa ke sebuah pembuangan tempat rongsokan.

Indro yang disewa untuk menangani kenakalan seorang anak bernama Tommy akhirnya datang kerumah untuk mengatasi kenakalan-kenakalan yagn dilakukan. Akan tetapi Indro tidak dapat mengatasinya karena Tomy malah balik mengerjai Indro, Indropun dibuat tidak berkutik. Sementara Itu akhirnya Kasino datang untuk membantu Indro, akan tetapi yang terjadi justru bukan Kasino membantu, akan tetapi ikut dikerjai oleh Tommy. Dony yang biasanya sulit dalam masalah wanita, kali ini mendekati rekannya sesame Chips (Sherly Marlinton). Ketika sedang asyik berpelukan, tanpa disadari mobil yang sedang berhenti jalan sendiri dan masuk kesungai, akhirnya Dono pun harus berbasah-basahan.

Tiba-tiba intercom Kasino dan Indro memanggil untuk meminta tolong menangkap kucingnya yang hilang di kebun binatang. Setelah berbagi tugas akhirnya Kasinolah yang ditugaskan untuk menolong wanita tersebut. Ketika sedang mencari kucing yang hilang bersama wanita pemiliknya, Kasino memergoki bosnya yang sedang mojok dibawah pohon dengan seorang wanita yang ditutupi dengan Koran karena takut ketahuan.  Dengan alas an mencari Jangkrik akhirnya bos tersebut bilang pada Kasino untuk tidak mengatakan pada siapapun. Kasino pun diberi uang. Kata-kata “jangkrik” tersebut akhirnya digunakan oleh Kasino sebagai kata-kata untuk dapat mendapatkan uang dari bosnya.  Mengetahui Kasino selalu mendapatkan uang 5 ribu dengan mengatakan “Jangkrik” pada bosnya, akhirnya Indro dan Dono pun ikut-ikutan Kasino dengan berkata Jangkrik agar dapat meraih uang seperti Kasino ketika bertemu bosnya. Akan tetapi bukannya uang yang didapat, apeslah yang diperoleh oleh Indro dan Dono.

Dono, Kasino dan Indro hingga akhir film terus memberikan tontonan dengan kekonyolan-kekonyolan khas Warkop DKI.

*****

Film Warkop DKI meski sudah lama sekali akan tetapi hingga sekarang film ini masih layak untuk ditonton. Karena selain Dono Kasino dan Indro, tidak ada lagi film-film komedi yang diproduksi dengan memasangkan bintang yang sama sebagai ikon komedi untuk saat ini.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

RHOMA IRAMA & YATI OCTAVIA DALAM FILM “PENASARAN”

Posted by jejakandromeda on July 14, 2009

Penasaran

JUDUL FILM        : PENASARAN

SUTRADARA       : AMAN FIRMANSYAH

PENGARAH         : A HARRIS

PRODUKSI           : PANCA IRAMA SEJATI

TAHUN PROD    : 1976

PEMAIN               : RHOMA IRAMA, YATI OCTAVIA, AMINAH CENDRAKASIH, HARRIS, MEFY, SUSI YOPANG, SOFIAH, SONETA GROUP

SINOPSIS :

Ani (Yati Octavia) adalah anak petinggi dari sebuah perkebunan yang tidak disetujui oleh ayahnya karena ia memiliki seorang kekasih Oma (Rhoma Irama) yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sementara Ibunya Ani (Aminah Cendrakasih) lebih membela Ani, karena memang Ayah Ani bisa diangkat menjadi kepala Perkebunan juga berkat bantuan almarhum ayah Oma. Oma yang seorang penyanyi Orkes mengundang Ani untuk datang ke pertunjukan Orkes Oma.  Meski pada akhirnya Ani datang bersama ayah dan ibunya, akan tetapi ditengah pertunjukkan Ani meninggalkan Orkes Oma. Mengetahui hubungan Ani dan Oma yang kian dekat, ayah Ani menentang keras. Ia melarang Ani dan Oma berhubungan. Oma tidak diijinkan untuk kerumah Ani.

Setelah diperlakukan tidak baik oleh ayah Ani, sikap Oma  menjadi berubah. Ia banyak berpikir. Perubahan sikap Oma diketahui oleh guru silatnya dan ia menanyakan pada Oma mengenai perubahannya. Setelah memberitahukan pada guru, akhirnya Oma pun cukup tenang. Sementar Ani yang sudah dilarang berhubungan dengan Oma, secara diam-diam masih sering menemui Oma  ketika ayahnya sedang pergi.

Untuk menutupi kebutuhan hidup ibunya yang hanya mengandalkan gaji pensiunan almarhum ayah Oma, akhirnya Oma  berniat untuk meninggalkan kampung untuk berkelana ke Jakarta. Maksud ini disampaikan pada Ani dan Ibu Oma.  Akhirnya Ani dan Ibu Oma melepas kepergian Oma  demi masa depan yang lebih baik. Ani memberikan kalung pada Oma agar dapat digunakan bila diperlukan.

Sesampai di Jakarta, tanpa tujuan yang jelas akhirnya untuk memenuhi hidupnya. Oma menjual apa yang bisa dijadikan uang. Kemudian tujuan selanjutnya adalah mencari studio rekaman yang ada di simpang Depok. Dengan dandanan kampung, Oma menjadi bahan tertawaan. Oma akhirnya menawarkan lagu-lagunya, akan tetapi dianggap kampungan dan langsung ditolak oleh pihak studio.  Oma meninggalkan studio dengan sedih. Ketika sedang melepas lelah dibawah pohon sehabis dari studio, Oma disamperin oleh penjahat yang ingin mengambil harta Oma. Akan tetapi Oma melawan. Karena tidak imbang, akhirnya Oma pun dipukul kepalanya dan pingsan, sedangkan kalung yang dipakai Oma pun akhirnya diambil oleh penjahat-penjahat tadi.  Oma akhirnya ditolong oleh Susi seorang bencong bersama tiga rekannya. Meski awalnya Oma menjadi rebutan bagi empat bencong tersebut, akan tetapi bencong-bencong tersebut mengajak Oma untuk menyanyi.

Sementara itu di kampung, Ani yang merasa belum ada kabar dari Oma, akhirnya menanyakan tentang kabarnya melalui ibunya Oma. Akan tetapi Ibu Oma pun belum mendapatkan kabar keberadaan Oma, akhirnya Ani pun pamit pulang. Ketika mau pulang, Ani kedapatan sedang sakit, akan tetapi ketika akan diantarkan oleh Ibu Oma, Ani lari pulang terlebih dahulu ketika Ibu sedang mengambil kerudung.

Di Jakarta, Oma berhasil menyanyi atas ajakan dari kenalannya, Susi. Lagu pertama yang dinyanyikan adalah berjudul “Ani”, sesuai dengan kerinduan yang dirasakan oleh Oma saat itu. Setelah penampilan pertamanya, akhirnya Oma ditawari sebuah kontrak rekaman oleh sebuah perusahaan rekaman. Oma pun akhirnya terkenal, ia pun sering ditampilkan di televisi. Kaset Oma Irama laku keras. Meski Oma telah terkenal, akan tetapi ayah Ani tidak percaya dan tetap menentang hubungan mereka. Akhirnya Anipun kabur dari rumah untuk menyusul Oma di Jakarta. Melihat kepergian Ani, ayahnya menuduh Omalah yang telah melarikan Ani, sehingga ia menyalahkan Ibu Oma.

Sesampai di Jakarta, Ani tidak menemukan Oma, karena Oma sebenarnya sedang ke kampung menyusul Ani. Demikian juga Oma, sesampai di kampung, ia tidak mendapati Ani di rumah. Akhirnya Oma tahu dari Ibunya kalau Ani menyusul ke Jakarta. Akhirya Oma pun segera kembali ke Jakarta untuk menyusul Ani. Ayah dan Ibu Ani pun akhirnya menyusul ke Jakarta untuk mencari Ani. Akhirnya Ani dan Oma pun dipertemukan dalam pertunjukan orkes yang menampilkan Oma Irama.  Ayah dan Ibu Ani yang menyaksikan pertemuan tersebut, akhirnya merestui hubungan Oma dan Ani.

*****

Film Drama Musikal Rhoma Irama memang bejibun, satu diantaranya adalah Penasaran. Yang kalau ditonton saat ini tentu kita akan tahu model baju jaman dahulu yang cutbrai …tp saat ini sudah tidak jaman lagi.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

BARRY PRIMA : PERTARUNGAN IBLIS MERAH

Posted by jejakandromeda on April 30, 2009

Barry Prima : Pertarungan Iblis Merah

Barry Prima : Pertarungan Iblis Merah

Judul Film            : Pertarungan Iblis Merah

Sutradara            : Denny HW

Produser             : Handi Muljono

Produksi              : PT. Kanta Indah Film

Tahun Produksi : 1988

Pemain                 : Barry Prima, Advent Bangun, Aznah Hamid, Krisno Wijaya, Yuli Martha, Baharuddin bin Haji Omar, Sutrisno Wijaya,

Sinopsis :

Markoni (Barry Prima) alias Iblis Merah tinggal bersama istrinya Ningrum (Aznah Hamid) di sebuah lembah arum di pinggir kali bersama Iyem. Tempat Terpencil yang susah untuk dikunjungi, hingga akhirnya suatu hari datanglah Karto (Baharuddin bin Haji Omar) teman lama Markoni. Markoni yang ternyata adalah bekas penjahat tersebut bertemu dengan Karto. Karto datang tidak lain adalah ingin mengajak kembali Markoni untuk bekerjasama seperti dulu dalam kejahatan disamping juga menanyakan hasil kejahatan terakhirnya yang ada kitab Gembul Slawi, sebuah kitab berilmu hitam. Namun niatan Karto ditolak oleh Markoni. Meski Markoni mengetahui ada kitab tersebut, akan tetapi ia berusaha menutupinya.

Markoni pun gelisah setelah kedatangan Karto. Melihat kegelisahan suaminya, Ningrum pun menanyakan tentan apa yang terjadi dengan sikap suaminya. Akhirnya Markoni membuka jatidirinya yang adalah mantan seorang perampok. Markoni insyaf setelah merampok sebuah keluarga dan membunuh anak perempuannya. Kelompok Markoni dikenal dengan Iblis bermuka Merah.

Sementara itu Karto yang merasa usahanya gagal untuk membujuk Markoni, akhirnya menyuruh anak buahnya  Donggala(Advent Bangun) dan Setan Kembar serta anak buah lainnya untuk menyatroni rumah Markoni. Tujuannya adalah unguk menghabisi Markoni dan Istrinya. Istrinya Ningrum dan Iyem dibunuh dan diperkosa ketika Markoni sedang tidak berada dirumah. Peta harta kekayaan hasil rampokan Markoni berhasil di rebut dari tangan Ningrum. Markoni pun meraba siapa yang telah melakukannya ketika mendapati harta yang di simpannya sudah tidak ada.

Untuk menuntut balas akan kematian istrinya, Markoni akhirnya pergi mengembara untuk mencari pelaku yang telah memperkosa dan membunuh istrinya. Didalam pengembaraanya ia bertemu dengan Mawi Payung (Krisno Wijaya) yang sedang menolong seorang pedagang yang tengah dirampok. Ketika pedagang itu menemukan gelang dan diserahkan pada Mawi Payung. Melihat gelang yang sedang di pegang oleh Mawi Payung, Markoni yang tengah bersembunyi akhirnya keluar dan menyerang mawi Payung karena menganggap Mawi Payung adalah pelaku kejahatan terhadap istrinya. Maka terjadilah duel antara keduanya. Hingga akhirnya setelah melihat gelang yang berbeda, Markoni membatalkan untuk membunuh Mawi Payung. Akhirnya keduanya pun yang hanya salah paham, menjadi teman. Karena ternyata Mawi juga mempunyai nasib yang sama dengan Markoni, Istrinya dibunuh dan anaknya diculik untuk dijadikan selir oleh Raden Arya Geni. Akhirnya keduanya pun sepakat untuk mencari Aria Geni untuk membuat perhitungan.

Dalam perjalanannya Mawi Payung berhasil membunuh Maguwo alias si mata satu yang telah menculik anaknya sekaligus sebagai salah satu pelaku pemerkosa Iyem pembantu Markoni. Satu persatu pemerkosa dan pembunuh istrinya berhasil di tumpas oleh Markoni.  Dan Akhirnya Markoni bertemu dengan Donggala. Donggala membeberkan bahwa bukan dialah dalang pembunuhan keluarga Iblis merah, akan tetapi Raden Arya Geni. Donggalapun mengajak Markoni untuk bersama-sama menghadapi Arya Geni dan hartanya untuk Markoni. Akan tetapi Markoni menolak dan bertekad akan membunuh siapapun orang yang telah mempunyai andil untuk membunuh istrinya. Akhirnya keduanya terlibah perkelahian yang sengit. Donggala akhirnya tewas ditangan Markoni.

Markoni bertanya-tanya siapakah Arya Geni sebenarnya, karena selama ini ia merasa belum pernah mengenal siapa Arya Geni.  Sementara Mawi Payung yang terlebih dahulu bertemu dengan Arya Geni akhirnya harus menemui ajalnya akibat dibunuh oleh Arya Geni.  Markoni pada akhirnya bertemu dengan Raden Arya Geni yang tidak lain adalah Karto.  Akhirnya keduanya pun terlibat perkelahian. Kemampuan ilmu keduanya pun imbang. Namun Markoni yang berhati bersih akhirnya lebih unggul dan berhasil membunuh Raden Arya Geni.

****

Barry Prima dipasangkan dengan Advent Bangun yang sama-sama actor laga, akan tetapi sayang sekali Advent Bangun hanya sebagai pelengkap, sehingga meski terlibat perkelahian akan tetapi perkelahiannya tidak seseru antara musuh dengan musuh. Namun demikian film ini tetap layak untuk ditonton kok.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , | 6 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,085 other followers