Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

Posts Tagged ‘Film Drama’

ROY MARTEN & YENNY RACHMAN DALAM FILM ” HATIKU BUKAN PUALAM “

Posted by jejakandromeda on September 7, 2012

JUDUL FILM                        : HATIKU BUKAN PUALAM

SUTRADARA                       : NASRI CHEPPY

MUSIK                                  : HARRY ANGGOMAN

PRODUSER                          : JIWAT KK SOEDARKO

TAHUN PRODUKSI           : 1985

PRODUKSI                           : PT.BOLA DUNIA FILM – PT NAFILA FILM

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                              : JENNY RACHMAN, ROY MARTEN, DEDDY MIZWAR, EDWARD BAHAR, ADI KURDI, ANDREAS PANCHARIAN, WIEKE WIDOWATI, TETTY INDRIATY

SINOPSIS :

Sunyoto Lesmana (Roy Marten) menceraikan istrinya Hanum Ayu Lestari (Jenny Rachman) karena dituduh berbuat serong dengan sopir suaminya,  Heru (Edward Bahar). Merasa sakit hati akan ulah suaminya yang sebenarnya bermain-main dengan sekretarisnya Riani (Wieke Widowati) membuat Hanum mengakui tuduhan Sunyoto di depan hakim pengadilan agama. Imbasnya Heru di pecat sebagai sopir Sunyoto dari perusahaan. Heru menjadi bahan olok-olokan dan tertawaan teman-temannya karena telah menyelingkuhi istri bosnya.

Akibat nama baik yang sudah terlanjur tercoreng oleh perbuatan yang tidak pernah ia lakukan membuat Heru kesulitan untuk mencari pekerjaan. Namun akhirnya ia di terima bekerja di supermarket.

Enam Bulan telah berlalu, Sunyoto telah menikah lagi dengan sekretarisnya Riani yang telah di hamilinya, sementara pernikahannya dengan Hanum selama 5 tahun tidak di karuniai anak. Tanpa sengaja ketika Hanum habis berbelanja ia bertemu dengan Hambali (Deddy Mizwar). Hambali pulalah yang dulu mengenalkan dan menjodohkan Hanum dengan Sunyoto. Mengetahui keadaan Hanum yang telah bercerai dari Sunyoto membuat Hambali marah pada Sunyoto. Ia berusaha menemuinya dan menjelaskan kalau Hanum tidak mungkin berselingkuh. Namun nasi sudah menjadi bubur. Sunyoto merasa bersalah atas tuduhannya pada Hanum. Sunyoto yang kini sudah menikah lagi dengan mantan sekretarisnya menjadi merasa bersalah, apalagi ketika kelahiran anaknya dengan Riani, Hanum datang menjenguk dan berpapasan dengannya di rumah sakit. Namun bagi Hanum semua sudah berlalu.

Merasa di hantui perasaan bersalah dan perasaannya yang masih mencintai Hanum membuat Sunyoto berterus terang pada Riani. Meski pada awalnya Riani merasa kecewa namun ia bisa mengerti bahwa Sunyoto menikahinya karena ia telah hamil dan Riani tidak pernah menuntutnya untuk bercerai dari istrinya.  Lambat laun Sunyoto mulai mendekati kembali Hanum yang kini hanya sebagai seorang penjahit. Namun Hanum tetap pada pendiriannya. Merasa usahanya tidak berhasil, Riani yang merasa bersalah pada Hanum ikut membantu suaminya untuk membujuk Hanum agar mau kembali pada Sunyoto, namun Hanum tetap pada pendiriannya.

Sementara Itu Hanum berharap pada Siswadi (Adi Kurdi) teman sekampungnya yang sudah siap untuk menikah dan dikenalkan oleh keluarganya. Namun harapan Hanum sirna setelah ia melihat kalau Siswadi bermesraan dengan Ibu Kostnya (Tetty Indriati).

****

Suatu hari ketika Sunyoto bertandang di rumah Hanum, tanpa sengaja ia bertemu dengan Heru, sopir yang pernah di pecatnya. Sunyoto mengajak Heru untuk pulang bersama  dalam satu mobil. Maka di utarakanlah niatnya kalau ia ingin kembali pada Hanum. Namun dalam Islam, seorang wanita yang sudah di ceraikan, pantang untuk dinikahinya kembali sebelum ia menikah. Maka itulah Sunyoto membujuk Heru untuk mau menikah dengan Hanum dengan imbalan sejumlah uang. Meski sebagai sopir, namun dengan rendah hati Heru menolak usulan Sunyoto.

Kini pilihan Sunyoto jatuh pada Hambali untuk membantunya. Hambali pun sepakat untuk membantu untuk menikah dengan Hanum dengan waktu yang telah ditentukan dan tidak boleh tidur bersama. Atas kebaikan sikap Hambali yang ditujukan pada Hanum selama menikah membuatnya jatuh hati. Ia tidak mau menjadi istri yang pura-pura bagi Hambali. Ketika waktu pernikahan mereka akan berakhir, Sunyoto datang pada Hanum dan memintanya untuk bermesraan. Namun Hanum yang merasa sebagai istri sah Hambali tidak mau melakukannya, apalagi perasaan Hanum yang sudah jatuh hati pada Hambali membuatnya untuk tetap mempertahankan diri, termasuk ketika Sunyoto memaksanya untuk bermesraan, Hanum berteriak meminta tolong pada Hambali ditengah hujan deras. Hambali berhasil mendobrak pintu rumah dan mengusir Sunyoto.

Dalam perjalanan pulang, Sunyoto kecelakaan dan tewas. Akhirnya Hambali dan Hanum tidak bercerai dengan pernikahan yang pada awalnya Cuma pura-pura.

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

RYAN HIDAYAT DAN PARAMITHA RUSADY DALAM FILM ” LEBIH ASYIK SAMA KAMU “

Posted by jejakandromeda on July 24, 2012

JUDUL FILM                        : LEBIH ASYIK SAMA KAMI

SUTRADARA                       : ARIZAL

CERITA                                  : ARIZAL

SKENARIO                           : ARIZAL

MUSIK                                  : EKI SOEKARNO

PRODUSER                          : GOPE T SAMTANI

TAHUN PRODUKSI           : 1989

PRODUKSI                           : PT.RAPI FILM

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                              : RYAN HIDAYAT, SALLY MARCELINA, PARAMITHA RUSADY, RIGO SULAIMAN, IDA KUSUMAH, AMINAH CENDRAKASIH, YOSEANO WAAS, GUGUN, FIONA GITA TRISWARDANI, ANASTUTY, RITA RUSTANDI, DARTY MANULANG

SINOPSIS :

Ferdian (Ryan Hidayat), pelajar sebuah SMA bersaing bersama temannya  Beny (Rigo Sulaiman) ketika berkenalan dengan Amalia atau Lia (Sally Marcelina) di sebuah diskotik. Namun agaknya Lia lebih memilih Ferdian yang sedikit playboy.  Keduanya pun akhirnya berpacaran. Akan tetapi keadaan berubah ketika di kelas Ferdian kedatangan seorang murid baru dari Jogya, Indriyani (Paramitha Rusady) yang langsung membuat Ferdian kesengsem padanya. Hal ini membuat Lia marah pada Ferdian, apalagi setelah tanpa sengaja Lia dan Indriani berada dalam suatu supermarket, Indriani kebingungan mencari Ferdian dan memanggil-manggil namanya. Maka Lia pun bertanya-tanya siapa Ferdian yang di maksud,apakah Ferdian pacarnya atau hanya orang lain. Maka Lia mencari informasi dari teman sekelas Ferdian yang juga teman lengketnya, Gugun.

Mendapatkan informasi yang berharga, membuat Lia terbakar cemburu, ia mendatangi sekolah Indriani dan terjadilah adu debat di halaman sekolah. Mereka saling tampar, namun dapat di lerai oleh Ferdian.  Lia adalah gadis yang tidak mau tersaingi dan keinginannya tidak boleh ada yang menghalangi, untuk menghalalkan segala cara agar ia mendapatkan Ferdian kembali, Lia menyuruh orang untuk menculik Indriani.

Usaha penculikan pun berhasil ketika Indriani berada di depan rumahnya sepulang sekolah. Ia di bekap dan dinaikan dalam mobil. Namun penculikan ini di ketahui oleh pembantu Indriani, mereka segera minta tolong dan secara kebetulan datanglah Ferdian dengan motornya . Ferdian langsung mengejar, salah satu mobil penculik terbalik. Namun mobil yang satu lagi berhasil membawa Indriani ke sebuah rumah kosong. Ferdian berhasil mengendusnya dan langsung melabrak masuk melalui jendela kaca yang hancur tertembus motor. Indriani dapat di selamatkan.

Usaha Lia untuk mendapatkan Ferdian tidak berhenti hingga disini, ia mencoba peruntungan dari seorang dukun yang menyuruhnya mencuri celana dalam yang habis di pakai oleh Ferdian. Diam-diam Lia mengikuti Ferdian yang sedang di kolam renang. Ia menyelinap ke kamar ganti laki-laki. Maka di dapatkanlah celana dalam itu, namun sayangnya celana dalam tersebut yang jatuh di bawah Ferdian ternyata bukan miliknya, tapi milik orang lain. Maka Lia tidak berhasil membuat Ferdian bertekuk lutut, tapi malah orang lain yang datang dan langsung memeluk Lia.

Merasa belum puas untuk mendapatkan Ferdian setelah usahanya gagal, Lia kali ini menyuruh orang untuk menteror Indriani ketika sedang berada di toilet sebuah diskotik. Ia mengatakan akan menghancurkan muka Indriani kalau  masih berhubungan dengan Ferdian. Seketika itu juga Indriani langsung menjauhi Ferdian dan pulang naik taksi. Ferdian tidak habis pikir.

****

Suatu hari sekolah mengadakan study tour. Mereka menginap. Melalui seorang temannya, Lia tahu kemana mereka study tour dan menginap. Maka di pancinglah Indriani untuk masuk kesebuah ruangan kosong. Keduanya berantem, karena Indriani merasa sudah meninggalkan Ferdian, namun Ferdianlah yang selalu mengejarnya. Sedangkan Lia merasa kalau ialah yang berhak mendapatkan Ferdian. Namun sayang ketika sedang terjadi perkelahian, lampu minyak dipukul oleh Lia dan jatuh yang langsung membakar pintu, sedangkan Lia sendiri akhirnya jatuh tertimpa lemari. Merasa tidak tega Indriani menolong Lia dari jepitan lemari. Akhirnya Lia minta maaf dan membiarkan hubungan Indriani dengan Ferdian.

 

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

ANNA TAIRAS & ENNY BEATRICE DALAM FILM ‘ PATAH HATI SEORANG IBU ‘

Posted by jejakandromeda on March 1, 2012

JUDUL FILM                        : PATAH HATI SEORANG IBU

SUTRADARA                       : AGUS ILLIAS

CERITA                                  :  H USMAN EFFENDY

SKENARIO                           :  NASRUL RAMADHAN

MUSIK                                  : FRANKY RADEN

PRODUSER                          : SHONNY EFFENDY

TAHUN PRODUKSI           : 1985

PRODUKSI                           : PT. INEM FILM

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                              : ANNA TAIRAS, PONG HARJATMO, ALAN NUARI ENNY BEATRICE, WD WMOCHTAR, TUTI WASIAT, GINO MAKASUCI, ERNA SANTOSO, TIEN KADARYONO

SINOPSIS :

Marni (Anna Tairas) membesarkan 4 anaknya, Fauzi, Firman, Fadly dan Tanti setelah ayah mereka bunuh diri akibat hutang berjudi yang menjeratnya. Tiga Tahun telah berlalu, dan kini setelah tiga tahun dari kejadian itu, datanglah Erwin (Pong Harjatmo) seorang pelaut yang ingin mempersunting Marni. Namun niat Erwin ditentang oleh anak-anak Marni yang tidak mau kehadiran ayah tiri, terutama anak pertama mereka Fauzi. Bahkan kakek mereka (WD Mochtar) juga tidak mau kalau Marni menikah dengan Erwin karena dianggap akan mengambil harta ayah mereka.

Fauzi memang anak yang nakal, baik di rumah maupun di sekolah ia tidak mau kalah. Ketika Fauzi kedapatan sedang merokok, maka datanglah Erwin yang mengaku sebagai omnya dan mewakili wali Fauzi, namun Fauzi menolak keras agar Erwin tidak mencampuri urusannya. Ia meminta kakeknya yang datang.  Suatu hari ketika Fauzi sedang berlari bersama adiknya Firman, ia tertabrak mobil yang membuatnya di bawa ke rumah sakit.  Erwin dan Marni berniat untuk menikah, namun selalu ditentang oleh anak-anaknya dan kakek mereka, sehingga gagallah pernikahan mereka.

****

Kini mereka sudah tumbuh dewasa, Fauzi (Alan Nuari) sudah memiliki usaha yang patungan dengan Misye (Tuti Wasiat), Tanti (Enny Beatrice ) menjadi artis sedangkan Fadly  yang dulu dianggap anak pungut kini sudah menjadi dokter. Sementara Marni sendiri kini sudah memiliki butik sendiri. Namun sayang sekali kelakuan anak-anaknya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Misye dan Fauzi memang pacaran dengan usaha ditangan mereka. Namun Fauzi tidak juga menikahi Misye bahkan uang Fauzi habis di pakai untuk teman-temannya minum-minum.  Fadly meski seorang dokter namun ia berhasil di rayu oleh Misye hingga mencintainya. Fadly patah hati ketika melihat Fauzi dan Misye menikah hingga bunuh diri. Sementara Tanti, hamil dengan seorang sutradara film dan juga seniman lain (Fendy Sukowati). Firman akhirnya pun harus ditangkap polisi setelah membunuh pacar Tanti yang seorang seniman.  Sedangkan Fauzi akhirnya menuntuk pada ibunya untuk mengambil sertifikat ayahnya. Saat itulah datang Erwin dan memukul Fauzi. Namun Marni marah pada Erwin agar tidak turut campur karena bagaimanapun Fauzi adalah anaknya. Marni menyerahkan surat-surat pada Fauzi, dan ia kembali ke panti asuhan seperti dahulu.

Saat itulah Fauzi baru tahu dari surat yang di tulis ayah kandungnya sebelum meninggal. Ia menyesal dan menginginkan ibunya untuk kembali. Namun Marni menolaknya.

Posted in Umum | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »

MERIAM BELLINA & RAY SAHETAPY DALAM FILM ” PELANGI DI BALIK AWAN”

Posted by jejakandromeda on January 16, 2012

JUDUL FILM                        : PELANGI DI BALIK AWAN

SUTRADARA                       : HENGKI SOLAIMAN

PRODUSER                          : HANDY MULYNO

PRODUKSI                           :  PT. KANTA INDAH  FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1984

JENIS                                     : FILM DRMA

PEMAIN                              : MERIAM BELLINA, RAY SAHETAPY, ZAINAL ABIDIN, IDA KUSUMAH, ADE IRAWAN, HARRY CAPRI

SINOPSIS :

Mira (Meriam Bellina) gadis SMA tinggal bersama Ibunya Sumiati (Ade Irawan). Sehari-harinya Mira membantu ibunya mengantarkan kue untuk menyambung hidupnya. Sebenarnya Mira memiliki seorang Ayah (Zainal Abidin) yang selalu memberikan jatah bulanan, namun untuk mencukupi hidup maka Sumiati berjualan kue. Sumiati terpaksa pergi dari rumah suaminya dan memilih tinggal sendiri setelah di tuduh dan di fitnah oleh Yati (Ida Kusumah) istri kedua ayahnya.  Pada awalnya Sumiati kesulitan memiliki anak sehingga ia merelakan suaminya untuk menikah dengan Yati. Namun ketika mereka sudah menikah, Sumiati ternyata hamil dan melahirkan Mira. Sementara itu anak dari Yati terdiri dari Neneng yang tertua, Euis dan Rony.  Selepas kelahiran Mira, Yati melancarkan hasutan terhadap suaminya dan memfitnahnya sehingga Sumiati hampir di ceraikan dan terpaksa pergi dari rumah sendiri.

Seperti biasa Mira meminta jatah bulanan ke ayahnya, namun selalu Yati yang memberikan dengan bersungut-sungut.  Mira juga sering di olok-olok oleh anak kedua mereka Euis.  Berbeda dengan Euis, Neneng kakaknya lebih pendiam.

Suatu hari rumah Yati kedatangan seorang Insinyur lulusan luar negeri bernama Rahmat (Ray Sahetapy) yang akan di jodohkan dengan Neneng. Sebelumnya Ayah mereka telah berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka. Di saat yang bersamaan datanglah Mira kerumah Yati untuk meminta jatah bulanan.  Tanpa ba bi bu Yati langsung memberikannya dan segera menyuruh Mira pulang karena ayahnya sedang ada tamu penting. Yati bahkan melontarkan kata-kata yang tidak enak bagi Mira. Mira balas menantang kata-kata Yati dengan perbuatannya. Ia nimbrung ke ruang tamu yang ada Rahmatnya. Kehangatan Mira membuat Rahmat tertarik, bahkan ia segera menyusul Mira pamitan. Rahmat mengantarkan Mira pulang kerumahnya.

Hubungan mereka pun berlanjut dan disetujui oleh ayah mereka. Namun tidak demikian dengan Yati. Ia tetap ingin Neneng yang menjadi istri Rahmat.

Perilaku Yati yang hasut dan suka memfitnah ternyata di kemudian hari ketahuan oleh Mira. Ia hanya menutupi atas perbuatannya sendiri yang main serong dengan Alfons. Perbuatan ini berhasil diketahui oleh Mira. Mira pun akhirnya memberitahukan pada ayahnya, maka terbukalah mata ayahnya tentang siapa sebenarnya Yati, bahkan anak ketiga mereka Rony ternyata adalah buah dari perselingkuhannya dengan Alfons.

Akhirnya Sumiati memaafkan kembali suaminya dan mereka pun berkumpul kembali. Sedangkan Yati akhirnya di tangkap bersama Alfons karena telah membawa lari perhiasan ayah Mira.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

BENYAMIN S DAN RANO KARNO DALAM FILM “SI RANO”

Posted by jejakandromeda on June 15, 2011

JUDUL FILM                        : SI RANO

SUTRADARA                       : MOTINGGO BUSYE

PRODUSER                          : DJOKO M WARSOSENTONO

CERITA                                  : MOTINGGO BUSYE

SKENARIO                           : MOTINGGO BUSYE

MUSIK                                  : GATOT SUBROTO

PRODUKSI                           :  PT.  FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1973

JENIS                                     : FILM DRAMA-

PEMAIN                              : RANO KARNO, BENYAMIN S, RATMI B-29, NANIN SUDIAR, NETTY HERAWATY, MARLIA HARDI

SINOPSIS :

Bang Amin (Benyamin S) dan Istrinya (Ratmi B29) sudah 11 tahun menikah namun belum di karuniai anak, sehingga Bang Amin merasa kesepian dan ingin sekali memiliki seorang anak. Sehari-hari Bang Amin berjualan Gorengan keliling untuk menghidupi keluarganya. Suatu hari di stasiun kereta Api Jatinegara, Rano (Rano Karno) dan ayahnya baru datang dari kampung turun dari kereta untuk menunggu jemputan dari pamannya. Namun di cari-cari tidak ada, sementara ayahnya tengok kanan tengok kiri, Rano pergi menyelinap untuk membeli gorengan.

Ayah Rano mencari-carinya namun tidak ketemu. Sial bagi ayah Rano, karena semenjak turun dari kereta sudah menjadi perhatian kawanan copet, yang mencopet dompet penumpang dan melemparkannya ke tubuh Ayah Rano yang kebingungan. Alhasil Ayah Rano di tuduh sebagai pencopetnya dan babak belur di hajar massa. Ayah Rano di amankan dan di bawa ke kantor polisi. Rano yang baru saja membeli gorengan kaget ketika melihat ayahnya babak belur di atas mobil polisi. Ia memanggil ayahnya namun sia-sia. Rano dan ayahnya terpisah.

Beruntung Rano kembali bertemu dengan Bang Amin yang menjual gorengan yang mengajaknya untuk ikut dengannya. Rano dibawa kerumah bang Amin dan dianggap anak sendiri oleh pasangan suami istri yang telah lama mendambakan anak. Meski pada awalnya Rano selalu teringat ayahnya, namun lambat laun ia mampu melupakannya. Bahkan Rano dianggap sebagai anak pembawa rejeki oleh Bang Amin dan Istrinya karena sejak kedatangan Rano, jualan Bang Amin menjadi laku keras. Bahkan Rano akhirnya di sekolahkan oleh Bang Amin, setelah Bang Amin mendapatkan rejeki dari hasil menjadi makelar tanah.

Sementara itu di kantor polisi, ayah Rano terbebas dari hukuman karena tidak terbukti mencopet, namun ia bingung harus kemana karena tidak ada tujuan. Akhirnya ia menggelandang, bahkan makan juga dari sisa-sisa makanan di tempat sampah.

****

Di sekolah Rano terkenal sebagai anak yang pintar namun nakal. Hingga gurunya yang sakit-sakitan juga sering di kerjain oleh Rano. Namun meski kesal pada Rano, suatu saatu guru tersebut sangat terharu ketika ulang tahunnya di rayakan oleh murid-murid kelasnya.

Disekolah Rano kedatangan murid baru bernama Dewi. Awal kedatangan Dewi di kelas sudah menjadi bahan ledekan bagi Rano karena ia diantar oleh kakeknya ke sekolah. Dewi sempat di buat menangis oleh Rano sebelum akhirnya gurunya datang.  Bahkan Kakeknya (Farouk Afero) sempat kejar-kejaran dengan Rano karena di kerjain. Namun demikian Rano dan Dewi akhirnya berkawan. Bahkan Rano di ajak kerumah Dewi, yang tinggal bersama ibu dan kakeknya karena ayah Dewi sudah meninggal. Namun sayang, kedatangan Rano tidak di sukai oleh ibunya karena mengotori rumahnya dengan sepatunya, dan menganggap dirinya kaya. Rano menjadi tersinggung dan pulang.

Keesokan harinya, Rano kembali datang, namun kali ini dengan penampilan berbeda. Ia berpenampilan necis layaknya orang kaya. Melihat penampilan Rano, Ibu Dewi pun dengan senang hati menerimanya apalagi setelah Rano mengaku berasal dari Menteng yang rumahnya paling tinggi, membuat Ibu Dewi semakin kesengsem dan menyuruh Rano untuk mengundang papa dan mamanya kerumah. Ranopun akhirnya menyuruh Bang Amin dan istrinya untuk ke rumah Dewi. Namun sayang melihat penampilan Ibu Angkat Rano, Ibu Dewi begitu merendahkan. Namun akhirnya ia disadarkan oleh Dewi kalau dulu sebenarnya juga orang miskin, namun kaya karena mendapat warisan dari seesorang.

Di luar rumah Rano sendiri terhadap seorang gelandangan tua yang selalu memperhatikan kedatangan dan penampilan Rano. Namun sayang gelandangan tersebut akhirnya meninggal setelah kembali di pukuli karena dituduh menjambret. Orang tersebut juga ternyata adalah Ayah Rano. Sebelum meninggal ayah Rano menitipkan Rano pada Bang Amin dan istrinya.

****

Tidak semua film-film Benyamin S komedi, namun di film ini, Si Rano cukup menyentuh dengan keluguan dan kesederhanaan keluarga Amin.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

JAMAL MIRDAD DALAM FILM “PANTANG MUNDUR”

Posted by jejakandromeda on May 3, 2011

JUDUL FILM        : PANTANG MUNDUR

SUTRADARA       : DASRI YACOB

PRODUKSI           : PT. INEM FILM

CERITA                  : MARLAN JASS

PRODUSER          :  SHONNY S

JENIS                     : FILM DRAMA LAGA

PEMAIN               : JAMAL MIRDAD, TANAKA, JOHAN SAIMIMA, HARRY CAPRI, YAN BASTIAN, YUYU YOHANA, NINA ANWAR

SINOPSIS :

Ganesha (Johan Saimima) dan istrinya yang sedang mengandung berkeliling, mengelilingi pantai setelah berbincang-bincang dengan seorang perwira polisi Bahrum (Yan Bastian). Ganesha adalah seorang lelaki yang selalu membela kebenaran. Ia bersama istrnya yang tengah hamil tua mendaratkan perahunya yang baru di pakai. Namun belum jauh ia berjalan, Ganesha di tembaki orang yang tidak dikenal hingga ia tewas. Istrinya yang sedang hamil berusaha menolong suaminya, namun tidak tertolong. Sementara istrinya sendiri akhirnya harus menemui ajal setelah melahirkan anaknya.

Mendengar tembakan-tembakan, Bahrum membawa anggotanya untuk menelusuri darimana asal tembakan. Ia mendapati Istri Ganesha telah melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diangkat menjadi anaknya dan diberi nama Ganesha Junior.

Ganesha telah beranjak remaja. Ia kini sudah duduk dibangku SMA. Ganesha memiliki bakat menyanyi karena suaranya memang bagus. Sementara itu kakak Angkatnya Hari (Harry Capri) menyarankan Ganesha Jr untuk memiliki ilmu silat agar bisa jaga diri. Pendapat ini di benarkan oleh Bahrum ayah angkatnya yang kini telah pensiun. Mereka kuatir kalau-kalau musuh ayahnya akan membalas dendam pada Ganesha Jr.  Namun Ganesha tidak mengikuti sarannya, ia hanya percaya kalau Tuhan yang akan membantunya.

Sementara itu musuh-musuh ayah Ganesha masih berambisi untuk membalas dendam pada Ganesha Jr. Mereka merencanakan penculikan pada remaja yang panda menyanyi tersebut.

****

Ganesha yang telah beranjak remaja memiliki kedekatan dengan seorang gadis teman sekelasnya Lia (Ayu Yohana). Namun kedekatan Ganesha dengan Lia tidak di sukai oleh Ibu Lia, karena menganggap asal usul Ganesha yang tidak jelas. Meski Lia berusaha menjelaskan, namun ibunya tetap tidak menyetujuinya.

Suatu siang, seperti biasa Tineke (Tanaka) seorang lelaki bencong yang selalu menjemput Ganesha di dekati oleh seorang pria tampan. Dasar bencong, Tineke mau saja di ajak ke belakang, hasilnya ia di pukul, sementara tugas menjemput Ganesha pun gagal, karena orang tersebut ternyata adalah penculik Ganesha. Ganesha di culik dan di sekap. Namun ia berhasil meloloskan diri setelah para penculik memintanya menyanyi, dan Ganesha mengeluarkan teriakan yang dapat memekakan telinga. Ganesha lolos dan dapat kembali ke rumah, tepat di saat pentas music siang di sekolahnya. Namun disaat yang bersamaan Lia akhirnya di culik oleh penculik Ganesha.  Penculikan ini di lihat oleh bibi pembantu rumah Bahrum yang segera melaporkannya pada Bahrum yang sedang menyaksikan pentas music siang di sekolah.

Akhirnya Bahrum dan anaknya Hari serta pembantunya Tineke menyusun kekuatan untuk membebaskan Lia, kecuali Ganesha yang disuruh tinggal di rumah . Namun akhirnya Ganesha ikut menyusul mereka dengan motor ke rumah penculik. Hasilnya Ganesha  tertangkap dan kembali di ikat disatukan dengan Lia. Melalui pertarungan yang cukup kocak, akhirnya Ganesha dan Lia dapat di selamatkan.

*****

Pantang mundur merupakan film lanjutan film Ganesha (1983). Film ini cukup membingungkan dilihat dari genre film ini sendiri, karena terdapat nyanyian, perkelahian juga komedi. Film ini juga mengkombinasikan dengan tarian jaipongan.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

MERIAM BELLINA DAN LIDYA KANDOU DALAM FILM ” BONEKA DARI INDIANA”

Posted by jejakandromeda on April 21, 2011

JUDUL FILM        : BONEKA DARI INDIANA

SUTRADARA       : NYAK ABBAS AKUB

PRODUKSI           : PT. PARKIT   FILM

CERITA                  : NYAK ABBAS AKUB

SKENARIO           : NYAK ABBAS AKUB

PRODUSER          :  DHAMOO PUNJABI, GOBIND PUNJABI, RAAM PUNJABI

TAHUN PROD    : 1990

JENIS                     : FILM DRAMA

PEMAIN               : DIDI PETET, MERIAM BELLINA, LIDYA KANDOU, IDA KUSUMAH, AMI PRIYONO, EENG SAPTA HADI

SINOPSIS :

Egi (Didi Petet) dangan Cece (Lidya Kandou) adalah sepasang suami istri. Egi adalah seorang suami yang selalu menuruti apa kehendak istrinya, termasuk juga memasak sarapan paginya sesuai dengan keinginan Cece. Sementara itu Cece sendiri adalah seorang istri yang pemalas, kerjaannya adalah arisan, makan pagi selalu di sediain Egi. Meski  Cece pemalas,namun segala urusan tetek bengek rumah tangga cece yang mengatur, dengan menyuruh Egi. Egi selalu di bawah pengaruh Cece.  Kehidupan Cece yang berasal dari keluarga kaya membuatnya hanya bersuka ria saja, termasuk juga membeli barang-barang berharga seperti emas yang sebetulnya tidak di perlukan.

Suatu hari, rumah sebelah di kabarkan akan di jual. Untuk itulah Cece menyuruh suaminya, Egi untuk melihat rumah tersebut dan bermaksud untuk membelinya. Maka berangkatlah Egi ke tempat orang yang ditugaskan untuk menjual rumah tersebut. Namun Egi telah keduluan sama Eya (Meriam Bellina) yang sampai terlebih dahulu di rumah orang yang akan menjualnya. Eya pun langsung menawarnya, sementara Egi menyusul untuk melihat rumah tersebut.  Keduanya berdebat tentang siapa yang akan duluan untuk melihat rumah tersebut.  Segera mereka menuju mobil masing-masing dengan membawa seorang pembantu laki-laki yang ditugaskan untuk mengantarkan mereka untuk melihat rumah yang akan dijual.

Perdebatan antara Egi dan Eya pun terjadi tentang mobil siapa yang akan di tumpangi oleh pembantu tersebut. Akhirnya pembantu tersebut lebih memilih untuk ikut di mobil Eya. Namun sial, ban mobil Eya kemps, al hasil akhirnya mereka berangkat menggunakan mobil Egi. Perdebatan antara Egi dan eya membuat akhirnya keduanya saling kenal.  Hubungan pertemanan pun berlanjut. Hal ini di pergoki oleh pembantu Egi yang melaporkan pada istrinya Cece. Melihat Egi dan Eya, Cece pun cemburu dan langsung melaporkan pada orangtuanya, Tuan Yudho (Ami Priyono) dan Ibunya (Ida Kusumah).

Akhirnya untuk mengintrogasi menantunya, Yudho dan istrinya pergi kerumah Cece untuk melihat gelagat Egi.

Namun, meski awalnya mau marah-marah, namun Yudho akhirnya justru berbalik. Ia justru menyuruh Egi untuk mendekati Eya demi sebuah tanda tangan dari seorang pejabat mengenai proyek yang akan di kerjakan. Eya adalah seorang wanita simpanan pejabat yang harus menandatangani Proyek Yudho agar berhasil, walau Proyek tersebut berdampak pada lingkungan. Meski awalnya Cece cemburu, namun Yudho meyakinkan Cece kalau itu hanya pura-pura, hanya demi sebuah tanda tangan melalui tangan Egi dan Eya. Egi pun menjadi boneka mertuanya demi sebuah tanda tangan.

Akhirnya setelah melalui beberapa tahapan akhirnya Eya berhasil mendapatkan tanda tangan dari pejabat dan menyerahkannya pada Egi. Betapa girang hati Yudho karena Egi telah berhasil mendaatkan surat yang diinginkan dan akan segera menjalankan proyek walau proyek tersebut akan merusak lingkungan. Egi kesal pada mertuanya. Puncaknya Egi merebut kembali surat yang telah ditandatangani dan telah menyerahkannya pada Yudho. Egi merobek-robek isi surat tersebut, sedangkan Yudho menjadi marah besar.

Setelah kemarahan tersebut, Egi akan kabur meninggalkan mereka, namun Cece mencegahnya. Akhirnya Cece berusaha untuk menjadi istri yang baik, Egi pun normal menjalankan kewajibannya sebagai suami Cece.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

SUZANNA & ROBBY SUGARA DALAM FILM “PULAU CINTA”

Posted by jejakandromeda on April 12, 2011

JUDUL FILM        : PULAU CINTA

SUTRADARA       : ALI SHAHAB

PRODUKSI           : PT. INEM  FILM

CERITA                  : ALI SHAHAB

PRODUSER          :  NY LEONITA SUTOPO

TAHUN PROD    : 1978

JENIS                     : FILM DRAMA

PEMAIN               : SUZANNA, ROBBY SUGARA, NUR AFNI OCTAVIA, PARTO TEGAL, MOCH MUCHTAR, TONI ADEG

SINOPSIS :

Biran (M Mochtar) dan anaknya Ari (Toni Adeg) Serta Maria (Suzanna) dan Kiki (Nur Afni Oktavia) anaknya adalah orang-orang yang tersisa di suatu pulau terpencil. Mereka Hidup di bawah tekanan Karto (Parto Tegal) seorang nelayan yang kejam. Karto adalah bekas pembantu suami Maria,Johanes yang telah meninggal, namun Karto mengambil Alih  kapal milik Maria untuk mencari ikan sebagai nelayan tanpa sepeserpun memberikan hasilnya pada Maria.

Suami maria Johanes, dulunya adalah seorang Angkatan laut, namun ia akhirnya memilih pindah kesebuah pulau terpencil untuk menjadi nelayan setelah menikahi Maria. Johanes membelikan Kapal pada Maria. Johanes mengoperasikan kapal dengan di bantu oleh Karto, anak buahnya yang cukup baik. Namun sayang, sepeninggal Johanes, Karto yang memiliki nafsu berkuasa terlalu serakah. Johanes di kabarkan meninggal oleh Karto karena Badai.

Karto tinggal satu atap dengan Maria tanpa ikatan apapun, sedangkan Maria yang memiliki kapal justru tidak mendapatkan apa-apa. Namun Maria tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan Karto. Bahkan para tetangga Maria pun satu persatu meninggalkan pulau tersebut. Maka kini di pulau tersebut hanya tinggal Keluarga Biran seorang penjaga Mercusuar dan Keluarga Maria yang selalu dalam tekanan Karto.  Meski Karto selalu menjual ikan ke Jakarta, namun sepeserpun Maria tidak pernah mendapatkannya. Karto bertindak kejam, bahkan ketika batuk yang di derita Maria tak kunjung sembuh pun Karto tetap tidak mau membelikan obat. Meski berkali-kali Ia nitip untuk dibelikan ketika ke Jakarta.

*****

Suatu hari, terdapat sebuah kapal yang kandas dan terdampar di pulau tersebut. Dua buah anak buah kapal tewas, sedangkan Kaptennya (Robby Sugara) selamat meski harus terluka di kakinya karena tertimpa besi. Biran dan Ari akhirnnya menolong mereka dengan di bantu oleh Kiki. Kedua ABK yang meninggal akhirnya di kuburkan, sedangkan Kaptennya di selamatkan oleh Maria. Ia dirawat oleh Maria, hingga hampir sembuh. Kedatangan Kapten kapal tersebut sedikit mengobati hati Maria karena ia akhirnya menjadi teman curhat. Maria menceritakan siapa dia sebenarnya juga menceritakan kelakuan Karto pada Kapten.

Sementara itu Karto pulang setelah ia menjual hasil tangkapannya ke Jakarta bersama anak buahnya. Karto heran karena terdapat dua gundukan tanah yang merupakan kuburan. Ia menduga kalau bukan Maria sama Kiki pasti Biran dan Ari. Namun untuk memastikannya ia menyuruh anak buahnya untuk menggali kubur tersebut. Belum selesai mereka menggali kubur datanglah Ari yang menjelaskan pada Karto tentang siapa mereka, dan tentang Kapten.

Mendengar cerita Ari, Karto pun marah. Apalagi setelah melihat Maria sedang mengobati Kapten, Karto pun marah. Akhirnya kapten pindah ke kapalnya yang hancur untuk memperbaiki radio agar bisa tersambung dengan dunia luar. Sementara itu Karto dibuat marah karena berkali-kali Maria menyuruh Kiki untuk mengantarkan makanan pada Kapten. Bahkan Karto mengancam akan membakar kapal Kapten jika Kiki masih saja mengantarkan makanan pada Kapten. Akhirnya Maria dan Kiki menuruti kehendak Karto. Sementara itu Kiki akhirnya menceritakan keadaan tersebut pada Ari. Aripun akhirnya mau mengantarkan makanan pada Kapten. Namun Biran mewanti-wanti pada Ari sebisa mungkin agar tidak berpapasan dengan Karto.

Sementara itu Kapten memperbaiki kapal yang bocor dengan menyelam. Namun ia justru berhasil menemukan setitik rahasia. Ia menemukan kalung yang mirip di pakai dengan Maria. Namun Kapten menyimpan rahasia tersebut.

Namun usaha Ari untuk memberi makan pada Kapten akhirnya ketahuan juga oleh anak buah Karto, Bokir dan Boim. Akhirnya setelah di ancam, Ari tidak mengirimkan makanan lagi pada Kapten. Sementara itu karto marah sekali setelah tahu kalau Ari mengirimkan makanan atas suruhan Kiki. Ia memukul Kiki. Sudah seminggu Kapten tidak mendapatkan makanan dan minuman karena air di pulau itu asin. Akhirnya turunlah hujan yang merupakan harapan bagi kapten untuk meminum air yang tidak asin. Ia menampung air hujan. Namun air hujan yang ditampungnya di tumpahkan oleh Bokir dan Boim . Mereka berkelahi, akhirnya Boim dan Bokir dapat di bunuh oleh Kapten.

Sementara itu, melihat kematian Kapten, semakin geramlah Karto pada Kapten. Karto sudah merasa terganggu akan kehadiran Kapten, dan berniat menghabisinya. Maka berangkatlah ia ke Kapal Kapten yang terombang ambing di laut. Namun belum lagi niatnya tercapai, Karto sudah di todong dengan pistol oleh Kapten, sehingga niat untuk membunuhnya pun gagal. Bahkan Kapten berhasil membongkar tentang kematian Johanes suami Maria yang mati dibunuh oleh Karto bukan atas badai seperti apa yang Karto bilang pada Maria dan orang-orang sekitarnya.

Kapten menyuruh Karto untuk pergi, namun kepergian Karto ke daratan adalah dengan tujuan untuk membunuh Maria dan Kiki agar tidak merepotkanya. Sesampai di rumah, Karto tidak mendapatkan Maria dan Kiki. Ia menduga pasti mereka berada di menara Biran. Segera Karto ke menara Biran dan mendapati Maria dan Kiki di sana ketika sedang menuju pantai tempat Kapten berada. Akhirnya Karto menyandera Maria, Kiki dan Biran, sementara Ari di suruh Karto untuk memberitahu Kapten agar ia datang ke menara dengan ultimatum dalam 1 jam maka mati 1 orang jika tidak datang, begitu seterusnya.

Di dalam kapal, Kapten berusaha menghubungi polisi lewat radio yang telah di perbaiki untuk menyelamatkan Maria dan Kiki dari sandraan Karto setelah Ari berhasil menghubunginya. Maka ketika polisi sudah datang, Kapten segera membawa mereka menuju menara untuk menyelamatkan. Namun Kapten tidak langsung muncul karena ia akan langsung di tembak. Sehingga Karto menjadi geram, apalagi setelah Kapten berhasil memberitahu siapa pembunuh Johanes sebenarnya pada Maria, maka Maria pun marah dan membentur benturkan kepala Karto.

Melalui bantuan helicopter, Maria, Kiki dan Biran dapat di selamatkan, sementara itu Karto sendiri akhirnya tewas setelah jatuh dari atas menara sedangkan Jenasah Johanes yang tinggal tengkoraknya saja, akhirnya di lakukan penguburan yang di saksikan oleh para anggota poisi.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

TATIEK TITO & EMILIA CONTESSA DALAM FILM “TETESAN AIR MATA IBU”

Posted by jejakandromeda on March 17, 2011

JUDUL FILM        : TETESAN AIRMATA IBU

SUTRADARA       : IKHSAN LAHARDI

PRODUKSI           : PT. ARTA CATA FILM

CERITA                  : DJUREMI WANGSANATA

PRODUSER          :  DJUREMI WANGSANATA , DARMAWAN TANUDJAJA

TAHUN PROD    : 1974

JENIS                     : FILM DRAMA

PEMAIN               : TATIEK TITO, ANDY AURIC, EMILIA CONTESSA,  S BAGYO, A HAMID ARIEF, BAMBANG IRAWAN, RUTH PELUPESSY,

SINOPSIS :

Suparta (Andy Ayric) cuti selama seminggu dari tugasnya sebagai seorang perwira. Ia pulang ke kampung menemui Ibunya. Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan rombongan sandiwara. Ia bertemu dengan Yunengsih (Tatiek Tito) salah seorang yang masuk rombongan. Yunengsih merupakan gadis yatim piatu yang sudah ditinggal oleh orang tuanya. Ia mengikuti rombongan untuk menari. Maka di undanglah Suparta untuk melihat pertunjukkanya nanti malam.

Dalam pertunjukkan, Yunengsih alias Ningsih menari namun terlihat gemuk seperti orang hamil oleh Ibu Suparta. Namun Suparta beranggapan kalau Ningsih Cuma gemuk saja. Esoknya ketika Suparta dan Ningsih bertemu, maka Ningsih berterus terang kalau ia hamil atas Suparta. Namun Ia juga tidak menuntut karena Suparta adalah anak orang kaya, ningrat. Namun Suparta bersedia untuk bertanggungjawab atas kehamilan Ningsih. Ia akan mengawininya.

Maksud Suparta untuk mengawini Ningsih ditentang oleh Ibunya, karena ia merasa memiliki darah ningrat sehingga Ningsih tidak pantas untuk menikah dengan  Suparta. Meski Suparta bersikeras untuk menikahinya, namun dengan berbagai cara Ibunya berusaha memisahkan mereka. Salah satunya adalah dengan menyuruh ketua rombongan Sandiwara (A Hamid Arief) untuk pindah dari desa tersebut, walau pentas masih satu bulan lagi. Akhirnya mereka pun pindah setelah di kasih uang ganti rugi, Ningsih akhirnya tahu kalau kepindahan tersebut atas ulah Ibunya Suparta setelah di beritahu oleh rekannya yang cacat (S. Bagyo).

Sementara itu Ningsih pun akhirnya harus di usir dari rombongan setelah di fitnah oleh istri majikannya (Ruth pelupessy). Ningsih ditemani oleh rekannya yang cacat akhirnya pergi kesebuah kampung untuk melahirkan anaknya.

Sementara itu Suparta gugur dalam revolusi. Ibunya bersedih. Atas saran pembantunya, akhirnya Ibunya mencari cucunya karena itulah satu-satunya keturunan yang masih hidup. Setelah menemui kepala Rombongan Sandiwara yang dulu ia kenal, maka iapun di beritahu kalau Ningsih berada  di cikampek. Segeralah ia menyusul dan berhasil menemukan rumah Ningsih. Merasa sakit hatinya belum hilang, Ningsih selalu ketus dalam berbicara, namun Ibu Suparta selalu memelas, apalagi setelah menceritakan kalau Suparta telah tewas, maka lambat laun Ningsih mulai luluh, bahkan ia memberikan bayinya ketika ia disuruh membuat untuk anaknya oleh Ibu Suparta, sementara anaknya di gendongan Ibu suparta. Ningsih tidak curiga kalau itu hanya siasat dari Ibu Suparta untuk dapat menculik cucunya.

Mengetahui anaknya di culik, Ningsih pun lari dan mencari kestasiun, namun sudah telat. Akhirnya Ningsih pergi ke Jakarta untuk menemui rombongan Sandiwara lagi. Namun sayang akhirnya Ningsih justru di jual ke Sugianto (Bambang Irawan) oleh Bos Sandiwara dan Istrinya. Ningsih tidak keberatan, karena dengan Sugianto ia lebih banyak memiliki uang. Bahkan Ningsih akhirnya dapat bertemu Suparti (Emilia Contessa) anaknya secara tidak sengaja ketika ia sedang berjalan bersama Sugianto. Namun sayang rahasia belum terungkap. Suparti tinggal bersama neneknya yang selalu menutupi keberadaan Ibunya, namun demikian kerinduan Suparti pada ibunya tidak pernah habis hingga ia tuangkan dalam suatu pertujukkan nyanyi yang ia tujukan untuk ibunya. Akhirnya Suparti diundang oleh Ibunya untuk datang melalui temannya yang cacat.

Meski awalnya Parti tidak mau mengakui ibunya, namun setelah di beri penjelasan akhirnya ia pun mau mengakui ibunya dan memanggil Ibu ketika Ningsih dalam kondisi putus asa dan akan bunuh diri.

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

EL MANIK & DEDDY SUTOMO DALAM FILM “JAKARTA JAKARTA”

Posted by jejakandromeda on February 7, 2011

JUDUL FILM        : JAKARTA JAKARTA

SUTRADARA       : AMI PRIYONO

CERITA                  : GP HARY RIANTIARNO & AMI

PRODUSER          : HASRAT DJOER

TAHUN PROD    : 1977

JENIS                     : FILM DRAMA

PEMAIN               : EL MANIK, DEDDY SUTOMO, RAE SITA SUPIT, RICHA RACHIM, RUDY SALAM, SITORUS, MASITO, DODDY SUKMA, NUGRAHA

SINOPSIS :

Film Jakarta-jakarta mengambil setting ketika pesta olah raga nasional PON tahun 1977 di selenggarakan, Gubernur DKI Ali Sadikin ikut memberikan semangat dalam PON tersebut, dan para atlit yang ikut berlaga. Api Pon yang terus menyala menjadi selingan film Jakarta Jakarta.

*****

 

Tumbur Silitonga (El Manik) datang ke Jakarta dengan menaiki kapal. Sebelum turun dari kapal, Tumbur sempat menolong seorang wanita untuk membawakan tasnya. Tumbur datang ke Jakarta untuk menemui tulangnya (pamannya) yang memiliki bengkel. Namun malang bagi Tumbur, ketika sedang melepas lelah ia di datangi oleh preman-preman dan merampas tas bawaannya. Tidak hanya di rampas barang bawaannya, tumbur juga harus pingsan setelah di hajar oleh preman-preman  tersebut.  Tidak hanya itu, Ijazah yang di bawa Tumbur juga akhirnya di injak-injak oleh preman-preman tersebut. Beruntung seorang wanita yang dulu pernah di tolongnya di kapal, menolong Tumbur. Namun malang sekali nasib wanita tersebut ketika sedang menolong tumbur, Ia harus menghadapi cercaan dan makian warga serta lemparan batu terhadapnya, karena ia seorang pelacur.

Akhirnya Tumbur berhasil di selamatkan setelah di bawa pulang kerumahnya.  Tumbur juga mendapatkan seorang teman yang pincang, seorang mahasiswa di Universitas Patria. Sementara itu wanita tersebut mendapat langganan baru seorang pejabat bernama RM Budi Susilo (Deddy Sutomo) melalui anak buahnya Bayu(Rudy Salam). Bayu mengumpankan wanita tersebut agar ia memperoleh dana untuk proyek yang di kerjakan. Agar Budi Susilo yang merupakan seorang pejabat mau menggelontorkan uangnya untuk proyek besar dengan dalih untuk mensejahterakan rakya.

Setelah beberapa saat lamanya di Jakarta, akhirnya Tumbur menemukan pamannya yang ternyata memang memiliki bengkel yang cukup besar Toba Permaiyang terletak di daerah Tebet . Tumbur pun bekerja di bengkel pamannya dan meninggalkan pelacur yang telah menolongnya. Keahlian Tumbur di bidang bengkel juga di lakukan ketika ia menolong Rini (Ricca Rachim) yang mobilnya mogok. Rini adalah seorang pelajar disebuah sekolah.

***

Proyek yang di gagas oleh Bayu dan Bosnya akan segera di mulai. Salah satu korbannya adalah bengkel milik paman Tumbur yang ikut kena gusur. Kehidupan Paman Tumbur pun mengenaskan pasca penggusuran. Ia menjadi montir keliling yang selalu di temani oleh anaknya dengan menaiki sepeda. Sedangkan Tumbur akhirnya menjadi supir Rini, orang yang dulu pernah di tolongnya. Rini membawa Tumbur kerumahnya ketika sedang ada jamuan makan dengan tamunya Pak Rompies dan Bayu,  patner kerja ayah Rini , Budi Susilo Sarjana Hukum. Sedangkan Bayu sendiri sudah mengincar Rini ketika ia sedang bermain senapan bersama bosnya Rompies. Dalam perjamuan tersebut istri Budi Susilo (Rae Sita) memperkenalkan Rini dengan Bayu yang merupakan patner kerja ayahnya.

****

Sementara itu Penerimaan mahasiswa baru di Universitas Patria di mulai. Rini merupakan salah seorang mahasiswa di kampus tersebut. Dalam penerimaan mahasiswa baru tersebut, terjadi perdebatan antar mahasiswa senior. Antara Baim yang pincang dan Fanny yang tidak setuju dengan penggojlokan mahasiswa baru melawan teman-temannya yang selalu memperoloknya mereka berdua. Apalagi mereka mendapat dukungan Bayu yang juga merupakan mahasiswa Patria.

Suara Baim dan Fanny tidak di dengar. Maka penggojlokan pun berlanjut. Salah seorang mahasiswa, Rini menjadi korban kekerasan seniornya. Melihat kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh senior Rini, Tumbur yang sedang berada di kampus dengan Baim akhirnya menolong Rini yang sudah pingsan akibat ulah seniornya. Namun sebelum berhasil pergi terjadi keributan yang di dalangi oleh Bayu yang mengeluarkan tembakan. Mahasiswa pun menjadi heboh. Rini berhasil di selamatkan.

Hubungan Tumbur dan Rini kian intim, hingga suatu malam Raden Mas Budi Susilo Sarjana Hukum ayah Rini memergoki mereka berdua. Keduanya pun akhirnya di pisahkan. Rini di paksa menikah dengan Bayu di sebuah gereja. Namun sebelum upacara pemberkatan selesai di hadapan pendeta, datanglah Tumbur menyusul Rini untuk menggagalkan pernikahan Rini dan Bayu. Tumbur berhasil menggagalkan pernikahan Rini dan Bayu, dan membawa Rini keluar dari gereja.  Namun Bayu tidak terima atas perlakuan Tumbur, Bayu mengejar sepasang kekasih tersebut dengan membawa pistol.  Rini tertembak dan akhirnya tewas, sementara Tumbur pun akhirnya tewas setelah di tembak oleh Bayu ketika akan membalaskan kematian Rini.  Bayu kena lemparan pisau di dadanya oleh Tumbur sebelum tertembak. Tumbur dan Rini mati untuk dapat bertemu di surga.

 

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,797 other followers