Posts Tagged ‘Film 70an’
Posted by jejakandromeda on March 15, 2013

Napsu Gila
JUDUL FILM : NAPSU GILA
SUTRADARA : ALI SHAHAB
CERITA : ALI SHAHAB
SKENARIO : ALI SHAHAB
TAHUN PRODUKSI : 1973
PRODUKSI : PT TIDAR JAYA FILM
JENIS : FILM HORROR
PEMAIN : SUZANNA, DICKY SUPRAPTO, TAN JENG BOK, NURNANINGSIH, HABIBAH, SYAMSUDIN SYAFEI, MENZANO, SOFIA AMANG, HUSIN LUBIS, BISSU
SINOPSIS :
Piah (Suzanna) terlihat kebingungan, dan bertanya setelah melihat pengumuman lowongan pekerjaan di sebuah panti. Maka setelah bertanya, Piah pun menuju sebuah panti jompo yang cukup terpencil dan diterima sebagai pengasuh di rumah tersebut. Dalam panti tersebut tinggal orang-orang jompo dengan berbagai karakter, dari Nurna seorang mantan bintang film, Kapten yang kerjanya selalu mengintip perempuan dan bermabuk-mabukan, juga ada perempuan tua yang selalu menjahit baju untuk calon cucunya karena tak percaya kalau cucunya sudah meninggal, serta seorang tua ahli purbakala yang memliki kebiasaan aneh yaitu tidur di peti mati.
Kedatangan Piah di rumah tersebut ternyata membawa petaka bagi penghuni rumah tersebut. Kematian demi kematian misterius terjadi di rumah tersebut. Adalah Nurna, mantan bintang film yang kecewa karena tidak pernah sukses film yang di bintangi yang menjadi korban pertama. Ia tewas tergantung setelah sebelumnya berdebat dengan Piah karena tanpa ijinnya, Nurna memakai baju dan perhiasan milik Piah. Nurna menuduh Piah telah mencurinya di stasiun kereta api. Namun kematian Nurna ternyata di ketahui oleh Kapten. Akhirnya Piah menyuruh Baron (Ardi HS) salah seorang penghuni Panti untuk membunuh Kapten dan menguburkannya. Kematian Kapten meski di buat sewajar mungkin oleh Piah namun ternyata mampu di baca oleh Bissu ahli purbakala yang suka tidur di peti mati. Maka untuk menutupi perbuatannya langkah selanjutnya Piah adalah membunuh bisu di peti mati. Piah juga menyuruh Baron untuk membunuh tukang yang suka mengantar bahan makanan kerumah tersebut karena tanpa sengaja mengetahui mayat Kapten di gudang. Kematian demi kematian terus terjadi di rumah tersebut tanpa di ketahui oleh siapapun hingga datanglah seorang polisi (Dicky Suprapto) yang menyamar menjadi anak dari salah seorang penghuni rumah tersebut.
Maka penyelidikan pun di mulai, Piah merasa gerah. Namun akhirnya di ketahui bahwa Piahlah dalang dari rentetan kejadian di rumah tersebut. Piah di ketahui lari dari rumah setelah ia membunuh ayah angkatnya (Hadisyam Tahax) karena ingin memperkosanya setelah Piah mengetahui kalau dirinya adalah anak pungut dan ingin di nikmati oleh ayah pungutnya. Setelah membunuh ayah angkatnya Piah pergi bekerja di rumah jompo tersebut dan menjadi pembunuh. Namun akhirnya Piah mati setelah peluru polisi menembus dadanya. Petualangan Piah pun berhenti.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Dicky Suprapto, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Napsu Gila, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Suzanna | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on October 18, 2012

JUDUL FILM : DJAKARTA, HONGKONG, MACAO
SUTRADARA : TURINO DJUNAIDY
CERITA : TURINO DJUNAIDY
SKENARIO : TURINO DJUNAIDY
TAHUN PRODUKSI : 1968
PRODUKSI : PT SARINANDE FILM
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : RATNO TIMOER, FAROUK AFERO, RAHAYU EFFENDI, MILA KARMILA, HADISYAM TAHAX, NURMANINGSIH, SULASTRI, FUNG MING, PETER KEONG, MIEN BRODJO
SINOPSIS :
Karsono (Farouk Afero) adalah seorang agen asing yang memiliki misi untuk mengacaukan bidang ekonomi dan juga tugas tambahan untuk mengacau di bidang keamanan dan moral bangsa. Karsono selalu mengambil kesempatan untuk dirinya yang bejat. Karsono mengutus Dahlan untuk pergi ke Hongkong untuk mengantarkan titipan yang ia sendiri tidak ketahui apa isinya. Dahlan pergi ke Hongkong dengan meninggalkan seorang istri . Sesampai di Hongkong, Dahlan berhasil bertemu dengan orang yang akan menerima titipan, Miss Feng.
Selama di Hongkong, Dahlan di beri kesenangan oleh Miss Feng, juga jalan-jalan ke Macao. Dahlan juga membeberkan rahasia agen di Jakarta kepada Miss Feng karena merasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun demikian Di Jakarta Karsono bermain-main, ia memperkosa istri Dahlan dan membunuhnya. Mayatnya di buang ke jurang di pinggir kali. Kejadian ini berhasil ia tutupi. Sedangkan Dahlan akhirnya harus mati juga di Hongkong setelah ia didorong untuk terjun dari lantai atas karena Miss Feng merasa di bohongi olehnya.
Kabar kematian Dahlan, sampai juga ke telinga Karsono. Sehingga Karsono mencari agen lagi untuk mengantarkan titipan ke Hongkong dengan imbalan yang tinggi. Kali ini pilihan jatuh kepada Muchtar (Ratno Timoer). Seorang lelaki yang sedang membutuhkan biaya karena istrinya Shinta (Mila Karmila) buta dan membutuhkan biaya banyak. Atas dasar imbalan uang, akhirnya Muchtar bersedia untuk mengantarkan titipan ke Hongkong meski ia tidak tahu apa isinya. Tujuan Muchtar adalah mendapatkan uang agar ia dapat mengobati istrinya yang buta. Maka berangkatlah Muchtar ke Hongkong dan berhasil mengantarkan titipan. Nasib Muchtar hampir sama dengan Dahlan terbunuh di Hongkong, namun ia berhasil meloloskan diri setelah membunuh pengawal Miss Feng. Muchtar segera pulang ke Jakarta untuk menemui istrinya.
Namun sayang, kedatangan Muchtar telat, istrinya mati di bunuh oleh Karsono yang telah memperkosanya dan mencekoki obat terlarang.
Akhirnya Muchtar bekerjasama untuk mengungkap kematian istrinya sekaligus membokar sindikat Karsono. Dengan dibantu oleh Midah (Rahayu Effendy) anggota dari sindikat tersebut, Muchtar berhasil membongkarnya bersama polisi. Karsono mati ditembak oleh anak buahnya sendiri akibat rencananya untuk menembak Muchtar yang bocor. Sementara sindikat Karsono lainnya dapat tertangkap.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Resensi Film Jadul | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on October 2, 2012

Mekar Di Guncang Prahara
JUDUL FILM : MEKAR DI GUNCANG PRAHARA
SUTRADARA : HAS MANAN
CERITA : NINA PANE
SKENARIO : HAS MANAN
TAHUN PRODUKSI : 1987
PRODUKSI : PT KANTA INDAH FILM
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : IDA IASHA, DEDDY MIZWAR, RAY SAHETAPY, WINDA IRIANI, SHERREN REGINA DAU, NANI WIJAYA, YAN CHERY BUDIMAN, WENNY ROSALIEN, DEBBY CHINTY DEWI, PUTRI SORAYA
SINOPSIS :
Dinar (Ida Iasha) di nikahi oleh Daniel (Ray Sahetapy) seorang anak manja yang selalu menuruti dan mengikuti kata mamanya (Nani Wijaya) sehingga dalam usia perkawinannya yang sudah memiliki dua anak, Daniel belum juga dewasa dan mandiri. Bahkan kerjaannya hanya berjudi saja. Dinar tinggal bersama mertuanya, sehingga campur tangan mertuanya sangat dominan. Apalagi mamanya selalu mencampuri urusan rumah tangga Dinar. Merasa tidak betah dan selalu dituduh yang bukan-bukan akhirnya Dinar tinggal terpisah dengan Daniel. Dinar pergi dengan membawa kedua anaknya Adit dan Irma, sementara Daniel tetap tinggal bersama mamanya.
Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, akhirnya Dinar mencari pekerjaan. Awal bekerja Dinar menjadi asisten keuangan yang dipimpin oleh Yudhawan (Deddy Mizwar) seorang duda yang cerai karena mandul. Kedekatan antara atasan dan bawahan membuat Yudhawan suka pada Dinar. Sementara itu dalam pekerjaan, Dinar selalu di jelek-jelekkan oleh Monik (Putri Soraya) yang sebenarnya menyukai Yudhawan. Dinar sendiri menanggapi Yudhawan biasa-biasa saja karena memang Dinar masih menjadi istri sah Daniel. Namun akhirnya Daniel yang tidak memiliki pekerjaan cemburu pada Dinar dan Yudhawan. Daniel mendatangi kantor Dinar dan terjadilah keributan antara Daniel dan Yudhawan. Dinar dituduh telah berbuat serong dari Daniel. Padahal kalau di usut Daniel lah yang telah berbuat serong dengan temannya Kitty (Wenny Rosalien)
Akhirnya Dinar memantapkan hati untuk bercerai dari Daniel. Untuk sementara anak-anak akan ikut pada Daniel. Namun sayang, Daniel mengingkarinya dan menguasai Adit dan Rima. Sementara itu Dinar selalu kesulitan untuk menemui anaknya. Apalagi setelah Daniel menikah dengan Monik. Pada awalnya pernikahan Monik mampu mengambil hati mama Daniel. Namun sayang belakangan diketahui sifat asli monik. Ia sering marah-marah dan menuntut macam-macam. Belakangan juga di ketahui kalau Moniklah sebenarnya yang telah memfitnah Dinar telah berbuat Serong dengan Yudhawan karena Monik kalah bersaing dengan Dinar untuk mengambil hati atasannya. Kedok Monik akhirnya juga terbuka setelah Astri (Debby Chintya Dewi) adik Daniel menceritakan siapa Monik sebenarnya pada mamanya.
Di akhir kisah terjadi keributan antara Monik dengan Daniel yang menyebabkan Monik tewas. Daniel ditangkap dan dipenjara. Sementara itu Adit dan Rima kembali ke mamanya, Dinar yang kini telah bersuami dengan Yudhawan.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Deddy Mizwar, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Ida Iasha, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Mekar Di Guncang Prahara, Ray Sahetapi, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on May 22, 2012

JUDUL FILM : MISTERI SUMUR TUA
SUTRADARA : ALI SHAHAB
CERITA : ALI SHAHAB
SKENARIO : ALI SHAHAB
PRODUSER : NY LEONITA SUTOPO
TAHUN PRODUKSI : 1987
PRODUKSI : PT. INEM FILM
JENIS : FILM HOROR
PEMAIN : TANTI YOSEPHA, BAGUS SANTOSO, HANA WIJAYA, MUNI CADER, YAN BASTIAN, ALFIAN, PIET PAGAU, SAMSYURI KAEMPUAN
SINOPSIS :
Film ini Diangkat dari Novel karya Ali Shahab berjudul Mayat-Mayat Merangsang.
Adegan di buka dengan kematian Ny. Margaretha istri dari tuan Gunawan(Muni Cader). Namun selang sehari, Mayat Ny. Margaretha hilang. Polisi berusaha menyelidiki hilangnya mayat Ny. Margaretha dengan berbagai kemungkinan. Belum selesai dengan penyelidikan mereka, Mayat istri Tuan Gunawan sudah di kembalikan oleh pencurinya. Dari hasil pemeriksaan di ketahui dalam mayat Ny. Gunawan terdapat garam hasil dari keringat yang mengering dan sperma.
Pencurinya ditengarai adalah seorang yang menderita kelainan seksual Nekrophilia atau orang yang suka meniduri mayat. Adalah Omen (Syamsuri Kaempuan) yang bertugas mencuri dan mengembalikan mayat-mayat yang di curi atas tuduhan Ny. Netty.
Di desa tersebut tinggal Netty (Tanti Yosepha) seorang perempuan mantan pemain sandiwara keliling yang menjadi primadona, istri dari tuan Karel almarhum yang di bunuh oleh Ny. Netty dengan meracuninya di sop jamur yang dimakannya, karena Ny. Netty mencintai Albert (Piet Pagau). Meski Netty memiliki seorang anak, Pieter (Bagus Santoso) namun perselingkuhan itu terjadi dan kematian Tuan Karel terjadi ketika Pieter masih berumur 12 tahun. Pasca kematian suaminya, Netty menikah dengan Albert. Saat itu pula ia mengajak Meriem anak tiri Netty yang juga merupakan anak dari Tuan Karel untuk tinggal bersama ibu tirinya. Namun dibalik kebaikan Albert, ternyata diam-diam ia menyukai Meriem dan menidurinya hingga hamil. Keadaan ini di ketahui oleh Netty yang langsung membunuh Meriem dengan menyuruh Omen (Syamsuri Kaempuan) pembantu setianya untuk mencekiknya hingga tewas. Setelah Meriem tewas, Netty yang mengetahui kalau Pieter mencintai Meriem tapi pemalu menyuruhnya untuk meniduri Meriem ketika sudah menjadi mayat. Sementara itu Albert akhirnya ikut mati di tembak oleh Netty setelah melihat Pieter sedang tidur bersama Mayat Meriem. Netty Marah pada Albert karena telah berani tidur dengan anak tirinya.
Pieter merasa heran akan perintah mamanya yang selalu menyuruhnya meniduri mayat wanita yang cantik dan muda. Atas cerita Omen, akhirnya Pieter paham, kenapa setiap tanggal 13 Oktober selalu mendapat hadiah mayat wanita cantik, karena sebagai hadiah ulang tahunnya. Pieter akan disuruh untuk meniduri mayat tersebut.
*****
Ketika sedang menggembala, Pieter melihat seorang gadis dan sopirnya yang berhenti karena mobilnya mogok. Pieter menolongnya dengan mengambilkan air. Akhirnya Pieter berkenalan dengan perempuan tersebut yang bernama Martha (Hanna Wijdaya) anak dari Tuan Gunaw an. Bahkan Pieter dan Martha akhirnya saling suka. Namun hal ini disembunyikan dari Ny. Netty karena pasti akan marah. Namun akhirnya perbuatan Pieter di ketahui oleh Mamanya. Ia marah pada Omen karena tidak memberitahukannya.
Penyelidikan polisi mulai membuahkan hasil. Ia mulai menyimpulkan atas korban-korban yang selalu terjadi pada tanggal 13 Oktober dan selalu di buang ke sumur. Polisi mulai mengendus rumah Netty dan memancingnya untuk berbicara tapi tidak berhasil.
Pada tanggal 13 Oktober tepat ulang tahun Pieter yang ke 23, Martha di jemput oleh Omen, sementara sepeti biasa Pieter menunggunya di bukit. Namun ketika Pieter menunggu di bukit, atas perintah Netty, omen membawa Martha ke rumahnya. Netty akan membunuh Martha agar Pieter menikmati tubuh mayat kembali ketika ulang tahun. Netty tidak ingin kalau Pieter yang sensitive akan disakiti hatinya oleh perempuan, namun jika dengan mayat maka Pieter tidak akan dibuat sakit hati, demikian alasan Netty. Namun Netty yang sudah sakit jiwa dengan menjerumuskan anaknya untuk menikmati tubuh mayat semakin marah ketika Martha bilang kalau ia mencintai Pieter. Netty menyuruh Omen untuk mencekik Martha. Namun Omen menolaknya dengan melempar benda yang ada di dekatnya pada Netty. Netty semakin marah dan menembak Omen.
Netty semakin marah pada Martha karena sejak kehadirannya, anaknya Pieter dan Omen berani berkhianat pada Netty. Ketika Netty bersiap membunuh Martha, saat itulah Polisi datang. Namun karena Netty melawan, terpaksa Polisi menembak Netty. Pieter kembali dari bukit dan mendapati mamanya yang sedang sekarat. Akhirnya Netty tewas.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Bagus Santoso, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, hana hashim, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Misteri Sumur Tua, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Tanti Yosepha | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on April 11, 2012
JUDUL FILM : USIA DALAM GEJOLAK
SUTRADARA : SISWORO GAUTAMA PUTRA
CERITA : JANTO TANUDJAJA
SKENARIO : HARYONO
PRODUSER : RAM SORAYA
TAHUN PRODUKSI : 1984
PRODUKSI : PT. SORAYA INTERCINE FILM
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : SUZANNA, GEORGE RUDY, BAGUS SANTOSO, NENA ROSIER, WIEKE WIDOWATI, RATNO TIMOER, FACHRUR ROZY,
SINOPSIS :
Susi (Suzanna) adalah seorang perempuan paruh baya yang sedang puber kedua atau di sebut dengan gejolak cinta. Pada usia yang sudah tidak muda lagi gairah seks Susi sangat tinggi sementara suaminya Iskandar(Ratno Timoer) ketika sedang berhubungan Seks dengan Susi selalu gagal. Susi pergi ke psikiater untuk menanyakan tentang masalahnya. Suaminya impoten. Gejolak seks yang tinggi membuat Susi selalu tergiur akan laki-laki yang lebih muda. Sementara itu menurut psikiater, gejala impotensi terjadi karena beberapa hal. Namun apa yang menimpa suaminya tidak diketahui olehnya.
Susi adalah seorang pengusaha butik. Sedangkan Iskandar merasa sebagai boneka Susi karena ia yang memutarkan roda keuangan sehingga menjadi Iskandar yang sukses. Tanpa di ketahui oleh Susi, Iskandar memiliki wanita simpanan Tina (Wieke Widowati) yang akan di nikahinya. Iskandar berpamitan pada Susi akan pergi ke Tokyo, namun sebenarnya berada di rumah Tina. Untuk melangsungkan pernikahan, Tina memesan gaun pengantin. Namun tanpa di sadari Tina, ia memesannya ke butik Susi. Saat mengantarkan baju pengantin pesanan Tina, Susi di perkenalkan pada calon suaminya. Namun betapa kagetnya Susi, karena calon suami Tina adalah suaminya sendiri. Susi pergi meninggalkan rumah Tina. Iskandar segera menyusulnya. Kejar mengejar pun terjadi, namun akhirnya Iskandar tewas jatuh ke jurang.
Sepeninggal Iskandar, Susi yang sedang dalam birahi tinggi tertarik pada montir mobil langgananya, Markus (George Rudy). Hubungan lebih jauhpun terjadi. Namun Susi harus kecewa, karena Markus meninggalkannya ketika semua sudah terjadi. Markus akan menikah dengan pacarnya.
Keadaan ini membuat Susi jenuh. Ia disarankan Lily, sahabat sekaligus sekretarisnya di butik untuk ke Jakarta menikmati hidup. Di sebuah Diskotik ia mendapati seorang pemuda, Dani yang mabuk dan ditinggalkan teman-temannya..Susi membawa Dani ke hotel. Dan terjadilah hubungan suami istri antar keduanya. Dani mulai jatuh cinta pada Susi.
Pada suatu hari Susi mengajak Dani untuk membeli pakaian. Tanpa disadari kartu pelajar Dani jatuh ketika akan mencoba baju di kamar pas. Susi mengambilnya dan membaca kartu pelajar Dani. Setelah membaca, Susi kaget dan buru-buru meninggalkan Dani. Dani sendiri kebingungan karena setelah keluar dari kamar pas ia tidak mendapati Susi. Dani frustasi. Namun Dani yang memiliki pacar bernama Santi yang satu kelas dan satu sekolah akhirnya bertemu. Ketika pengumuman kelulusan di umumkan, Dani dan Santi Lulus. Segera Santi pulang ke Bogor dan minta ditemani Dani. Santi memperkenalkan Dani pada mamanya.
Betapa kagetnya Dani dengan mama Santi. Ternyata ia adalah Susi, orang yang dicintai namun meninggalkan begitu saja. Meski Dani mencintai Susi dan mau menikahinya namun akhirnya Susi sadar sebagai seorang yang sedang dalam Usia dalam Gejolak, Susi menolak permintaan Dani. Setelah menerima penjelasan dari Susi, Dani pun mau menerimanya.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Bagus Santoso, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, George Rudy, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Suzanna, Usia Dalam Gejolak, Wieke Widowati | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on March 14, 2012
JUDUL FILM : DARAH LIMA NAGA
SUTRADARA : SA KARIM
CERITA : PIETRAJAYA BURNAMA
SKENARIO : PIETRAJAYA BURNAMA
SOUNDMAN : ENDANG
PRODUSER : NY. LEONITA SUTOPO
TAHUN PRODUKSI : 1983
PRODUKSI : PT. CANCER MAS FILM
JENIS : FILM SILAT
PEMAIN : LEO CHANDRA, TAMARA NATHALIA, TANAKA, ROBERT SANTOSA, ERNA SANTOSO, HADISYAM TAHAK, ZURMAINI, ZAITUN
SINOPSIS :
Putri Raja Bandar Hulu (Tamara Nathalia) ditugaskan untuk mengantarkan peta Harta Karun dan Perhiasan ke Raja Bandar Hilir dengan di kawal oleh Pendekar Darah Lima Naga yang terdiri dari Chandra (Leo Chandra), Sumi, Yani, Pawang dan Surya. Mereka di tugaskan untuk mengawal ketat tuan putri. Perjalanan kafilah putri raja di ketahui oleh para penjahat yang ingin mengincar harta dan peta harta karunnya serta tuan putrid sendiri. Selama dalam perjalanan, mereka selalu di hadang oleh kawanan begal yang siap merampas harta dan peta harta karun tuan putri.
Tangan Besi adalah merupakan salah satu begal yang ingin merampas harta tuan putri. Namun tangan besi berhasil di lumpuhkan oleh Darah Lima Naga. Sehingga ia bergabung dengan Si Cakar maut untuk bersama-sama merampas peta harta karun. Namun kali ini niatnya meleset. Si Cakar maut berhasil di bunuh.
****
Sementara itu Bargola juga menjadikan tuan putri sebagai target utama. Di sebuah desa rombongan tuan putri bertemu Bargola. Meski tidak terjadi perkelahian, namun Bargola selalu mengikuti kemana tuan putri pergi. Ketika malam tiba saat tuan putri sedang beristirahat di hutan, maka bargola dan anak buahnya melancarkan aksinya. Dalam perkelahian tersebut Bargola terluka. Ia di bawa ke pondokan oleh anak buahnya. Namun disaat terluka, Pergiwa salah seorang anak buahnya berhasil membunuhnya setelah Bargola melanggar pantangan melakukan kejahatan di malam purnama penuh sehingga kekuatannya berkurang. Pergiwa akhirnya menggantikan Bargola untuk menguasai hutan tersebut. Aksi Pergiwa ini berhasil setelah secara tidak langsung di bantu oleh gurunya (Hadisyam Tahax). Pergiwa berhasil menguasai semua ilmu Bargola setelah mengambil jimat miliknya atas petunjuk dari gurunya. Kini Pergiwa menjadi orang yang sakti.
Lepas dari Bargola, rombongan tuan putri belum bisa bernafas lega, karena ia kini dibayang-bayangi oleh Pergiwa yang ining merebut tua putri dan merampas hartanya. Sehingga terjadi perkelahian. Namun sayang Darah Lima naga harus kehilangan dua orang anggotanya, Surya dan Pawang tewas dalam perkelahian tersebut.
Sementara itu Pergiwa meminta bantuan gurunya agar dapat merebut peta harta karun dari tuan puteri. Melalui janji berdua yang di ikrarkan, akhirnya pergiwa mendapatkan ilmu tambahan dari gurunya. Ia kembali menyusul kepergian tuan putri. Di sebuah pantai yang landai, kembali terjadi perkelahian antara Pergiwa dan pendekar darah Lima Naga yang tersisa. Sumi dan Yani mati terbunuh. Kini tinggallah Candra sendirian. Ia pun berhasil di kalahkan dan jatuh pingsan. Tuan putri akhirnya jatuh ke tangan Pergiwa, namun disaat ia hendak menikmati tubuh tua putrid, datanglah gurunya yang meminta haknya yaitu tua putri. Setelah di pelajari, ikrar yang di ikrarkan bersama gurunya ternyata hanya membohongi dirinya sendiri, sehingga Pergiwa marah pada gurunya. Pergiwa tewas setelah gurunya menyerang balik ketika Pergiwa menuntut akan haknya.
Sebenarnya letak peta harta karun berada di bibir tuan putri. Tuan puteri di bawa oleh gurunya untuk di jadikan istri. Pada saat itulah pamannya Raja Hilir datang. Ia berhasil menolong tuan putri. Belakangan di ketahui kalau Chandra adalah anak dari Raja Hilir itu sendiri, sehingga tuan putrid kaget karena tidak diberitahu kalau saudara sendirilah yang selama ini mengawalnya.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Darah Lima Naga, erna Santoso, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Film Silat, Galeri Film Indonesia, Hadisyam Tahak, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Leo Candra, Ny. Leonita Sutopo, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Robert Santoso, Tanaka, Zaitun, Zurmaini | 1 Comment »
Posted by jejakandromeda on November 1, 2011
JUDUL FILM : RAMBUT KERITING
SUTRADARA : SUSILO SWD
EXC.RODUSER : TUA RAJA SIAHAAN
CERITA : BOOTJE MALA
SKENARIO : BOOTJE MALA, TEGUH SUSILO SWD
MUSIK : ADAM GROUPE
PRODUKSI : PT. SJAM STUDIO FILM
TAHUN PRODUKSI : 1983
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : RICHIE RICARDO, AVENT CHRISTIE, SUSILOWATI, ZAINAL ABIDIN, WOLLY SUTINAH, WATI SIREGAR, SHERLY SARITA, AMINAH CENDRAKASIH, CITRA WIHARJA, EDDY BAKAR
SINOPSIS :
Mardan (Eddy Bakar) adalah seorang lelaki hidung belang yang tinggalnya di klub-klub malam. Ia memiliki dua orang wanita yang di pacarinya sekaligus. Sandra (Citra Wiharja) dan seorang wanita klub malam lainnya (Wati Siregar). Mardan memiliki saingan seorang lelaki pengangguran, Rully (Avent Christie). Keduanya berebut Sandra. Untuk mendapatkan Sandra tidaklah mudah, karena Rully tidak memiliki modal apa-apa. Untuk itu ia bertekad akan membawa banyak uang yang akan di persembahkan pada Sandra.
Selain dengan Sandra, Rully juga memacari Lia (Susilowaty) anak semata wayang. Namun hubungan Sandra dengan Rully tidak di setujui oleh ayahnya (Zainal Abidin). Lia sendiri akan di jodohkan dengan anak dari temannya. Namun Lia berontak. Ia kabur dari rumah dengan membawa sekotak perhiasan emas dan uang untuk bekal perjalanan. Lia mengajak Rully untuk menemaninya kabur. Dengan berdalih akan dibawa ke rumah pamannya di kampung, Rully membawa Lia naik kereta api. Selama dalam perjalanan, gelagat Rully mencurigakan. Bahkan ketika seorang penumpang menyanyikan sebuah lagu yang menyindirinya, Rully marah. Namun Lia berhasil meredamnya. Saat Lia pusing, dengan berpura-pura membelikan obat Rully diam-diam kabur membawa semua perhiasan dan uang Lia.
Akhirnya Lia di hibur oleh seorang penumpang bernama Andi (Richie Ricardo) yang akhirnya menawarakan diri akan menolong Lia dengan membawa kembali ke Jakarta untuk mengejar Rully.
*****
Sementara itu setelah berhasil membawa kabur perhiasan Lia, Rully segera menemui Sandra untuk diajak kawin dengan memperlihatkan perhiasan yang ia dapat. Dengan senang hati Sandra mau di ajak Rully, namun malang saat Rully tidur, Sandra membawa semua perhiasan dan menyerahkannya pada Mardan. Kali ini malang menimpa Sandra karena ia ditipu oleh Mardan. Setelah memberikan obat tidur pada Sandra, Mardan segera berlari menemui kekasihnya yang lain untuk memberikan emasnya. Saat Mardan sedang bercumbu dan menikmati perhiasan yang ia peroleh, saat itulah pintunya di dobrak oleh anak buahnya yang menodongkan pisau. Saat yang bersamaan Rully datang. Maka terjadilah perkelahian antar mereka. Akibat keributan yang terjadi, akhirnya Mardan dan Rully dapat ditangkap oleh Polisi, sementara perhiasan Lia berhasil diselamatkan oleh Andi yang segera menyerahkannya pada Lia.
Akhirnya Lia pulang kerumah. Esoknya ia di ajak ayahnya untuk menemui orang yang akan di jodohkan. Pada saat jam dan tempat yang telah di sepakati, Lia datang bersama ayahnya. Betapa kagetnya Lia karena orang yang dijodohkan ternyata adalah Andi orang yang di kenalnya di kereta dan telah menolongnya. Lia berteriak kegirangan.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Avent Christie, Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Rambut Keriting, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Richie Ricardo | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on October 20, 2011

JUDUL FILM : PUKULAN BERANTAI (THE NDLESS FIGHT)
SUTRADARA : SYAMSYUL FUAD
PRODUSER : SYMSU SIDHARTA
CERITA : R.M. DARYONO
SKENARIO : SYAMSUL FUAD, R.M. DARYONO
PRODUKSI : PT. MAFIN FILM
TAHUN PRODUKSI : 1977
JENIS : FILM LAGA DRAMA
PEMAIN : SHIN IL LUNG, W.D MOCHTAR, DEBBIE CYNTHIA DEWI, AMINAH CENDRAKASIH, ADE IRAWAN, WONG TAO, DOLF DAMORO, DIANA ISHAK
SINOPSIS :
Rina (Debbie Cynthia Dewi) mengambil uang di bank sendirian. Di dalam bank, ia berkenalan dengan Kyung Il (Shin Il Lung) seorang expat dari Korea yang sedang bekerja di Indonesia. Obrolan berlanjut dan keduanya memiliki ketertarikan. Selesai mengambil uang, Rina pulang. Kyung Il menemani meski dengan mobil yang berbeda. Di dalam perjalanan, Kyung Il di cegat oleh orang-orang tak dikenal yang di kepalai oleh Rocky. Mereka pun mengeroyok Kyung Il yang seorang diri. Melihat perkelahian tersebut, Rina melerainya bahwa mereka adalah teman-teman Rina.
Perkelahian antar Kyung Il dengan Rocky dilaporkan pada atasan mereka Pak Soebrata (WD Mochtar) seorang gembong narkotika di Asia. Mengetahui Kyung Il adalah orang Korea dan memiliki kemampuan beladiri membuat Soebrata tertarik dan menugaskan Rina untuk mendekati Kyung Il untuk dibawa menghadapnya. Apalagi setelah salah seorang tim Soebrata di Korea telah ditahan polisi. Usaha Rina berhasil. Ia berhasil menghadapkan Kyung Il ke hadapan Soebrata. Kyung Il di beri penawaran untuk membantu Soebrata. Meski pada awalnya menolak karena ia sedang bekerja di Proyek tol Jagorawi, namun akhirnya Kyung Il menyanggupinya.
Tugas pertama Kyung Il adalah mengantarkan paket bersama Rina ke kediaman Mira (Ade Irawan) relasi Soebrata. Selama dalam perjalanan Rina bercerita kalau ia sebenarnya ingin lepas dari Soebrata, namun belum bisa. Sesampai di kediaman Mira, tiba-tiba datanglah polisi yang telah mengintai kediaman Mira. Namun demikian, Kyung Il bersama Rina berhasil lolos dari tangkapan polisi.
****
Soebrata kaget, ia merasa setiap kali operasi, usahanya selalu di endus polisi. Ia merasa ada musuh dalam selimut. Seorang anak buahnya (Aminah Cendrakasih) memberitahukan siapa yang telah membocorkan operasi ini. Akhirnya Soebrata mengetahui bahwa Anitalah orang yang selama ini selalu memata-matainya. Belakangan diketahui kalau Anita adalah seorang polisi yang disusupkan.
Sementara itu Soebrata dan Rina di buat kaget oleh Kyung Il yang telah kembali ke negaranya. Artinya kekuatan mereka juga berkurang.
Untuk meluaskan operasinya, Soebrata bersama Rina dan Rocky berangkat ke Taipei untuk bertemu dengan relasinya disana. Namun sayang, keberadaan mereka telah di intai oleh polisi Taipei, sehingga ketika mereka sedang membicarakan bisnis narkotika, tiba-tiba datanglah polisi untuk menyergapnya. Namun kembali, Soebrata dan Rina Lolos. Selanjutnya mereka terbang ke Seoul Korea.
Selama di Seoul Rina berhasil menghubungi Kyung Il. Usaha Rina untuk meloloskan diri dari Soebrata berhasil atas bantuan Kyung Il. Namun sayang, usaha Rina pun akhirnya diketahui dan tertangkap. Rina berhasil ditangkap dan di siksa oleh Soebrata. Namun setelah melalui perkelahian yang sengit, akhirnya Kyung Il berhasil membunuh Soebrata, namun sayang sebelumnya Rina sudah tertembak oleh Soebrata untuk melindungi Kyung Il yang saat itu jadi sasaran bidik.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Pukulan Berantai, Resensi Film Indonesia, Resensi Film Jadul, Shin Il Lung | 1 Comment »
Posted by jejakandromeda on October 13, 2011
JUDUL FILM : SI DOEL ANAK BETAWI
SUTRADARA : SJUMAN DJAYA
PRODUSER : SJUMAN DJAYA, HANDOJO MSC
CERITA : AMAN DATUK MADJOINDO
SKENARIO : SJUMAN DJAYA
MUSIK : ISBANDI
PRODUKSI : PT. PERFINI FILM
TAHUN PRODUKSI : 1973
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : RANO KARNO, BENYAMIN S, SOEKARNO M NOOR, TINO KARNO, FIFI YOUNG, TUTI KIRANA, NANI WIDJAYA
SINOPSIS :
Asman (Benyamin S) seorang supir asli Betawi memiliki seorang anak Doel (Rano Karno) hasil pernikahannya dengan istrinya (Tuti Kirana). Pernikahan mereka sebenarnya tidak direstui oleh orang tua istrinya. Mertua lelakinya (Soekarno M Noor) lebih banyak diam meski mertua perempuannya lebih mengekspresikan ketidaksukaannya pada Asman. Namun demikian karena cinta, istrinya tetap tidak mau meninggalkan Asman, meski orang tuanya berkali-kali menyuruhnya untuk tinggal dirumahnya dibandingkan tinggal dirumah reot.
Doel, adalah anak betawi asli yang belum bisa mengenyam sekolah karena keadaan orangtuanya. Adalah Safei (Tino Karno) ‘musuh’ bebuyutan Doel dalam bermain. Safei adalah anak seorang kaya di kampung tersebut, sementara Doel dianggap sebagai anak kampung . Kerap kali keduanya berkelahi. Doel memiliki seorang paman, Asmad yang datang kerumahnya, untuk kemudian pergi lagi.
Suatu hari terjadi kecelakaan pada Asman akibat truk yang di kendarainya terbalik hingga membuat Asman meninggal. Kepergian Asman membuat kehidupan Doel menjadi tidak menentu. Untuk meringankan beban berat orangtuanya, Doel berjualan kue buatan Ibunya. Meski hasil jualan kue Doel selalu gagal, namun Doel selalu diganggu oleh Safei. Hingga suatu ketika, dagangan Doel hancur akibat perbuatan Safei selagi belum laku. Doel menangis sedih.
Disaat itulah datang pamannya Asmad yang membantu Doel, dan mengadukan Safei kerumah orangtuanya. Dagangan Doel diganti oleh orangtua Safei, sedangkan Doel sendiri akhirnya dijanjikan untuk bersekolah setelah Asmad menikahi ibunya atas persetujuan Doel.
Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: Film Indonesia, Rano Karno, Film Jadul, Resensi Film Indonesia, Film 80an, Film 70an, Resensi Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Benyamin S, Si Doel Anak Betawi | Leave a Comment »
Posted by jejakandromeda on September 30, 2011
Masih ingat film yang dulu selalu di putar tiap tanggal 30 September di TVRI? ya apalagi kalau bukan Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Tiap tanggal tersebut film ini selalu di putar di TVRI dan menjadi tontonan wajib. apalagi kala itu TV swasta juga ikut menayangkannya. Namun karena dianggap sebagai propaganda Orde Baru film ini akhirnya di larang di putar lagi di TVRi oleh menteri penerangan yagn kala itu di pegang oleh Yunus Yosfiah. Terlepas dari berbagai kontroversi yang selama ini beredar tentang PKI yang menjadi dalang kekejaman dan kudeta kala itu, atau beredarnya isu kalau Suhartolah yang menjadi dalang semua, namun dari segi penulis sendiri dan menurut cerita pelaku sejarah, kala itu PKI memang kejam dan menghalalkan segala cara dan pintar memutar balikkan fakta.
Jadi apapun kontroversinya, PKI tetap sebagai ideologi yang perlu untuk selalu di waspadai karena bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia lagi. Film tersebut kini sudah tidak diputar lagi dan sudah menjadi barang langka padahal film tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi para generasi penerus bahwa PKI pernah tumbuh di Indonesia. Jangan pernah melupakan sejarah.!
Untuk mengenang film tersebut, yuk kita tonton kembali film tersebut………..
Posted in Resensi Film 70-90an, Umum | Tagged: Film 70an, Film 80an, Film Indonesia, Film Jadul, Galeri Film Indonesia, Komunitas Pecinta Film Indonesia Jadul, KPFIJ, Pengkhianatan G 30 S PKI | 2 Comments »