Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

Posts Tagged ‘Barry Prima’

BARRY PRIMA DALAM FILM ” JAKA TUAK “

Posted by Toto Andromeda on April 3, 2012

JUDUL FILM                        : JAKA TUAK

SUTRADARA                       : SA KARIM

CERITA                                  : M ABNAR ROMLI

SKENARIO                           : M ABNAR ROMLI

MUSIK                                  : DONNY IRAWAN

PRODUSER                          : HERMAN DIAL

TAHUN PRODUKSI           : 1990

PRODUKSI                           : PT. FILM

JENIS                                     : FILM SILAT

PEMAIN                              : BARRY PRIMA, NIENA KARINA, JOSEPH HUNGAN, RUDY WAHAB, ANIKA HAKIM, WINGKY HARUN

SINOPSIS :

Jaka (Barry Prima) anak seorang abdi di sebuah Kadipaten  mencintai tuan putri Adipati Buntaran Nila Sari (Niena Karina). Hubungan dua insan manusia ini di lakukan secara diam-diam agar tidak di ketahui oleh ayah Sari. Jaka Seringkali melompati pagar untuk masuk ke keputren untuk bertemu dengan Sari.  Suatu hari ketika dua insan itu sedang bertemu, Adipati Buntaran memergoki perbuatan jaka.  Buntutnya Jaka ditangkap, namun ia berhasil meloloskan diri. Sementara ibunya merupakan abdi Kadipaten akhirnya harus di pecat dari pekerjaannya.

Karena tidak disetujui oleh Ayahanda Sari, Jaka menjadi pemabuk dan sering mengganggu perempuan yang dianggap sebagai Sari. Ia juga sering mabuk-mabukan di warung sehingga di juluki Jaka Tuak oleh orang-orang.  Jaka berbuat keributan. Perkelahian pun terjadi. Secara diam-diam ada seorang tua, Wilatikto(Wingky Harun) yang sedang memperhatikan perkelahian Jaka.  Sementara itu Ibu Jaka mati dibunuh oleh Boma (Joseph Hungan) pengawal kepercayaan Adipati ketika ia mendapati Sari mendatangi rumah Jaka. Jaka kaget dibuatnya dan marah namun ia tidak tahu siapa pembunuhnya. Untuk melampiaskan kemarahan, ia mendatangi kadipaten dan berkelahi dengan Boma. Jaka kalah dan dibuang ke jurang. Namun akhirnya ia di tolong oleh Wilatikto yang akhirnya menjadi gurunya.

Sementara itu, Adipati Buntaran kedatangan tamu Raden Citraksa (Rudy Wahab) yang telah di jodohkan untuk menjadi suami Nilasari. Maka di suruhlah Boma untuk memanggil Sari. Kesempatan ini di ambil oleh Boma untuk mengutarakan isi hatinya pada Sari kalau selama ini ia mencintainya. Dengan terang-terangan Sari menolaknya.  Dengan alasan tidak enak badan, Boma akhirnya menyampaikan kalau tuan puteri tidak mau menemui Raden Citraksa walaupun itu hanya alasan Boma untuk menutupi perbuatannya yang telah membuat Sari marah.

*****

Di lain tempat  Pangeran Wisnu dan Dewi Ratih mendatangi mpu Sedah untuk menyerahkan peta harta karun.  Namun sayang sekembali dari rumah mpu sedah, ia di bunuholeh Citraksa yang ingin menguasai harta karun tersebut. Citraksapun datang ke kediaman Mpu Sedah untuk meminta peta dari Pangeran Wisnu.  Mendapat kepercayaan dari pangeran Wisnu, mpu Sedah tidak mau menyerahkan peta tersebut pada orang yang tidak berhak. Perkelahian pun terjadi, namun Mpu Sedah berhasil lolos dan menyerahkan peta tersebut pada kakak seperguruannya Wilwatikto untuk meminta petunjuk pada kakek Resi yang tinggal di bukit kendalisada. Wilwatikto menyuruh Jaka untuk membawa Peta pada Resi gurunya.

Perebutan Harta Karun tersebut ternyata juga menjadi daya tarik bagi Breh Pitaloka ayah dari Citraksa yang segera mengirimkan surat pada Adipati Buntaran untuk melancarkan usahanya. Namun surat tersebut dibuat samar agar tidak mencurigakan.

***

Sari hilang dari kamarnya. Ayah dan Ibunya di buat bingung. Sementara Sari Sendiri menyusul kepergian Jaka setelah ia menemui di goa tempat Jaka berguru, namun Sari tidak menemuinya. Sari akhirnya bertemu Jaka setelah diberi petunjuk oleh Wilwatikto kemana perginya Jaka. Sebelumnya ditengah perjalanan Sari bertemu dengan Pandu yang pura-pura akan ke tempat yang sama sehingg mereka berjalan beriringan. Ketika sedang beristirahat, Jaka di beri tuak oleh Pandu hingga mabuk. Saat mereka tertidur Pandu  yang pura-pura ikut mabuk mencuri peta harta karun tersebut. Maka hilanglah peta tersebut tatkala pagi tiba, Jaka baru tersadar.

Namun Pandu tidak lama memegang peta tersebut, karena peta tersebut di rebut oleh Citraksa dibantu Boma. Perebutan peta harta karun tidak berhenti sampai disitu, Citraksa dan Boma akhirnya terlibat perebutan peta harta karun tersebut karena masing-masing ingin memilikinya. Boma berhasil memenangkan pertarungan.  Namun akhirnya peta tersebut kembali ke pemiliknya Jaka. Boma dapat di lumpuhkan oleh Jaka.  Sedangkan Sari akhirnya mendapat restu dari Adipati Buntaran untuk mencintai Jaka.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

BARRY PRIMA DALAM FILM “PRIMITIF”

Posted by Toto Andromeda on June 26, 2011

JUDUL FILM                        : PRIMITIF

SUTRADARA                       : SISWORO GAUTAMA

PRODUSER                          : SABIRIN KASMAN

CERITA                                  : IMAM TANTOWI

SKENARIO                           : IMAM TANTOWI

MUSIK                                  : GATOT SUDARTO

PRODUKSI                           :  PT.  RAPI FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1978

JENIS                                     : FILM HOROR

PEMAIN                              : BARRY PRIMA, ENNY HARYONO, JOHAN MARDJONO, RUKMAN HERMAN, DJAFAR FREE YORK, BELKIEZ RAHMAN, DORA,

SINOPSIS :

Amri (Barry Prima), Rika (Enny Haryono) dan Tommy (Johan Mardjono)tiga orang mahasiswa yang akan mengadakan penyelidikan di daerah pedalaman. Tiga mahasiswa tersebut di antar oleh Bisma (Rukman Herman) dan Lahang (Djafar Free York). Karena keganasan hutan yang masih primiti, Bisma menyarankan agar mereka hanya sampai ke suku Pangayau di hutan tersebut yang sudah di kenalnya. Namun Amri berambisi untuk melakukan penyelidikan lebih jauh, sehingga merekapun akhirnya meneruskan penyelidikan lebih ke dalam lagi.

Dengan menggunakan rakit, mereka meneruskan perjalanan melalui jalan air. Namun sayang sekali, rakit yang mereka gunakan pecah di tengah derasnya arus air. Hingga mereka berlima pun terpisah. Amri, Rika dan Lahang dapat selamat sementara Bisma dan Tommy meski selamat namun mereka terpisah sehingga untuk dapat tetap hidup mereka harus melakukannya sendiri. Berbeda dengan Amri, Rika dan Lahang yang dapat bersatu untuk meneruskan perjalanan.

Di dalam hutan tersebut mereka menemukan suku kanibal. Suku kanibal dapat memakan apa saja yang di temuinya. Dalam perjalanan tersebut hanya Lahanglah yang paling sering di lihatin para suku kanibal, sehingga ia sering Histeris. Puncaknya Lahang terkena perangkap yang di buat oleh suku kanibal. Lahang pun menjadi santapan mereka. Amri dan Rika yang melihat dari kejauhan merasa ngeri sendiri. Pada akhirnya Amri dan Rika pun tertangkap oleh mereka. Mereka di ikat dan akhirnya di sekap. Kejadian di dalam markas suku kanibal menjadi pemandangan yang menjijikan dan menakutkan, karena mereka memakan makanan yang juga menjijikan termasuk menangkap buaya untuk dimakannya mentah-mentah dan menjadi rebutan.

Sementara itu Tommy berhasil selamat dan mencari-cari sahabatnya, sedangkan Bisma meski selamat namun akhirnya ia menjadi santapan suku kanibal. Didalam penjara yang dibuat oleh suku kanibal, Amri dna Rika berhasil lolos dan berhasil bertemu kembali dengan Tommy. Namun sayang keberadaan mereka lagi-lagi di ketahui oleh suku kanibal. Namun kali ini mereka tidak tinggal diam.  Mereka melawan untuk menyelamatkan diri. Sayangnya ketika sedang menyelamatkan diri, Tommy tertusuk tombak kayu milik suku Kanibal. Akan tetapi ketiganya berhasil lolos dari kejaran para suku kanibal setelah menemukan sungai. Dalam perjalanan menggunakan rakit, Tommy akhirnya tewas setelah tidak kuat menahan luka, sedangkan Amri dan Rika berhasil selamat.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA & MURTISARI DEWI DALAM FILM ” ANGLING DARMA 3 “

Posted by Toto Andromeda on April 7, 2011

JUDUL FILM        : ANGLING DARMA 3 : PEMBURU DARI NERAKA

SUTRADARA       : SA KARIM

PRODUSER          : KAONAWAN SUMIRAH

CERITA                  : BAMBANG ADI PITOYO

PRODUKSI           : PT. ELANG PERKASA FILM

TAHUN PROD    : 1994

JENIS                     : FILM SILAT

PEMAIN               : BARRY PRIMA, FENDY PRADANA, MURTISARI DEWI, BARON HERMANTO, ERNA SANTOSO, KEN KEN

SINOPSIS :

Prabu Angling Darma (Barry Prima) menginginkan anaknya Angling Kusuma (Fendy Pradana) untuk segera memiliki pendamping hidup.  Salah satu cara yang di tempuh oleh Angling Darma adalah dengan mengadakan sayembara bagi para putri yang di lakukan oleh Angling Darma agar Angling Kusuma dapat memilihnya.  Namun pikiran Ayahanda Angling Darma tidak sejalan dengan Angling Kusuma yang merasa sudah dewasa. Sehingga Angling Kusuma menolaknya dan memilih mengembara untuk membuktikan kalau ia sudah dewasa. Dan seperti petuah ibunya (Erna Santoso), adat di Malawapati sebelum mencari jodoh adalah dengan mengembara.

Akhirnya Angling Kusuma di temani oleh abdi Malawapati yang paling setia, Klungsur pergi mengembara.   Di istana sendiri, akhirnya kedatangan dewi dewi cantik yang mengikuti sayembara, namun sayang Angling Kusuma sendiri sudah tidak ada. Sehingga Angling Darma merasa kecewa dibuatnya.

Pada suatu malam Angling Darma mendengar suara yang member peringatan yang mengingatkan peristiwa 20 tahun yang lalu dimana Prabu Angling Darma telah membunuh Prabu pancaknyono. Meski alas an yang di berikan adalah benar, namun Ayah Pancaknyono, Brojo Sakti (Baron Hermanto) tidak terima atas kematian anaknya. Brojo Sakti yang sedang menyelesaikan tapanya berniat akan membalas dendam pada Angling Darma dan keluarganya. Namun Prabu Angling Darma masih memiliki waktu 40 hari untuk mempersiapkannya, karena Brojo Sakti setelah selesai bertapa, masih ada hal yang harus di kerjakan selama 40 hari, yaitu salah satunya adalah harus mengajarkan ilmunya. Ilmu Aji Mundijati Sasongko Jati, yaitu ilmu yang intinya adalah kasih sayang.

Sementara itu di Arcamanik, Begawan Sentanu menerima pinangan dari Prabu Surowiseso (Ken ken) dari Engku Braja untuk meminang putrinya Senggono Retno (Murtisari Dewi) namun pinangan tersebut di tolak oleh Senggono Retno karena tidak suka pada Prabu Surowiseso.  Prabu Surowiseso marah atas penolakan lamarannya. Ia menyerang Arcamanik, dan berniat menghancurkannya. Begawan Sentanu dan Senggono Retno menghadapi Surowiseso namun kelihatannya ia terdesak. Mendengar adanya perkelahian, Angling Kusumo yang kebetulan melintas akhirnya membantu Senggono Retno yang langsung jatuh hati pada pandangannya yang pertama.  Melihat lawannya di tolong oleh Angling Kusumo membuat Surawisesa marah. Disaat bersamaan datanglah Brojo Sakti yang langsung menyerang dan melumpuhkan Surawisesa. Brojo Skti pun meninggalkan begitu saja Arcamanik. Sementara itu Angling Kusumo yang jatuh hati pada Senggono Retno akhirnya keduanya pun saling menyukai.

Kepergian Brojo Sakti ternyata tidak selamanya karena ia kembali lagi dan ingin mengangkat Angling Kusumo sebagai muridnya. Meski pada awalnya menolak, namun demi Arcamanik yang akan di hancurkan apabila Angling Kusumo tidak mau jadi muridnya, akhirnya ia mau menuruti Brojo Sakti untuk diturunkan ilmunya.  Dalam proses transfer ilmu, Angling Darma mengetahui caranya dan bermaksud mencegahnya, namun sayang sekali Angling Darma tidak mampu mencegahnya. Ia pun membiarkan Angling Kusumo yang belum tahu siapa Brojo Musti sebenarnya untuk mendapatkan ilmunya. Setelah ilmu ia terima, Angling Kusumo lantas pulang ke Malawapati untuk kembali. Namun ia tidak langsung masuk istana,namun mendunggu di perbatasan dengan menyuruh kurirnya menyampaikan Surat tantangan pada ayahnya. Akhirnya Angling Darma menyanggupi dan menginginkan anaknya telah dewasa.

Disaat pertarungan antara ayah dan anak berlangsung, datanglah Brojo Sakti yang ingin menghabisi keduanya. Sementara itu Angling Kusumo baru tahu siapa Brojo Musti sebenarnya. Meski terlihat frustasi, namun akhirnya Angling Kusumo lebih membela ayahnya. Mereka bertiga bertarung, disaat yang bersamaan muncullah Senggono Retno yang membantu kekasihnya Angling Kusumo. Akhirnya ilmu Brojo Sakti dapat dikalahkan karena kasih sayang antara ayah, anak dan calon memantunya. Ilmu yang dimiliki oleh Brojo Sakti adalah intinya tentang kasih sayang, sehingga ketika ketiga orang tersebut dengan penuh kasih sayang mampu mengalahkan Brojo Sakti yang ilmunya lebih tinggi.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 5 Comments »

BARRY PRIMA & BARON HERMANTO DALAM FILM ” ANGLING DARMA 2″

Posted by Toto Andromeda on April 5, 2011

JUDUL FILM        : ANGLING DARMA 2 : PEMBERONTAKAN BATIK MADRIM

SUTRADARA       : TORRO MARGENS

PRODUKSI           : PT. ELAN PERKASA FILM

CERITA                  : ARMANTONO

PRODUSER          :  HASOEK SOEBROTO

TAHUN PROD    : 1992

JENIS                     : FILM SILAT

PEMAIN               : BARRY PRIMA, BARON HERMANTO, GITTY SRINITA, WINKY HARUN,

SINOPSIS :

Prabu Angling Darma (Barry Prima) raja Malwapati mendapatkan tugas dari dewata untuk bertapa dengan cara memberantas ketidak adilan dengan berkelana di temani oleh Patih Batik Madrim (Baron Hermanto) dan Klungsur (Winky Harun) pembantunya. Padahal kemesraan bersama istrinya Dewi Anggorowati (Gitty Srinita) belumlah lama. Angling Darma berkelana dengan menumpas ketidak adilan dimuka bumi. Sementara Dewi Anggorowati ditinggalkan di istana setelah sebelumnya tampuk pemerintahan ia wakilkan pada Batik Madrim, namun ia menolak dan ingin mendampingi Angling Darma sebagai bentuk pengabdiannya.

Sementara itu di kerajaan Kertanegara, Raja Basunanda menerima utusan lamaran dari Prabu Panca Kencono untuk melamar putrinya. Namun Lamaran tersebut di tolak oleh Raja Basunanda. Utusan Prabu Panca Kencono marah dan membawa sukma putri Raja sehingga keadaannya seperti orang tidur. Berbagai cara telah ia coba untuk menyembuhkan putrinya termasuk memanggil para kesatria namun tidak ada satupun yang mampu. Hingga akhirnya Raja Basunanda membuat sayembara , barang siapa mampu menyembuhkan putrinya, maka jika ia laki-laki akan dijadikan suami anaknya sedangkan jika ia perempuan akan dijadikan anak angkatnya.

Angling Darma dan Batik Madrim yang telah sampai di Kertanegara pun mendengar sayembara tersebut. Akhirnya keduanya mengikuti Sayembara tersebut untuk dapat menyelamatkan putri raja. Batik Madrim terlebih dahulu meminta ijin pada Angling Darma untuk diberi kesempatan mengikuti sayembara. Namun Angling Darma rupanya tahu kesulitan yang di hadapi Batik madrim di alam sukma sana, sehingga iapun keluar dari raganya untuk menghadapi musuh di alam sukma. Batik madrim berhasil melumpuhkan musuhnya dan berhasil menyembuhkan putri raja. Sementara itu Batik Madrim merasa kecewa dibuatnya namun tidak bias berbuat apa-apa. Hingga akhirnya Angling Darma di nikahkan dengan putri Raja yang ikut dalam pengembaraan. Sementara itu diam-diam Batik Madrim memendam kekecewaan.

****

Dalam pengelanaan Angling Darma bersama istri barunya, di tengah hutan ia di ganggu oleh anak buah Prabu Pancakencono yang memaksa Angling Darma harus meninggalkan raganya untuk menghadapi musuhnya. Melihat suaminya diam saja, membuat istrinya Ken Setyawati minta dipulangkan ke Kertanegara.  Hal ini di manfaatkan oleh Batik Madrim untuk masuk ke raga Angling Darma ketika sedang keluar sukmanya. Batik Madrim merasuk kedalam tubuh Angling Darma dan segera pulang ke Malwapati untuk menemui Dewi Anggorowati.

Namun Dewi Anggorowati menemukan kejanggalan demi kejanggalan yang dilakukan oleh suaminya. Hingga akhirnya ia berhasil memaksa Batik Madrim yang berada di dalam tubuh Suaminya untuk keluar. Saat itulah Sukma Angling Darma berhasil masuk kedalam raganya. Dewi ANggorowati menemukan kembali suami sebenarnya.

Ketika dalam pertarungan melawan Prabu Pancakencono, Angling Darma terlihat terdesak dan tidak mampu menghadapinya. Maka saat itulah untuk menebus kesalahannya, Batik Madrim menghadapi Prabu Pancakencono dengan ajian pamungkas pelebur sukma yang hanya dapat digunakan sekali seumur hidup. Batik Madrim berhasil mengalahkan Pancakencono, namun akhirnya ia harus tewas.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

BARRY PRIMA DALAM FILM “JURUS DEWA KOBRA (SI RAWING 3)”

Posted by Toto Andromeda on March 31, 2011

JUDUL FILM        : JURUS DEWA KOBRA (SI RAWING III)

SUTRADARA       : SA KARIM

PRODUKSI           : PT. ELANG PERKASA FILM FILM

SKENARIO           : EDDY S JONATHAN

PRODUSER          :  HASOK SUBROTO

TAHUN PROD    : 1994

JENIS                     : FILM SILAT

PEMAIN               : BARRY PRIMA, CORRY CONSTANTIA, YOHANA ALEXANDRA, YUNITA SARAH BOOM, LUCYANA GRACE, MANSUR SAHDAN

SINOPSIS :

Rawing (Barry Prima) terluka, namun berhasil di sembuhkan oleh Dewi pengantin (Yohana Alexandra). Rawing adalah suami dari Saraswati (Corry) yang merupakan murid dari pasangan guru Ki Debleng (Eddy S Jonathan) dan Istrinya. Kelompok Uharani berhasil menghembuskan fitnah pada Rawing kalau ia telah menghamili Kartika anak seorang kepala desa yang sangat mencintai Rawing dengan tujuan agar rawing dibenci oleh warga sekitar.

Bahkan ayah Kartika pun berhasil terhasut dan meminta Rawing untuk bertanggungjawab atas perbuatannya pada anaknya. Namun belakangan diketahui dari mulut Kartika sendiri kalau bukan Rawing yang telah menghamilinya akan tetapi Kumara. Ayah Kartika pun kaget, sementara itu Saraswati istri dari Rawing juga ikut termakan hasutan dari kelompok Uharani. Saraswati cemburu dan melarikan diri. Ia pergi meninggalkan Suaminya. Saraswati marah dan membanting perabotan. Saraswati tersinggung karena menganggap Rawing berbuat serong, padahal semua adalah hanya fitnah belaka.  Saraswati pergi dalam keadaan hamil muda. Sementara itu Kelompok Uharani meminta bantuan pada Ki Rembong (Mansyur Syahdan) untuk menghadapi Si Rawing dengan persyaratan agar Uharani menyiapkan darah segar dari 100 wanita yang sedang hamil muda agar ilmu hitam Ki Rembong makin kuat.

Persyaratan Ki Rembong di setujui oleh Uharani sehingga untuk melancarkan usahanya mereka melancarkan berbagai cara termasuk memperkosa para wanita agar hamil. Rawing berusaha untuk menghalangi perbuatan orang-orang Uharani yang ingin memperkosa para gadis. Tidak hanya rawing, Ki Debleng dan istrinya pun akhirnya ikut turun tangan untuk membantu Rawing menghalangi pemerkosaan yang dilakukan oleh kelompok Uharani yang di ketuai oleh Durpala.

Setiap kali mereka membawa wanita yang hamil muda, setiap kali juga mereka di bebaskan oleh pihak ketiga yang di prediksi adalah Rawing yang melakukannya. Akhirnya karena tidak mampu mengatasi sendiri, kelompok Uharani akhirnya mengadu pada Ki Rembong tentang perbuatan Rawing yang selalu menghalanginya untuk mendapatkan darah segar dari wanita yang sedang hamil muda.

Disaat yang bersamaan muncullah Rawing yang akhirnya berhasil di ringkus oleh Ki Ageng Rembong. Setelah berhasil menaklukkan Rawing, Ki Rembong menyuruh Uharani untuk menyiapkan upacara pengorbanan. Namun di cegah oleh Uharani, ia memiliki rencana lain. Ia ingin mengundang Kartika yang sedang hamil muda yang sangat mencintai Rawing. Darah Kartika di tukar dengan  Rawing. Sementara itu ayah Kartika datang ke tempat persembunyian Ki Rembong untuk menyusul Kartika. Namun sayang ia malah jadi korban Ki Rembong. Sementara itu Rawing berhasil meloloskan diri. Untuk menghadapi Ki Rembong, Rawing memulihkan tenaganya setelah di temukan oleh Ki Debleng dan istrinya.

Saraswati sendiri akhirnya berhasil di temukan oleh Ki Debleng di tempat Dewi Pengantin. Setelah di beri ramuan dari Dewi Pengantin, Saraswati akhirnya mengikuti Ki Debleng untuk menemui suaminya yang sedang kesulitan. Atas petunjuk Dewi Pengantin, Rawing dan Saraswati akhirnya berhasil menumpas Ki Ageng Rembong, juga Uharani akhirnya tewas.

 


Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

BARRY PRIMA DALAM FILM “TARZAN RAJA RIMBA”

Posted by Toto Andromeda on December 31, 2010

JUDUL FILM        :TARZAN RAJA RIMBA

SUTRADARA       : ACKYL ANWARY

PRODUKSI           : PT KANTA INDAH  FILM

PRODUSER          : HANDI MULJONO

TAHUN PROD    : 1989

JENIS                     : FILM ACTION

PEMAIN               :  BARRY PRIMA, YOSEPH HUNGAN, YURIKE PRASTICA, ZIELA JALIL, JOHARI ZAIN

SINOPSIS :

Adegan dibuka dengan perjalanan seorang karyawan perusahaan penebangan kayu, Kamal dengan anak pemiliknya Karina (Ziela Jalil) ke hutan. Ia melaporkan tentang kecurangan yang terjad di perusahaan pada Karina. Tentang kecurangan yang dilakukan oleh Burhan (Johari Zain) dan Istrinya Gina (Yurike Prastica) diperusahaan. Burhan dan Gina merencanakan untuk selalu mengabarkan kalau perusahaan dalam keadaan rugi pada Karina. Di saat itu ia melihat anak buahnya yang baru pulang dengan berjingkat-jingkat membuat Gina curiga.

Sementara itu di hutan , Tobar (Yoseph Hungan) memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penebangan dengan mengambil lahan yang bukan haknya. Merasa terusik keadaanya, Shambo alias Tarzan terusik dan menyerang para pekerja. Mereka pun terlibat perkelahian. Namun sayang, Tarzan berhasil di usir dengan senapan.

******

Di perusahaan, Burhan dan Gina merencanakan untuk tidak lagi mengirim uang ke pada Karina di Jakarta dengan alasan menderita kerugian, namun disaat bersamaan pembicaraan Burhan dan Gina mengenai kerugian perusahaan yang direncanakannya di dengar oleh Karina. Karina marah pada pamannya, Burhan dan bermaksud mengambil alih perusahaan. Kedatangan Karina yang bersamaan dengan kedatangan Kamal membuat Gina dan Burhan curiga. Malam harinya, Kamal terbunuh atas suruhan Burhan. Namun ketika Karina berniat mengusut kematian Kamal, Burhan datang ke kamar Karina dan mengakui perbuatannya. Burhan juga menodongkan pistol pada Karina untuk menandatangani surat pelepasan hak kepemilikan perusahaannya pada Burhan.

Disaat yang bersamaan datanglah Tobar ke kamar Karina yang ingin menolong Karina yang dalam keadaan ditodong oleh Burhan yang juga merupakan kakak angkat Tobar. Namun Tobar pun tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Karina berhasil menggunakan taktik dan berhasil melarikan diri dari terkaman pistol Burhan. Karina melarikan diri ke hutan. Sementara itu Burhan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Karina. Namun belum lagi bisa menangkap Karina, anak buah Burhan akhirnya terbunuh oleh Tarzan, ketika Tarzan sedang menolong untuk menyelamatkan Karina.

Akhirnya Karina dan Tarzan bersahabat dan menyusun kekuatan untuk merebut kembali perusahaanya. Sedangkan Tobar dibuat kecewa ketika sedang mencari Karina ke hutan, dan mendapati Karina sedang bersama dengan Tarzan, ia pun cemburu.

Konflik di perusahaan penebangan kayu makin menjadi. Tobar dan Gina terlibat perselingkuhan yang akhirnya di ketahui oleh Burhan. Burhan marah besar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Gina justru lebih memilih Tobar. Sedangkan anak buah Burhan berhasil menangkap Karina di hutan. Ia membawa karina ke perusahaan, namun Tarzan selalu mengikutinya. Akhirnya Tobar dan Gina pun mati terbunuh, sedangkan Burhan sendiri tidak terbunuh.

Tarzan pun kembali ke hutan.

*****

Film Tarzan Raja Rimba menyisakan suatu pertanyaan, tentang bagaimana nasib Burhan sebenarnya, apakah ia meminta maaf pada karina atau tidak, Hanya endingnya yang kurang smooth..

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA & ADVENT BANGUN DALAM FILM “PENDEKAR BUKIT TENGKORAK”

Posted by Toto Andromeda on December 20, 2010

JUDUL FILM        : PENDEKAR BUKIT TENGKORAK

SUTRADARA       : PIET BURNAMA

PRODUKSI           : PT KANTA INDAH  FILM

CERITA                  : PIET BURNAMA

PRODUSER          : HANDI MULJONO

TAHUN PROD    : 1987

JENIS                     : FILM SILAT

PEMAIN               :  BARRY PRIMA, ADVENT BANGUN, WENNY ROSALIEN, ENNY CHARLIES, HASAN DOLLAR

SINOPSIS :

Aryo Pethak (Barry Prima) adalah seorang pendekar yang menebar maut dimana-mana bagi para pengikut Bargo Wirogo, pemeras yang juga  menuntut balas pembunuh dari orang tua Aryo Pethak. Aryo Pethak memiliki dendam pada semua keluarga Bargo Wirogo. Namun demikian Aryo Pethak di elu-elukan oleh rakyat yang merasa tertolong.

Sementara itu Macan wulung (Advent Bangun) dalam setiap perjalanannya selalu di bayang-bayangi oleh lelaki tua bernama Menjangan tua (Kresno Basso). Dimana ada Macan Wulung disitu ada Menjangan Tua. Dalam suatu perjalanan Macan Wulung menemukan seorang wanita yang terpanah racun bernama Melati (Wenny Rosalien). Akhirnya ia menolongnya. Dengan bantuan dari Menjangan Tua akhirnya Melati berhasil di sembuhkan oleh Macan Wulung hingga akhirnya keduanya pun berlatih silat.

Aryo Pethak selalu membunuh para korbannya dan meninggalkan cunduk milik Melati. Tujuannya adalah agar Melati mencari dan mengejar Aryo Pethak.  Melati dan Macan Wulung akhirnya bantu membantu untuk mencari Aryo Pethak. Dalam suatu perjalanan Macan Wulung mendapati Aryo Pethak yang akan membunuh korbannya meski ia sudah menyerah. Macan Wulung mencegah tindakan aryo Pethak, maka ia pun marah karena Macan Wulung tidak ada kaitannya dengan aryo pethak. Akhirnya Keduanya bersiap untuk berkelahi, namun disaat bersamaan datanglah Melati yang berhasil melerainya.

Akhirnya Aryo Pethak berhasil menemukan Bargo Wirogo. Aryo menuntut balas atas kematian kedua orangtuanya. Bargo Wirogo berhasil di lumpuhkan oleh Aryo Pethak. Namun sebelum Bargo Wirogo tewas, lagi-lagi Macan Wulung datang mencegahnya, karena tanpa harus menghunjamkan pedangya lagipun, Bargo Wirogo akan mati. Melihat kedatangan Macan Wulung yang selalu turut campur akan perbuatan Aryo Pethak, membuatnya berang. Maka akhirnya Aryo Pethak menantang Macan Wulung untuk bertarung di Bukit Tengkorak .

Pertarungan dua pendekar tersebut berlangsung imbang, meski melati datang untuk melerainya karena ia tidak mau di jadikan bahan pertarungan, namun akhirnya kedua pendekar tersebut melanjutkan perkelahian hingga  akhirnya pertarungan dapat dimenangkan oleh Aryo Pethak.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA & ADVENT BANGUN DALAM FILM ” PENDEKAR KSATRIA”

Posted by Toto Andromeda on November 16, 2010

Pendekar Ksatria

JUDUL FILM        : PENDEKAR KSATRIA

SUTRADARA       : YOPIE BURNAMA

PRODUKSI           : PT. KANTA INDAH  FILM

PRODUSER          : HANDI MULJONO

TAHUN PROD    : 1988

JENIS                     : FILM SILAT

PEMAIN               : BARRY PRIMA, RUDY WAHAB, WENY ROSALIEN, ADVENT BANGUN, YOSEPH HUNGAN, ADE ROSANTY, JIMMY PRAKOSO, DJOKO WAROK

 

SINOPSIS :

Adipati Ardi Soma (Rudy Wahab) mengutus seorang bernama Brangas Waja dari perguruan tapak Sakti untuk mengirimkan surat ke Jayakarta untuk mengadu domba Cirebon dan Mataram dan menyerahkannya pada Wiranegara untuk diserahkan di Jayakarta agar menarik pasukan Wiranegara melawan kompeni. Ini jelas sebuah pengkhianatan. Pembicaraan Arya Ardi Soma di kuping oleh seorang penduduk, maka tak pelak lagi ia harus menemui ajalnya karena pisau yang di gunakan untuk membunuhnya beracun.

Di dalam perjalanan menuju Jayakarta, Brangas Waja bertemu dengan Wirasaba (Barry Prima) dari perguruan Wadas Putih di sebuah warung. Akibat ulah semena-mena Brangas Waja yang membuat pemilik warung ketakutan, maka Wirasaba berusaha membantu pemilik warung dengan memberikan uang yang diberikan oleh Brangas Waja untuk membayar namun tidak bisa di ambil oleh pemilik warung. Akibatnya Brangas Waja menjadi marah dan terjadilah perkelahian dengan Wirasaba. Brangas Waja berhasil di bunuh oleh Wirasaba dan surat yang ada ditangan Brangas Waja berhasil di rebut oleh Wirasaba.

Kejadian ini tentu membuat perguruan Tapak Sakti menjadi marah karena Wirasaba berhasil merebut surat dari tangan Brangas Waja. Ia meminta agar perguruan Wadas Putih bertanggungjawab, saat itulah muncul Wadas Putih (Advent Bangun) guru dari Wirasaba. Ia akhirnya bertanggungjawab atas Wirasaba dan ikut berkomplot dengan Adipati Ardi Soma. Wadas Putih menemui Wirasaba dan meminta agar Wirasaba menyerahkan Surat yang telah dirampas dari Brangas Waja. Wirasaba menolak dan menyerahkan kembali keris sebagai tanda ikatan batin dengan Cempaka(Wenny Rosalien) anak dari Wadas Putih. Wirasaba dianggap telah murtad dari perguruan. Wadas putih marah dan melumpuhkan Wirasaba untuk dapat mengambil surat yang ada ditangannya.  Ia meninggalkan Wirasaba dalam keadaan pingsan. Dalam Pingsannya Ia didatangi oleh Guru dari Wadas Putih dan menerima Pusaka Wadas Putih darinya. Wirasaba di perintahkan untuk menyadarkan Wadas Putih dan bersemedi sampai matahari terbit.

Sementara itu di perguruan Wadas Putih, Cempaka akhirnya berhasil mengetahui  kalau Wirasaba telah mengembalikan lambang dari ikatan batinnya. Cempaka pun berjanji untuk membalaskan sakit hatinya pada Wirasaba. Sementara itu Wadas Putih mengutus Wajib (Yoseph Hungan) dari perguruan Tapak Sakti dengan di kawal seorang murid bernama Cagar dari Wadas Putih untuk membawa Surat menuju Jayakarta. Ia di wanti-wanti untuk berhati-hati ketika berada di daerah Karawang, karena hampir semua pendekar di daerah tersebut memihak Sultan Agung. Ditengah perjalanan Wajib dan Cagar di hadang oleh Cempaka untuk menyerahkan surat tersebut. Namun usaha Cempaka sia-sia. Ia berhasil di lumpuhkan oleh Wajib. Disaat Wajib sedang berusaha untuk memperkosa Cempaka yang sedang pingsan, datanglah Wirasaba yang menggagalkan usahanya. Ia menolong Cempaka, namun sayang sekali Cempaka menolaknya karena masih salah paham.

Sementara itu setelah berkelahi dengan Wirasaba, Wajib melaporkan kelakuan Cempaka yang telah menghadangnya ketika di desa Ciasem dan memutar balikan fakta kalau penduduk di desa Ciasem ikut membantu Cempaka saat menghadang Wajib, dan tidak memberitahukan bahwa Wirasabalah yang mengalahkannya. Cempaka lari dari perguruan dengan dibantu kakaknya Kenanga. Kenanga pun akhirnya mati dari tangan Wadas Putih. Cempaka yang menyaksikan dari persembunyiannya tidak bisa menahan kesedihan. Wadas Putih mensinyalir kalau Cempaka akan pergi kearah barat menuju perguruan Ganda Arum milik pamannya.

Wadas putih yang merasa gerakannya sudah diketahui akhirnya menggunakan siasat untuk menguntit Cempaka yang kearah perguruan Ganda Arum. Ia mengumpankan anak buahnya ke daerah Ciasem dengan berpura-pura sebagai korban yang terkena panah. Namun ketika orang-orang lengah Ia bangun dan balik membunuh orang yang telah menolongnya.  Dalam pertarungan dengan Wajib, Cempaka terkena panah. Situasi demikian dijadikan kesempatan bagi Wajib untuk mengadu domba pendekar dengan Wadas Putih terutama dengan perguruan Ganda Arum, tujuannya agar ia dapat mengambil keuntungan dari peristiwa tersebut. Wajib tidak perlu susah-susah membunuh Wadas Putih. Sementara itu Cempaka yang terkena panah, dengan menaiki kuda menuju perguruan Ganda Arum untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Perbuatan orang-orang Ardi Soma semakin menjadi-jadi dengan membunuhi rakyat yang tidak berdosa. Sedangkan Wajib memiliki kebiasaan baru yakni meminum darah perawan agar ilmunya makin kuat.

Cempaka di temukan oleh Wirasaba ketika hampir pingsan karena panah yang menancap di punggungnya mengandung racun.  Meski pada awalnya menolak pertolongan Wirasaba, namun akhirnya Cempaka luluh setelah Wirasaba menjelaskannya. Karena racunnya sudah menjalar di tubuh, maka Wirasaba membawa Cempaka ke perguruan Ganda Arum. Setelah sembuh dari racun, Cempaka bermaksud membalaskan kematian Kenanga.

Di akhir kisah terjadi pertarungan antara perguruan Wadas Putih dengan perguruan Ganda Arum. Wirasaba yang sedianya akan membunuh Wadas Putih, namun urung berkat Cempaka anaknya. Justru yang membunuh Wadas Putih adalah Wajib orang yang selama ini di percayainya. Wajib berkhianat karena ia mengincar jabatan ketua. Sementara itu Wajib yang telah memiliki ilmu iblis akhirnya berhasil dibunuh oleh Wirasaba setelah mengikuti saran dari Eyang Gurunya.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

BARRY PRIMA DALAM FILM ” MANDALA DARI SUNGAI ULAR”

Posted by Toto Andromeda on November 8, 2010

Barry Prima : Mandala Dari Sungai Ular

JUDUL FILM        : MANDALA DARI SUNGAI ULAR

SUTRADARA       : ACKYL ANWARY

PRODUKSI           : PT. KANTA INDAH  FILM

PRODUSER          : THOMAS SUSANTO

TAHUN PROD    : 1987

JENIS                     : FILM LAGA

PEMAIN               : BARRY PRIMA, ANGEL D MEMAH, ATUT AGUSTINANTO, MUNI CADER, SYAEFUL ANWAR, EDDY GUNAWAN

 

SINOPSIS :

Mandala (Barry Prima) menolong Kupra (Syaeful Anwar) orang yang akan di gantung oleh penduduk karena di tuduh sebagai salah satu dari perampok. Setelah di tolong oleh Mandala, paginya Kupra sudah tidak berada di tempat. Ketika sedang berada di tepi sungai, Mandala ditangkap oleh penduduk setempat untuk di hadapkan pada ketua mereka Adijaya ketua perguruan  Mustika Angin Panas (Muni Cader), karena keadaan desa Pasir Hilir dalam kondisi gawat.

Namun setelah di hadapkan, Bapak Mustika kaget karena orang yang di tangkap adalah Mandala, pendekar rendah hati yang sudah di kenalnya. Mandala di kenalkan dengan penduduk-penduduk setempat termasuk dengan anaknya Wijaya, yang menyimpan rasa tidak sukanya pada Mandala. Ketua Perguruan Mustika Angin Panas menceritakan kejadian akan kedatangan Tiga Kepala Besi yang telah datang ke desa dan menguasainya setelah sebelumnya Adijaya di kalahkannya. Bahkan beberapa murid murtadnya turut bergabung dengan Tiga Kepala Besi. Sebenarnya tiga kepala besi datang untuk mencari Laot Si Tendangan Geledek, namun belum di temukan. Setelah menguasai desa tersebut, Tiga Kepala besi berbuat semena-mena bahkan menjadikan perempuan untuk pelampiasan nafsunya. Wijaya yang merasa tidak suka akan kedatangan Mandala menyuruh ayahnya untuk tidak bercerita padanya, karena dianggap takut. Namun Mandala lebih tertarik untuk mencari orang yang bernama Laot dibanding Tiga Tangan Besi.  Mandala mohon diri pada Adijaya, ketua perguruan Mustika Angin Panas, namun Wijaya merasa tidak suka dan membuntuti Mandala dengan mengatakan sebagai pendekar yang tidak punya nyali.

******

Perguruan Mustika Angin Panas mengutus Bongkeng dan Somad untuk mendatangi markas Tiga Kepala Besi untuk menantangnya. Namun keduanya harus menemui nasib tragis. Sementara itu akhirnya TIga Kepala Besi datang memenuhi tantangan Mustika Angin Panas. Namun sayang perguruan Mustika Angin Panas harus mengalami kekalahan dengan jatuhnya korban termasuk Adijaya. Ketika dalam kondisi terdesak, datanglah Mandala untuk membantunya. Namun sayang sekali Mandala juga tidak kuasa untuk menghadapi Tiga Kepala Besi, hingga akhirnya ia terluka. Sementara itu Wijaya, anak Ketua Perguruan Mustika Angin Panas bermain di air keruh. Meski ia menolong murid-murid yang terluka, ia yang punya ambisi untuk menguasai perguruan hanya berpura-pura menolong termasuk menolong Mandala. Namun sayang sekali, Wijaya justru hanya mengambil Pedang milik Mandala yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan meninggalkannya begitu saja.  Akhirnya Mandala di tolong oleh seorang perempuan bernama Nilasari. Ketika Nilasari  sedang mengambil air di sungai, tiba-tiba Mandala yang telah di tinggalkannya hilang.

Di tempat yang terpisah, Kupra menerima Kitab yang telah dititipkannya pada gurunya KI Abirawa untuk di pelajari. Ketika sedang menerima kitab dari gurunya, datanglah si putih, kuda milik Mandala yang membawa Mandala. Akhirnya Mandala di tolongnya untuk memulihkan kembali tenaganya.

Sementara itu Pedang milik Mandala berhasil di rebut dari tangan Wijaya oleh Maya Saputri (Angel D Memah) yang sedang mencari Mandala orang yang di cintainya. Dalam perjalanan melanjutkan pencarian di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nilasari yang ternyata kedua orang tersebut mencintai orang yang sama.

Di lain tempat, di sebuah puncak bukit, Kupra sedang menyelesaikan kitab peninggalan dari orangtuanya. Ketika telah selesai berlatih, datanglah Mandala. Akhirnya Kupra menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Ia adalah Laot, orang yang sedang di cari oleh Tiga Kepala Besi.

Akhirnya dengan saling membantu Laot dan Mandala menghadapi Tiga Kepala Besi. Pertarungan pun di mulai, Namun akhirnya Tiga Kepala Besi berhasil di lumpuhkan oleh Mandala dengan bantuan Ayu Puspita dan juga Laot.

 

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

BARRY PRIMA DALAM FILM “TARZAN PENUNGGU HARTA KARUN”

Posted by Toto Andromeda on August 24, 2010

JUDUL FILM        : TARZAN PENUNGGU HARTA KARUN

SUTRADARA       : DENY HW, ABNAR ROMLI

PRODUKSI           : PT. KANTA INDAH FILM

PRODUSER          : HANDI MULJONO

TAHUN PROD    : 1990

JENIS                     : FILM SILAT/LAGA

PEMAIN               : BARRY PRIMA, YOSEPH HUNGAN, RUDI WAHAB, WINGKY HARUN, LELY SAGITA, TANASE, MANAN DIPA

SINOPSIS :

Barry Prima adalah actor laga pada jamannya yang sangat terkenal. Membintangi rata-rata film laga membuat Barry Prima tidak hanya di kenal di Indonesia akan tetapi juga luar negeri seperti Malaysia.

Tarzan penunggu Harta Karun adalah film kesekian Barry Prima yang ia bintangi.

Cerita dimulai dengan kedatangan tamu asing ke suku kulitpa yang diketuai oleh Remisa (Manan Dipa) yang bertujuan untuk melihat-lihat daerah tersebut. Namun sebelum mengijinkan tamu yang terdiri dari Bramastya (Rudi Wahab) dan anak buahnya (Yoseph Hungan), terlebih dahulu diadakan adu kekuatan dengan persyaratan jika anak buah Bramastya bisa menang maka diijinkan untuk tinggal di tempat tersebut. Pada akhirnya anak buah Bramastya menang sehingga mereka diijinkan untuk tinggal di tempat tersebut.

Suatu hari anak buah Remisa menemukan batu yang mengandung emas, hal ini diketahui juga oleh Bramastyo, namun untuk melancarkan aksinya ia bermaksud membunuh Remisa yang dianggap sebagai penghalang bagi Bramastyo untuk melancarkan keinginannya. Namun sebelum niatnya terwujud, Bramastyo di kejutkan oleh kemunculan seorang bocah rimba Sambo(Barry Prima) dan membuat marah Bramastyo untuk menangkapnya.

Sementara itu, Bramastyo merasa ada penghalang dari Remisa, akhirnya setelah bekerjasama dengan Prawira (Wingky Harun) anak buah Remisa yang berkhianat akhirnya Remisa berhasil ditangkap oleh Bramastyo dan kawan-kawan, sementara anak buah Remisa di jadikan budak untuk bekerja mendulang emas. Namun istri Remisa, Radita (Lelly Sagita) berhasil menyelamatkan diri bersama Rima.

****

Ketika sedang mandi di sungai, Rima dikejutkan oleh buaya sehingga ia teriak minta tolong. Mendengar teriakan minta tolong, akhirnya Sambo muncul dan menolong Rima yang ternyata sudah dikenalnya ketika RIma sedang mengambil air namun diganggu oleh anak buah Bramastyo. Setelah berhasil menolong Rima, maka ia dan Ibunya menceritakan keadaan di sukunya dimana ayahnya Remisa ikut di tangkap oleh Bramastyo untuk di paksa menjadi penambang emas.  Akhirnya Remisa berhasil di tolong oleh Sambo, namun sayang sekali ia berhasil di tembak oleh anak buah Bramastyo dan juga Radyta istrinya juga ikut mati tertembak.  Sementara itu Prawira yang menuntut janji pada Bramastyo yang akan menempatkan sebagai kepala suku akhirnya juga mati ditembak.

Sementara itu Bramastyo masih penasaran untuk menangkap Sambo, maka d di buatlah rencana untuk menangkap Sambo dengan mengumpankan seorang perempuan yang berteriak minta tolong agar Sambo muncul. Usahanya berhasil dan Sambo terperangkap yang kemudian ditangkap untuk dijadikan budak menambang emas. Sambo alias Tarzan di kerangkeng agar tidak bisa keluar. Didalam kerangkeng ia di adu oleh tetua suku untuk adu kekuatan, hingga akhirnya Sambo mampu membunuhnya.

Akhirnya Sambo berhasil meloloskan diri dari Bramastyo setelah di Bantu oleh monyet-monyet, sahabatnya.  Tak pelak lagi, Bramastyo marah dan menyuruh anak buahnya untuk menangkap kembali Sambo. Namun sayang, anak buah Bramastyo banyak yang mati termasuk Bramastyo Sendiri yang akhirnya mati ditangan Sambo alias Tarzan.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,180 other followers