Movie, Photography and Hobby

Indonesian Old Movie Lovers

SINETRON LEPAS : VONIS KEPAGIAN

Posted by Toto Andromeda on October 16, 2014

Vonis KepagianIDE CERITA           : LINDA SULAIMAN

SKENARIO             : ARSWENDO ATMOWILOTO

MUSIK                     : EMBI C NOOR

SUTRADARA        : DEDDY SETIADI

PEMAIN                 : DEDDY MIZWAR, EENG SAPTAHADI, LINDA SULAIMAN, NIA KURNIA, RIZAL MUHAIMIN

 

SINOPSIS :

Perkosaan yang menimpa Nuraini, seorang gadis SMP membuat gempar sebuah kota kecil. Semua orang terluka, namun tak berdaya. Hanya Bu Asih (Linda Sulaiman) gurunya yang berani berjuang mengungkap kasus tersebut. Ia menempuh bahaya untuk mencari keadilan muridnya.

Dilandasi oleh rasa tanggungjawab dan kasih sayang terhadap muridnya, Bu asih berjuang sendiri. Ia tak hendak mundur walaupun tak seorangpun saksi yang berani muncul apalagi membantu…..

Tokoh misterius (Deddy Mizwar) yang di gambarkan sebagai simbol kekuasaan, menyebabkan orang seperti Bu Asih, Nuraini dan keluarganya hanya bisa berharap suatu saat keadilan dapat ditegakkan tanpa pandang bulu.

Hanya harapan itu yang ia miliki.

 

*************

Sebuah kisah, sinetron lepas yang berhasil meraih penghargaan dalam ajang Festival Sinetron Indonesia tahun 1996 sebagai :

1. Sinetron Terbaik

2. Cerita drama Terbaik

3. Skenario Terbaik

4. Peran Pembantu Pria Terbaik

5. Sinetron Drama Lepas Terbaik

 

Vonis kepagian, mengangkat tema sosial yang banyak terjadi di masyarakat. ketika simbol kekuasaan, jabatan akhirnya harus mengalahkan kebenaran yang nyata. Ketika orang kecil hanya bisa berharap tanpa bisa meraihnya. ##

kalau di rate sinetron ini dapat lima bintang deh…

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

ERWIN GUTAWA & RATNO TIMOER DALAM FILM ” JANGAN KAU TANGISI (SI PINCANG) “

Posted by Toto Andromeda on September 23, 2014

Jangan Kau Tangisi

Jangan Kau Tangisi

JUDUL FILM : JANGAN KAU TANGISI (SI PINCANG)
SUTRADARA : INDRA WIDJAYA
CERITA : INDRA WIDJAYA, RATNO TIMOER
PRODUSER : SAMATHA RATNO TIMOER
TAHUN : 1974
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : ERWIN GUTAWA, NANIEN SUDIAR, RATNO TIMOER, JAJA MIHARJA, RITA ZAHARA, LILIS SURYANI

Erwin Gutawa berperan sebagai Sabar

Erwin Gutawa berperan sebagai Sabar

SINOPSIS :
Adegan di buka dengan Sabar (Erwin Gutawa) seorang anak yang pincang memasuki sebuah bilik dimana ibunya terbaring lemah dan sakit keras. Meski sudah di obati oleh pak Mantri, namun karena sakitnya yang keras, akhirnya Ibunya meninggal. Sabar yang hanya tinggal berdua dengan ibunya tidak tahu lagi harus kemana, karena ayahnya sendiri ia tidak pernah tahu keberadaannya. Dalam kondisi kesedihan karena ditinggal ibunya, Pak Sanusi tetangganya mengajaknya untuk tinggal di rumah Paman Sabar.
Meski pamannya menerima kehadiran Sabar untuk di asuhnya, namun tidak dengan bibinya, istri paman. Ia tidak suka kedatangan Sabar sejak pertama kali datang. Meski sabar memiliki saudara sebaya anak pamannya yang baik, namun bibinya tidak pernah suka kehadiran Sabar. Dalam kondisi fisik yang terbatas karena pincang, seringkali sabar berbuat kesalahan ketika membantu bibinya, hal ini membuat bibinya makin marah dengan Sabar. Kesedihan agaknya terus melanda Sabar yang polos , meski tinggal dirumah pamannya sendiri. Akibatnya karena perlakuan bibinya, Sabar mengambil keputusan untuk pergi dari rumah pamannya.

Akhirnya Ibunya Meninggal dunia

Akhirnya Ibunya Meninggal dunia

Jangan kau tangisi 4
Dalam kondisi kesendirian di kota, Sabar berjalan terlunta-lunta hingga akhirnya di tolong oleh penjual rokok (Jaja Miharja) untuk tinggal bersamanya. Akhirnya tawaran tersebut diterima Sabar dan tinggal bersama Mang Jaja . Dirumah Mang Jaja, Sabar berteman dengan Mimin (Nanien Sudiar) yang juga menyayangi Sabar. Disinilah Sabar merasa memiliki keluarga. Suatu hari Pak Sanusi dari desa menemui sabar yang kini sudah tidak tinggal dirumah pamannya. Pak sanusi menawarkan rumah Sabar agar dijual karena tidak ada yang menempati. Sabarpun setuju, dan uangnya di pakai untuk membeli sepeda.
Dalam pada itu, Sabar berkenalan dengan Yati disebuah taman bersama pengasuhnya (Lilis Suryani). Yati sedang ditinggal pergi oleh Ayahnya (Ratno Timoer) dan Ibunya (Rita Zahara) untuk berobat keluar negeri. Setelah kepulangan dari luar negeri, Ayah Yati kurang menyukai kehadiran Sabar, namun tidak demikian dengan Ibunya, ia menyukai Sabar dan membolehkan Yati bergaul dengannya.

Menjelang ajal

Menjelang ajal

Di pangkuan Ayahnya , sabar akhirnya meninggal dunia

Di pangkuan Ayahnya , sabar akhirnya meninggal dunia

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak, demikianlah Sabar yang selalu dirundung kesedihan. Ia memiliki penyakit parah hingga harus terkapar karena dadanya sakit. Mang Jaja akhirnya menjual sepedanya untuk membeli obat yang sabar butuhkan. Saat sabar dalam kondisi sakit, Yati datang berkunjung kerumahnya bersama ayahnya. Melihat Mang jaja tergopoh-gopoh membawa obat, ayah Yati yang semula menunggu di mobil akhirnya turun dan masuk kerumah dimana Sabar sakit. Akhirnya Ayah Yati tahu kalau Sabar sebenarnya adalah anaknya setelah melihat foto ibu Sabar. Namun sudah terlambat, meski ia meminta maaf karena telah meninggalkannya. Sabar segera di bawa kerumah sakit, namun sayang nyawanya tidak tertolong.

****
Menonton film ini menjadikan kita akan kembali ke kisah silam. Sebuah kisah drama yang memilukan, dari awal hingga akhir film. Dulu nonton film ini pertama kali di putar di Film Cerita Akhir Pekan TVRI, dan waktu itu dibuat sedih dengan film ini. Masih kecil udah kebawa suasana sedih nonton film ini. Hehe… mewek dah dulu…

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

TAMARA ANNYA, YAN BASTIAN DALAM FILM : CINTA ANNISAA

Posted by Toto Andromeda on September 18, 2014

Cinta Annisa

Cinta Annisa

JUDUL FILM : CINTA ANNISAA
SUTRADARA : H USMAN EFFENDY BA
CERITA : H USMAN EFFENDI BA
SKENARIO : H USMAN EFFENDY BA
PRODUSER : HINDARTO GUNAWAN
PRODUKSI : PT. DWITUNGGAL PERKASA FILM
TAHUN PRODUKSI : 1983
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : TAMARA ANYA, TRI WARSONO, YAN BASTIAN, MISYE ARSITA, BENNY RAYNALFI, DASRI YACOB
SINOPSIS :
Adegan di buka dengan lantunan Takbir hari Raya di mesjid. Ratih (Tamara Anya) menjadi pelacur untuk menghidupi kedua adiknya Ratna (Misye Arsita) dan Ratno. Ratih menjadi pelacur di rumah germo Tante Mira. Ratih memiliki pelanggan bernama Gunawan (Yan Bastian). Perkenalan Ratih dan Gunawan adalah ketika Ratih menerima 2 orang pelanggan yang berlaku kasar. Namun akhirnya Ratih ditolong olehnya, dan jadilah Gunawan sebagai pelanggan Ratih yang tetap. Ratih adalah bunga di tempat Tante Mira. Ia menggunakan nama Mawar dan selalu banyak jadi incaran orang.
Suatu malam ketika Ratih sedang menunggu taksi ia di datangi oleh gerombolan pemuda. Salah satunya bernama Paul. Ratih pun mengingat kalau Paul adalah salah satu dari orang yang telah menggunakan jasa Ratih namun tidak mau membayarnya. Paul memaksa Ratih namun ia berontak dan tidak mau mengikutinya. Untuk memaksanya Ratih di gendong oleh Paul, namun saat yang bersamaan datanglah Idrus (Tri Warsono) yang menolong Ratih dari pemuda-pemuda berandal tersebut.
Lepas dari pemuda-pemuda berandal, akhirnya Ratih di ajak Idrus ke warungnya. Idrus adalah penjual sate dengan di bantu oleh Mandra. Sejak perkenalan itu Ratih menjadi pelanggan warung sate tersebut. Sejak saat itupun Ratih dan Idrus menjalin sebuah hubungan. Keduanya saling jatuh cinta. Ketika cinta sedang bersemi, tanpa sengaja Mandra melihat Ratih masuk ke Rumah Tante Mira yang merupakan rumah seorang germo. Mandra mengadukan apa yang dilihatnya pada Idrus. Idrus kaget. Untuk memastikan Idrus menggunakan taktik untuk menjebak Ratih dengan menjadi pelanggan baru yang akan memakai jasanya meski sebenarnya Ratih telah mengundurkan diri dari pelacuran. Namun Ancaman Tante Mira yang meminta agar Ratih membayar hutang-hutangnya yang akhirnya memaksa Ratih untuk mau melayaninya. Betapa kagetnya Idrus. Ia marah ketika bertatap muka pada Ratih dan menanyakan sejak kapan ia menjadi pelacur.
Di waktu yang bersamaan cobaan juga menghampiri Ratih. Adiknya hamil oleh Alfian Gunadi pacarnya. Meski pada awalnya Alfian menolak untuk bertanggung jawab namun akhirnya berkat bantuan Gunawan yang ternyata paman dari Alfian, akhirnya ia mau menikahi Ratna. Bahkan Alfian yang sebelumnya mencibir profesi Ratih akhirnya berbalik kagum setelah diberitahu betapa tanggungjawabnya Ratih pada kedua adiknya.
Di hari pernikahan Ratna, Ratih lebih memilih untuk pulang kampung, daripada menghadiri pernikahan adiknya. Ia tidak ingin kehadirannya mengganggu pernikahan adiknya hanya karena ia seorang pelacur. ingin hidup baru.
Sedangkan Idrus, meski pada awalnya ia marah dengan Ratih namun di hati kecilnya ia mencintai Ratih, maka Idruspun menyusulnya ke kampung. Ia mencari Ratih, namun yang dicari tidak ada, yang ada adalah Annisa, nama asli Ratih. Akhirnya keduanya pun menikah dan dikaruniai anak.
******
Film Cinta Annisa di beberapa bagian di bacakan ayat-ayat al Quran, dan artinya di munculkan di layar.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »

MATHIAS MUTCHUS & IRA WIBOWO DALAM FILM ” BERI AKU WAKTU “

Posted by Toto Andromeda on September 2, 2014

Beri Aku Waktu

Beri Aku Waktu

JUDUL FILM                        : BERI AKU WAKTU

SUTRADARA                       : BUCE MALAWAU

CERITA                                  : BUCE MALAWAU

MUSIK                                  : SUKA HARDJANA

PRODUSER                          : JAJA SUDIAMAN, ALEX TEJA

PRODUKSI                           : PT. PAN ASIATIC FILM, PT ISAE FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1986

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                               : MATHIAS MUTCHUS, IRA WIBOWO, RINA HASHIM, GRACE SIMON, PIET BURNAMA, RONALD KANSIL, MIEKE WIDJAYA, ADI KURDI, DEWANTY BEAUTY, LEROY OSMANI, JOHAN SAIMIMA

SINOPSIS :

Mario (Mathias Mutchus) seorang pemuda yang memiliki darah keras. Setiap kali ada kejadian yang mengusiknya ia akan menggunakan ototnya untuk menyelesaikannya. Suatu hari kakaknya Tos dikeroyok orang di sebuah kampong, tak ayal lagi Mario segera menyambangi orang yang mengeroyok Tos untuk adu Jotos. Namun akhirnya berhasil di lerai oleh seorang nenek tua. Perkelahian adalah jalan yang sering di tempuh oleh Mario. Hal ini pula yang menyebabkan ayahnya Peter (Pietrajaya Burnama) membencinya. Hanya ibunyalah (Rina Hashim) yang selalu membela Mario ketika sedang di marahi oleh ayahnya. Meski demikian, Mario terlalu melindungi adik perempuannya (Dewanty Beauty).

Suatu hari Mario mendapatkan kabar dari temannya kalau adiknya di bawa ke pantai oleh Herman (Leroy Osmani) pacarnya ke pantai sehingga tidak kuliah. Darah muda Mario pun mendidih, ia segera menyusul adiknya ke pantai yang di dapati sedang di cium oleh Herman. Mario naik pitam, hingga mobil Herman di bakar oleh Mario. Herman pun memendam dendam pada Mario. Ujungya Mario di tangkap oleh polisi. Hal ini membuat ayahnya makin membenci Mario. Apalagi Mario harus menebus sejumlah uang untuk mengganti mobil yang telah di bakarnya. Pertengkaran berat pun terjadi antara ayah dan anak hingga Ayah Mario keluar dari rumahnya dan menginap di rumah kakak Mario (Grace Simon). Meski Ibu Mario sudah membujuk Peter untuk memaafkan anaknya namun usahanya sia-sia.

Adalah Susan(Ira Wibowo) seorang penari jawa yang berhasil mencuri perhatian Mario. Sikap Mario mulai berubah untuk Susan. Namun sayan g sekali Susan telah di jodohkan dengan Broto (Johan Saimima) oleh Ibunya (Mieke Wijaya). Dari seorang kawannya Mario tahu kalau Broto sebenarnya sudah beristri, namun Mario urung mengatakan pada Susan setelah susan menentukan pilihannya untuk memilih Broto. Namun belakangan Susan tahu siapa Broto sebenarnya, akhirnya ia kembali pada Mario.

Akibat dendam yang di simpanya, Herman berhasil menemui Mario bersama kawan-kawannya. Mario akhirnya harus terluka setelah di tusuk oleh Herman. Mario di bawa ke rumah sakit hingga kritis. Namun ia masih ingin diberi waktu. Dan disaat itulah Ibu Mario membujuk Peter untuk memaafkan anaknya. Akhirnya Peter memaafkan Mario setelah ia mengetahui anaknya sedang meregang nyawa di rumah sakit.

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

ROY MARTEN DALAM FILM “DEWI MALAM”

Posted by Toto Andromeda on June 6, 2014

Dewi Malam

Dewi Malam

JUDUL FILM : DEWI MALAM
SUTRADARA : EDDY SAJOEDIE
SKENARIO : I GUSTI PUTU GEDE WIDHASMARA
MUSIK : YANUAR ARIFIN
PRODUKSI : PT. PANORAMA FILM
TAHUN PRODUKSI : 1978
JENIS : FILM DRAMA HORROR
PEMAIN : ROY MARTEN, DIANA MANDAGIE, DEBBIE CINTYA DEWI, A HAMID ARIEF, DIANA M, I GUSTI P WEDHASMARA, RODLIAH, LINA BUDIARTI, ANDRIS

Untitled-2 copy
SINOPSIS :
Sekelompok pemuda terdiri dari Ari (Roy Marten), Tommy, Indra dan Oman pergi mengunjungi sebuah desa yang dipimpin oleh Kuwu (A. Hamied Arief) yang memiliki hutan tempat pemuda tersebut ingin berburu. Mereka di tampung di rumah Pak Kuwu. Untuk menyalurkan hobi berburunya, mereka mencari buruan kijang di hutan di desa tersebut. Suara tembakan berkali-kali dilancarkan untuk mendapatkan buruan. Namun suara-suara tembakan dan kedatangan mereka di hutan tersebut telah mengusik seorang nenek tua penghuni rumah tua di hutan tersebut yang memiliki ilmu hitam.
Dalam sebuah perburuan, Ari mengejar Rusa yang di incarnya kesebuah rumah tua. Ari pun masuk ke rumah tua tersebut, namun bukan rusa yang di temukan namun seorang gadis cantik bernama Dewi (Diana Mandagie) yang merupakan jelmaan nenek tua. Ari langsung jatuh cinta dibuatnya setelah melihat paras Dewi.

Untitled-3 copy
Semenjak mengenal Dewi sikap Ari pun berubah terhadap kawan-kawannya, ia menjadi cepat marah dan sering menghilang. Hal ini membuat curiga teman-temannya. Korban pun mulai berjatuhan dari teman-teman Ari yang tewas. Namun berkat kesigapan Pak Kuwu akhirnya Ari dapat di sadarkan dari pengaruh jahat nenek tua tersebut, dan Ari dapat menyaksikan siapa sebenarnya Dewi yang selama ini ia kenal.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

RUDY SALAM DAN NUR AFNI OKTAVIA DALAM FILM ‘ COWOK MASA KINI ‘

Posted by Toto Andromeda on April 30, 2014

Cowok Masa Kini

Cowok Masa Kini

JUDUL FILM : COWOK MASA KINI
SUTRADARA : KOESNO SOEDJARWADI
CERITA : PIETRAJAYA BURNAMA
MUSIK : SOEGIONO
PRODUSER : HERRY TOPAN
PRODUKSI : PT. EXOTICA FILM PRODUCTION
TAHUN PRODUKSI : 1978
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : RUDY SALAM, NURAFNI OCTAVIA, JUNI ARCAN, AMINAH CENDRAKASIH, ADEK IRAWAN, WOLLY SUTINAH, SARI NARULITA, BAGUS SANTOSO ,SIMON CADER, TATIEK TITO, KOESNO SOEDJARWADI
SINOPSIS :
Roy kecil (Bagus Santoso) hidup dan di asuh oleh emaknya , mpok Minah (Aminah Cendrakasih) yang sakit-sakitan. Untuk sementara Roy menggantikan peran emaknya untuk bekerja. Umur mpok Minah tidak lama. Akhirnya Ia meninggalkan Roy untuk selama-lamanya. Sepeninggal emak, Roy hidup bersama Tika (Adek Irawan) yang dipanggilnya mama. Berbekal Kartu nama Roy mencari mama. Kehidupan Roy kecil hingga STM di habiskan di panti asuhan yang di asuh oleh Mama. Selepas STM Roy hidup mandiri, namun sesekali ia masih mengunjungi panti asuhan tempat dimana ia di besarkan hingga kuliah.
******
Roy (Rudy Salam) tumbuh dewasa, urakan, nakal, cakep dan disukai cewek-cewek serta merasa sebagai Cowok Masa Kini. Meski nakal dan urakan, Roy tidak pernah lupa untuk selalu berziarah ke makam Mpok Minah dan selalu mengunjungi panti asuhan dimana ia di besarkan. Roy sering memanfaatkan Roby (Simon Cader) untuk mempergunakan motornya guna menggaet cewek-cewek yang ia buru.
Di panti asuhan Roy mengenal Siska (Nurafni Octavia) seorang penggalang yang mengajarkan pramuka terhadap adik-adik yang ada di panti asuhan. Dengan berbagai cara di gunakan Roy untuk dapat mendekati Siska termasuk dengan menggunakan anak-anak sebagai alasan untuk dapat berkenalan dengan Siska. Cara tersebut berhasil. Roy mampu mendekati dan mencairkan suasana dengan Siska. Keintiman dan keakraban Siska dengan Roy makin bertambah. Roy terkenal urakan, sering berganti-ganti mobil, namun di balik sikapnya yang urakan menyimpan sesuatu yang ia sembunyikan. Siska berusaha mencari tahu siapa sebenarnya Roy, benarkah ia kuliah di UI atau benarkah ia anak seorang pejabat. Namun jawaban yang di cari oleh Siska bukanlah jawaban yang memuaskan, karena Roy bukanlah seorang mahasiswa.
Urakan, itulah satu kata yang justru mencuri perhatian Siska, hingga iapun jatuh hati padanya. Namun sayang sekali keakraban Siska dan Roy tidak direstui oleh ayahnya (Koesno Soedjarwadi). Ayah Siska tidak mau anaknya memiliki hubungan dengan orang yang tidak jelas asal usulnya. Bagi Tika, mama sekaligus ibu asuh panti asuhan Roy memang berandal namun baik, hanya satu kelemahan Roy yaitu mudah tersinggung.
Roy menghilang pasca mendengar tentangan ayah Siska, hingga Siscapun berusaha mencarinya. Diam-diam Roy mengunjungi makam emak. Ia mengadu diatas makam emaknya kalau Roy mendengar selentingan kabar kalau Roy sebenarnya bukan anak emak. Di tempat terpisah Tika menemui mama siska untuk mengantarkan undangan. Disitulah Tika bercerita tentang orangtua Roy yang diasuhnya sejak 11 tahun. Maka terkuaklah orang tua Roy bukanlan emaknya, orangtuanya adalah mama Siska sendiri. Ibu Roy sebenarnya adalah Mama Sisca yang tanpa sengaja membunuh suaminya dan ia di vonis untuk menjalani hukuman selama 3 tahun. Dan selepas dari penjara mama Roy menikah lagi dan memiliki dua orang anak yaitu Siska dan Ratna. Dengan demikian Siska sebenarnya adalah adik Roy.

 

 

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , | Leave a Comment »

NURUL ARIFIN & ADE FAISAL DALAM FILM “CATATAN SI EMON”

Posted by Toto Andromeda on April 2, 2014

 

Film dan Soundtrack Catatan Si Emon

Film dan Soundtrack Catatan Si Emon

JUDUL FILM : CATATAN SI EMON
SUTRADARA : NASRI CHEPPY
CERITA : BUNG ONNY, ZARA ZETIRA
SKENARIO : MARWAN ALKATIRI, NASRI CHEPPY
PRODUSER : JIWAT K
PRODUKSI : PT. BOLA DUNIA FILM
TAHUN PRODUKSI : 1991
JENIS : FILM DRAMA
PEMAIN : NURUL ARIFIN, ADE FAISAL, ADEK IRAWAN, AOM KUSMAN, CONNIE SUTEDJA

SINOPSIS :

Emon, nama ini sangat melekat dengan sebuah nama yang ada di tokoh sandiwara radio dan film Catatan Si Boy. Emon adalah sosok laki-laki kemayu atau lebih saklek dengan kebanci-bancian yang dengan kelucuannya mampu menghidupkan suasana. Kehadiran tokoh Emon menjadi daya tarik tersendiri dari film catatan Si Boy.

Emon (Ade Faisal) tertarik pada model pendatang baru Prilly (Nurul Arifin) dalam sebuah show. Untuk memenuhi keinginannya, Emon bahkan bermaksud merubah penampilannya dari yang kebanci-bancian hingga ingin menjadi lebih jantan dengan berolahraga fitness, angkat berat dan untuk menunjang penampilannya, ia juga ke salon agar terlihat lebih jantan. Gaya Rambutnya juga ikut trend. Ketika sedang menata rambutnya agar lebih keren, tanpa sengaja Prilly juga datang ke salon tersebut yang merupakan langganannya. Disini Emon berkenalan dengan Prilly. Cara berpakaiannya juga di buat lebih jantan dengan jaket kulitnya hingga membuat teman-temannya di buat heran. Hingga akhirnya Emon dapat berdansa dengan Prilly di sebuah klub. Emon semakin suka pada Prilly, namun menurut temannya, Prilly pasti ada maunya. Emonpun berusaha mendekati Prilly.

Perubahan Emon juga dirasakan oleh papinya (Aom Kusman) dan Maminya (Adek Irawan) dirumah karena Emon berlatih tinju segala dirumah. Hingga orangtuanyapun ingin agar Emon dibawa ke psikiater agar lebih percaya diri, namun Emon menegaskan pada papi dan maminya kalau ia mau berubah karena suatu saat emon juga ingin punya pacar, dan ia tidak merasa sakit. Meski di bawa ke dokter psikiater, namun tidak membawa hasil karena Emon memang tidak merasa ada sesuatu yang harus dikeluhkan.

Usaha Emon untuk mendekati Prilly tetap dilakukan dengan datang kerumah Prilly untuk mengajaknya makan, namun sayangnya usahanya belum berhasil karena Prilly beralasan mau latihan. Namun bukannya latihan, Prilly malah menemui pacarnya yang bukan lain adalah ayah dari Emon.
******

Singkat cerita Prilly dan Emon jalan bersama. Emon berusaha untuk tampil jantan dihadapan Prilly, sedangkan Prilly sendiri seolah memanfaatkan Emon. Jalan bersama, di belanjain baju sama Emon, makan bareng merupakan kegiatan Prilly dan Emon sendiri. Akibat dari obsesi Emon untuk mendekati Prilly membuat Emon lupa akan tugasnya sendiri.

Karena cintanya, Emon mengajak Prilly ke rumah untuk di kenalkan pada orangtuanya, disinilah Prilly tahu kalau Emon adalah anak dari pacarnya sendiri, Emon pun akhirnya tahu kalau Prilly pacar papinya meskipun papinya meyakinkan kalau Prilly hanya mau hartanya. Papi emonpun memutuskan hubungannya dengan Prilly dan meminta pada Emon agar tidak memberitahukan pada maminya.
Prilly sadar akan perilakunya dan merenung diri dengan mendekatkan diri padaNya. Akhir kisahnya Emon dan Prilly bisa bersatu kembali.

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

DEWI IRAWAN DAN MARISSA HAQUE DALAM FILM “KEMBANG SEMUSIM”

Posted by Toto Andromeda on February 25, 2014

Kembang Semusim

Kembang Semusim

JUDUL FILM                        : KEMBANG SEMUSIM

SUTRADARA                       : MT RISYAF

CERITA                                  : MT RISYAF

SKENARIO                           : MT RISYAF

MUSIK                                  : KIBOUD MAULANA

PRODUSER                          : SUDARNO

PRODUKSI                           :  PT.  BOLA DUNIA FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1980

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                               : RACHMAT HIDAYAT, DEWI IRAWAN, MARISSA HAQUE, MIEKE WIDJAYA, SIMON CADER, RANO KARNO, MARLIA HARDI, EDDI GOMBLOH

kembang Semusim 1

kembang Semusim 1

SINOPSIS :

Mirna  (Marissa Haque) pergi meninggalkan neneknya (Marlia Hardi) di Sambas, Kalimantan menuju Jakarta untuk menemui ibunya Farida (Mieke Widjaya) setelah 15 tahun tidak bertemu. Sesampai di Jakarta, Mirna kebingungan karena jemputan tidak datang-datang hingga akhirnya di tolong oleh kuli pengangkut barang dan diantar ke alamat Ibunya. Kerinduan Mirna akan ibunya sudah sangat memuncak, namun sayang sekali kehadiran Mirna, anak kandungnya seolah-olah disesali oleh Farida. Mirna menjadi sedih, namun dipendamnya sendiri.

Farida adalah seorang janda yang akhirnya menikah lagi dengan Wijaya (Rachmat Hidayat) yang memiliki dua orang anak Macan(Simon Cader) dan Lidya (Dewi irawan). Kedatangan Mirna dirumah tersebut tidak disukai oleh Lidya, apalagi setelah tahu kalau Mirna menyukai Rusdi (Rano karno) orang yang dicintai Lidya, namun karena cintanya di tolak Rusdi, ahirnya ia di fitnah oleh Lidya dan diusir dari rumah tersebut.

*****

Kembang Semusim

Kembang Semusim

Lidya selalu mengintimidasi Mirna, namun dengan tegar diterima oleh Mirna. Sementara itu Farida mulai bosan dengan keadaan keluarga tersebut yang mulai kacau. Wijaya, seorang pengusaha yang bisnisnya mulai redup, sementara Farida akhirnya bekerja untuk ikut menghidupi keluarga tersebut. Merasa kesal, akhirnya Farida meminta cerai dengan Wijaya agar bisa dekat dengan anaknya, Mirna. Namun akhirnya Wijaya mereview masa lalunya bersama Lidya dan Macan, yang akhirnya bisa diterima oleh mereka, demikian pula Farida akhirnya kembali menerima keluarga tersebut.

Akhirnya kehidupan keluarga tersebut kembali cerah, Lidya dan Macan pun akhirnya menganggap Mirna sebagai adiknya, dan Lidya memberi kejutan kepada Mirna dengan menghadirkan Rusdi dirumah tersebut. Keluarga tersebut akhirnya bahagia.

 

Kembang semusim

Kembang semusim

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

RICO TAMPATY & MARISSA HAQUE DALAM FILM ‘ SERPIHAN MUTIARA RETAK ‘

Posted by Toto Andromeda on November 11, 2013

serpihan Mutiara Retak

serpihan Mutiara Retak

JUDUL FILM                        : SERPIHAN MUTIARA RETAK

SUTRADARA                       : WIM UMBOH

CERITA                                  : NINA PANE

SKENARIO                           : SATMOWI ATMOWILOTO

MUSIK                                  : BILLY J BUDIHARJO

PRODUSER                          : FERRY ANGRIAWAN

PRODUKSI                           :  PT.  VIRGO PUTRA  FILM

TAHUN PRODUKSI           : 1985

JENIS                                     : FILM DRAMA

PEMAIN                               : CHINTAMI ATMANAGARA, MARISSA HAQUE, RICO TAMPATTY, NANI WIJAYA, ZAINAL ABIDIN, ADE IRAWAN, PIET BURNAMA, RIMA MELATI, ANTON INDRACAYA, ABIZAR

SINOPSIS :

Ardiyan atau Iyan (Rico Tampatty) dan Adelia atau Del (Chintami Atmanagara) adalah sepasang kekasih yang tidak direstui oleh orang tua Del. Mama Del, Ny, Hana (Nani Widjaya) dan Ayahnya (Zainal Abidin) tidak setuju akan hubungan Del dan Iyan meski di ketahui kalau Del hamil akibat perbuatan Iyan. Sebagai orang yang bertanggungjawab, Iyan ingin menikahi Del dan menyuruh Ibu (Ade Irawan) dan Ayahnya (Piet Burnama) untuk datang kerumah orang tua Del. Namun mereka di tolak mentah-mentah oleh Mama Del.

Sejak peristiwa tersebut Del di kurung di rumah oleh mamanya dan disuruh untuk melupakan Iyan, meski hal ini sangat berat sekali di lakukan. Dengan berbagai cara Mama Del berusaha memisahkan hubungan Del dan Iyan, termasuk  menahan surat-surat yang di tulis Del untuk Iyan. Meski Iyan berusaha menemui keberadaan Del, namun Mama Del selalu menutupi keberadaannya. Hingga sempat terjadi Iyan ditangkap polisi karena membuat onar di rumah Del akibat kecewa tidak bisa bertemu dengan Del. Sementara itu Ny Hana terus mendoktrin Del kalau Del tidak butuh cinta Iyan tapi butuh dan cinta mama saja. Dalam keadaan hamil, Del mengikuti apa yang dikatakan mamanya.

Sembilan bulan sudah Del hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Arif. Anak tersebut di titipkan kepada seorang perawat (Rima Melati).

****

Iyan tidak pernah tinggal diam untuk mencari tahu keberadaan Del. Dengan dibantu temannya Tiwi (Marissa Haque) akhirnya Iyan berhasil menemukan titik terang dimana Del. Melalui seorang perawat, Iyan berhasil mengambil anaknya untuk di besarkan. Setelah melahirkan Del di suruh melanjutkan kuliah keluar negeri.

Iyan tak kuasa membesarkan anak seorang diri meski dibantu orang tuanya dan sesekali Tiwi turut menjaganya. Akhirnya membuahkan benih cinta diantara mereka dan merekapun menikah. Kehidupan mereka bahagia hingga dikaruniai anak, adik dari Arif.

******

Waktu telah mengubah sikap seseorang, demikian juga Del yang telah kembali dari kuliah di luar negeri dan berubah urakan. Ny. Hana sampai tidak habis pikir. Pada suatu ketika Del bertemu dengan Tiwi. Del pun akhirnya tahu siapa Arif, yang ternyata anaknya. Mengetahui Del telah kembali, Iyan melarang keras Del untuk bertemu dengan Arif, namun sebaliknya, Tiwi member i keleluasaan bagi Del untuk bertemu Arif. Hingga suatu saat Del membawa Arif kerumahnya.

Iyan panik, karena Arif belum dikembalikan oleh Del. Iyanpun mencari kerumahnya, namun ternyata Arif sedang sakit hingga akhirnya meninggal. Del merasa sangat bersalah akan kejadian ini hingga jiwanya terguncang dan harus di rawat di Rumah Sakit Jiwa.

*****

Rate untuk film ini : bagus bagus bagus…..

Posted in Resensi Film 70-90an | Tagged: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

PENGKHIANATAN G 30 S PKI, DALAM BINGKAI SINEMA

Posted by Toto Andromeda on September 30, 2013

G 30 S PKI Belakang48 tahun silam, tepatnya 30 September 1965 peristiwa yang di kenal dengan Gerakan 30 September itupun terjadi. Peristiwa pemberontakan yang di lakukan oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI dengan menculik dan memfitnah adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan perebutan kekuasaan. Versi sejarah yang berkembang, para Jenderal di culik dan dibunuh secara keji oleh PKI. Namun akhir-akhir ini berkembang polemik bahwa dalang dari peristiwa tersebut bukanlah PKI melainkan Soeharto sendiri, Presiden RI yang telah berkuasa selama 32 tahun. Anda percaya itu? Hehe… penulis sendiri sangat tidak mempercayai kalau itu adalah kerjaan Pak Harto. Sama sekali tidak percaya. Tetap percaya bahwa itu adalah kerjaan PKI.

 

Ade Irma Suryani

Ade Irma Suryani

Ingat !!!! Pemberontakan PKI Madiun 1948. Apakah awalnya PKI mengakui? Tidak… namun pada akhirnya terbukti bahwa itu adalah kerjaan PKI. Sama halnya dengan 1965. Hanya PKI yang berani menginjak-injak Al Quran.  Well, daripada berpolemik, kali ini penulis tidak ingin mengomentari sejarah, tapi ingin mengingat kembali peristiwa tersebut dari segi sinematografi. Tentu saja lewat film yang pernah ditayangkan di TVRI selama bertahun-tahun setiap tahunnya. Terlepas dari apapun sejarah dan penyimpangan yang terjadi dalam film tersebut, semua memang ada pro dan kontranya, itu sangat wajar terjadi.

 

Rapat yang dilakukan oleh Untung CS

Rapat yang dilakukan oleh Untung CS

Cakrabirawa

Cakrabirawa

Salah satu anggota Gerwani dengan geram melempar sandal terhadap para korban PKI

Salah satu anggota Gerwani dengan geram melempar sandal terhadap para korban PKI

Pierre Tendean

Pierre Tendean

 

 

 

Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah sebuah karya besar sutradara Arifin C Noor dengan produser G. Dwipayana. Film berdurasi panjang ini dibintangi oleh Amoroso Katamsi sebagai Jenderal Soeharto, dan Tokoh Presiden Soekarno oleh Umar Kayam. Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah merupakan film wajib yang diputar oleh TVRI setiap tanggal 30 september sebelum akhirnya di berhentikan oleh pemerintah melalui menteri Penerangan pada tahun 1998 yang kala itu di jabat oleh Yunus Yosfiah. Banyak yang bilang ini merupakan film propaganda pemerintah dengan mengkultuskan salah satu tokoh di film tersebut, dan banyak sekali adegan-adegan yang konon tidak ada.

 

Namun dari sisi sinematografi menurut penulis, seorang sutradara besar sekaliber Arifin  C Noor pastilah sudah melakukan serangkaian riset demi terwujudnya film ini tidak serta merta hanya mengandalkan satu narasumber saja, sehingga menurut hemat penulis sangat naïf kalau film ini dibuat untuk propaganda pemerintah saja, dalam hal ini adalah figure Pak Harto.

 

Jenazah pahlawan revolusi

Jenazah pahlawan revolusi

Jenderal Suharto dalam pidato saat pengangkatan jenazah dr sumur tua

Jenderal Suharto dalam pidato saat pengangkatan jenazah dr sumur tua

Iring-iringan jenazah pahlawan revolusi yang akan dimakamkan

Iring-iringan jenazah pahlawan revolusi yang akan dimakamkan

 

 

Tidak berlebihan memang kalau kita menilai sebuah film ada beberapa adegan yang tidak sesuai, namun demikian patut diingat bahwa film ini mampu memberikan gambaran tentang sebuah peristiwa kelam bangsa Indonesia yang pernah terjadi.

Berlatar belakang penculikan para jenderal yang di bunuh dengan cara keji dan dibuang ke sumur tua lubang buaya. Diawal film ini dibuka dengan keadaan dan peristiwa yang terjadi di Indonesia, pemberitaan-pemberitaan di Koran tentang sepak terjang dan kekejaman PKI, hingga antrian untuk membeli beras dan minyak tanah oleh rakyat adalah gambaran nyata yang terjadi pada saat itu. Paceklik yang mendera rakyat kecil.  Kemudian juga digambarkan latihan-latihan yang dilakukan sebelum operasi penculikan dilakukan, hingga penculikan satu persatu para anggota ‘dewan jenderal’.

 

Dengan ilustrasi music yang sangat mencekam, penonton mampu dibawa pada suasana tahun 1965 yang cukup mencekam. Adegan yang tidak pernah terlupa adalah adegan dimana anak dari DI Panjaitan yang melumuri mukanya dari darah ayahnya yang ditembak.  Penculikan dewan jenderal yang berujung pada dipaksanya mereka untuk menandatangani sebuah dokumen, dan euphoria para pengikut PKI ketika melihat para jenderal terluka, dan disiksa. Satu adegan kejam adalah ketika di silet. “Darah itu merah jenderal”, merupakan kalimat yang paling diingat.

 

Hingga pada akhirnya para jenderal dibuang kedalam sebuah sumur tua dan akhirnya di ketemukan setelah beberapa hari di kubur. Pengangkatan korban penculikan akibat kebiadaban PKI hingga pada akhirnya pemakaman para jenderal yang mendapat gelar Pahlawan Revolusi. Dengan suara asli Jenderal AH Nasution yang terbata-bata, film ini mampu membuat bulu kuduk berdiri. Melihat film G 30 S PKI adalah tak terlepas dari adegan lambat, adegan berlari para pasukan cakrabirawa yang dibuat melambat dangan iringan musik yang mencekam, adegan disilet, dan juga adengan bernyanyi-nyanyi dari para anggota PKI ditengah penderitaan para Jendral.

 

Terlepas dari apapun kontroversinya, namun film ini patut di jadikan sebagai film documenter, film docudrama yang patut di acungi jempol . Sejarah kelam itu tak akan pernah terlupa. Selamat Hari Kesaktian Pancasila.

Posted in Serba Serbi | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,180 other followers